Siapakah Dia?

22 3 2
                                        

Ketika sang fajar mulai membenamkan wajahnya, nampak siluet seorang gadis yang sedang berjalan di pinggir trotoar dengan riangnya. Physika Findingidamorseayolanda atau kerap disapa dengan nama Pika, dia putri dari seorang ahli ilmu Biologi terkenal bernama Magnus. Ibunya sudah tiada sejak gadis itu berumur 6 tahun karena penyakit jantung bocor yang dideritanya. Kini dia hanya tinggal berdua dengan Ayah tersayangnya.

Langkah demi langkah mulai mengarahkannya menuju ke sebuah pelataran rumah. Rumah sederhana bertingkat dua yang berpondasikan kayu jati coklat, dengan rimbunnya pohon cemara yang tumbuh di sekelilingnya tentu menambah kesan natural bagi siapapun yang ingin bertamu ke rumah tersebut. Dari depan pagar kayu rumahnya, Pika bisa melihat bahwa hingga senja telah menjemput malam begini sang Ayah masih saja sibuk dengan tanaman eksperimennya di samping rumah.

"Ckkk ... Ayahku ini nakal sekali ya!" decaknya sebal sembari memanyunkan ujung bibir tipisnya.

Ia lantas berlari kecil menuju taman yang berada di samping rumah.
"Selamat sore Ayah! Kenapa masih kerja sih? Ini dah mau malem loh. Lanjutin besok aja napa?" tanyanya sewot.

"Eh, ada Pikachunya Ayaahh! Baru pulang kamu?" Sang Ayah justru bertanya balik pada putrinya dan malah sibuk dengan penelitian tanaman barunya.

"Iya dong. Seperti yang Ayah lihat, Pika bahkan masih pake seragam sekolah loh, belum ganti baju. Tadi langsung kesini dulu soalnya," terangnya yang bahkan hanya direspon anggukan kepala saja dari sang Ayah. Itu membuatnya sedikit jengkel, percayalah.

Dengan geram, Pika lalu menarik lengan kanan Ayahnya secara paksa untuk diajaknya masuk ke dalam rumah bersama-sama.

"Ayok masuk! Itunya dilanjut besok aja. Ini dah malem Ayahku zeyengg. Sok ah!" ocehnya sembari berjalan mendorong punggung sang Ayah dari belakang layaknya sedang bermain kereta apian.

Setelah membersihkan diri dari peluh dan penat sejak pagi tadi, Pika pun terlihat menuruni anak tangga dengan rambut yang dikepang dua. Ia pun menuju ke arah dapur, celingukan tidak jelas, bingung mencari-cari sesuatu di dalam lemari dapur.

"Ayaahh!! Ini sayurannya belum ngambil apa? Kok gak ada apapun di lemari. Pika mau masak nih," teriaknya membahana.

"Iya! Ayah lupa ambil, sayang! Tadi buru-buru kamu ajak masuk sih," Sang Ayah pun menyahut dari lantai atas, di dalam kamarnya. Mungkin beliau masih sibuk ganti baju seusai mandi barusan.

"Yaudah, Pika mau ambil di kebun dulu ya?" ujarnya sambil memutar bola matanya malas.

Pika pun mulai melangkahkan kakinya menuju kebun yang ada di belakang rumah. Dengan genggaman senter di tangan kanan dan tampah sayuran di tangan kirinya. Begitu membuka pintu belakang, ia pun langsung disambut oleh hawa dingin yang cukup menusuk tulang. Kebetulan pula saat ini Pika sedang mengenakan pakaian babydoll ungunya yang agak pendek. Itu sangat membuatnya bisa merasakan dengan jelas udara segar pada malam ini.

Cuaca hari ini sepertinya kurang bersahabat. Nampak mendung hitam di langit sebagai penanda akan turunnya hujan yang diperkirakan akan jatuh tengah malam ini. Berbekal senter yang dibawanya, Pika segera berlari menuju kebun.

