Hai my new readers:).
Dari pada nganggur di buku, gapapa ya ku publish😂.
By the way, judulnya masih ngacak, soalnya gak bisa nentuin judul sebelum critanya hehe. Dan sewaktu waktu akan di ganti ya..
Jangan lupa vote and comment nya😉😉.
Mohon maaf apabila ada kesamaan nama tokoh, gambar atau apapun👉👈.
Selamat membaca:*
• • •
"Saya abi" sontak seluruh bola matanya menyapu pandangan ke arahnya.
"Apa? Siapa?" teriak salah satu siswa dari bangku paling belakang yang menyerngitkan dahinya.
"Saya ab--"
"Dia abi" potong salah satu siswi lainnya yang duduk kedua dari depan.
• • • *abi phov
"Pagi abi.."
"Selamat pagi abi.."
"Pagi abi ganteng.."
"Haiii abii..!"
"Selamat pagi ganteengg.."
Pagi yang buruk bagiku, baru hari kedua di sekolah saja sudah seperti ini, bagaimana seminggu kedepan? Bisa-bisa telingaku jadi sarang belatung!
"Woi! Mau bareng?" teriak salah seorang siswi yang tidak pernah ku kenali, tunggu! Tapi aku pernah melihatnya! Benar, ia seorang siswi di kelasku kemarin yang memotong bicaraku.
"Diem? Gue gak minta lo diem." aku hanya ber-oh saja kemudian melanjutkan perjalanan menuju kelas yang jaraknya tak jauh dari 20 meter.
"Kenalin, gue mia. Gue mau lo masuk ke genk gue" seketika mataku terpaku pada brosur yang menempel pada mading tak jauh dariku. Aku berniat tuk menghampiri, tanpa memperdulikan sosok manusia berjenis kelamin TEMPE yang berada di sampingku. Aku meninggalkannya.
"Hah? Lo serius? Mau ikutan olimpiade matematika?" tanyanya yang sama sekali tak membuatku menoleh ke arahnya dan tetap fokus pada brosur di depanku. Lagi pula aku tidak pernah mengatakan apa-apa tentang isi brosur itu.
"Olimpiade ini cuma berlaku buat orang yang selalu mendapatkan beasiswa, yaa kayak gue ini. Lebih tepatnya beasiswi, hehehe" lanjutnya, aku tetap fokus pada brosur dan lebih memilih untuk meninggalkannya.
"Dimana-mana manusia yang gak bisa lihat setan. Ini mah manusia yang gak bisa lihat manusia, apa jangan-jangan, lo setan? Ga bisa lihat manus--" aku memberhentikan langkahku yang membuatnya memberhentikan ocehannya pula.
Aku mengambil sebuah permen mint dari kantung bajuku dan memberikan kepadanya.
"Gue itu lagi ngomong! Bukan minta perm--"
"Mulut kamu bau" aku memasukkan permen mint tersebut ke dalam kantung baju mia. Benar itu kah namanya?
Sebenarnya tidak ada masalah apa-apa, apalagi soal mulutnya bau itu sama sekali tidak, hanya saja telingaku risih mendengar terus ocehannya. Lagi-lagi aku meninggalkannya dengan keadaannya yang sepertinya mematung.
• • • *author phov
"Fan, mulut gue masih bau gak?" mia yang tiba-tiba menghampiri fani - teman sebangkunya.
"Hahaha! Mi, sejak kapan lo bau mulut? Yang ada mulut lo tuh slalu bau nasi gorengnya bi ningsih noh!" fani cekikikan.
"Fan! Gue serius ih!" mia menampar tangan fani.
"Iya mi, mulut lo gak pernah bau si!" mia segera memutar topinya ke arah belakang dan mendengus kesal.
"Kenapa sih lo tiba-tiba--"
"Kata abi, mulut gue bau!"
"Ulululu.. So sweet banget sih!!" fani menekan tangan mia, dibalas toyolan kepala oleh mia.
"Bego!" sunggut mia.
"Hehe, tapi so sad juga sih"
"Mia!" ando yang tiba-tiba menghampiri meja mia.
"Mi! Kelompok gue masa kalah sama kelompok abi!"
"Basket?" mia menaikkan sebelah alisnya.
"Yaiyalah! Masa qosidah!"
"Trus?"
"Mi! Please banget, gue bener-bener butuh lo banget mi! Lo kan yang biasanya menangin genk basket kita mi!" ando menarik tangan mia.
"Ih ogah! Lo aja sana sendiri! Mager gue!" Mia membuang mukanya mentah-mentah.
"Ayolah mi,, ntar abis pertandingan, gue traktir lo bakso urat 'ojo lali' sebungkus!"
"Dua bungkus" tawar mia tanpa nada.
"Lima bungkus!!!" mia membulatkan bolamatanya yang mengadah ke ando. "kalau