"Aku harus cepat-cepat mengambil beberapa sayuran sebelum udara dingin ini kian membunuhku di sini. Dan ya! Aku sudah sangat lapar ini," gumam Pika sembari sibuk mengarahkan senternya kesana kemari.

Kini tampah sayuran yang dibawa Pika tadi sudah terisi penuh. Ada berbagai macam sayuran segar seperti : wortel, tomat, bayam, cabai, kentang, dan lainnya yang siap untuk dimasak. Semuanya akan tampak lebih lezat setelah sayurannya matang dengan tambahan bumbu yang siap dihidangkan. Hingga saat ia hendak membawa masuk sayuran-sayuran tersebut ke dalam rumah, Pika merasa ada yang tidak beres. Sepertinya ada yang aneh, firasatnya seolah berkata bahwa seseorang mungkin sekarang sedang mengawasinya dengan mata-mata kasatnya.

Suasana halaman belakang rumah seolah-olah menunjukkan kesan misterinya. Pika mulai mengarahkan senter ke sembarangan arah. Belakang rumah ini memanglah rimbun oleh pepohonan dan semak-semak. Kawasan hutan belantara yang jarang dikunjungi orang. Gelap pekat diselimuti kabut-kabut putih ketika hari mulai larut begini, meski nyatanya ini baru pukul 18:10.

"Halooo! Siapa di sana?" tanyanya setengah berteriak sembari menggembol tampah berisi sayuran. Tak lupa juga ia tetap stay mengarahkan senter ke setiap sisi hutan pada pohon-pohon besar yang menurutnya aneh dan nampak lebih gelap dari lainnya.

"Tidak ada siapa-siapa. Mungkin firasatku salah," batinnya berusaha mengabaikan dan menepis rasa khawatir tersebut.

Ia pun berbalik hendak masuk ke rumah. Baru saja menjejakkan kaki pada ambang pintu, suara krasak-krusuk di semak-semak mulai terdengar tajam di telinganya. Dengan reflek Pika membalikkan badan, tak lupa degup jantungnya yang berdetak tidak teratur seakan melengkapi ketakutannya kini.

Ia terus menatap kearah semak-semak dengan perasaan was-was. Diam dalam ketakutan sembari mengamati keadaan di sekitarnya. Tiba-tiba dari balik pohon besar terdengar suara langkah kaki yang seolah berlari menjauh. Sesegera mungkin Pika langsung mengarahkan senter ke tempat tersebut. Betapa terkejutnya ia ketika siluet yang ditangkapnya dari sorot cahaya senter tersebut ternyata adalah penampakan seseorang yang memiliki telinga lancip yang agak panjang. Wajahnya pun tidak mampu untuk didefinisikan, seperti muka alien mungkin.

Pika terperangah, tidak memercayai apa yang barusan dilihat oleh kedua matanya sendiri. Siapakah makhluk tersebut? Mukanya aneh tidak keruan itu menurutnya.

Ia lantas berteriak histeris memanggil Ayahnya hingga tampah sayuran yang dipegangnya pun jatuh ke tanah.

"Ayaaaah!! Cepat kemari!!"

•~•

BERSAMBUNG

Jangan lupa vote dan komeng yaa. Ini cerita khusus dipersembahkan untuk grup kepenulisan tercinta saya yakni Linus Sastra.

Semoga suka dan jangan pernah bosen ya kalo saya seringnya nulis genre Fantasi dan Minor-Horor di lapak ini, hikhikhik:v

See you next part guys💗
(Yang entah kapan, aku tidak tau pasti😁semoga aku tidak terserang penyakit mager)

Jaga kesehatan ya kalian
#DirumahAja biar ga kena virus corona yang lagi marak-maraknya sepertinya debu-debu cinta yang bertebaran. Eakss😂
Akhir bulan siapkan tabungan ya gess:v

31 Maret 2020

FellaRestu

ONMOGELIJKWhere stories live. Discover now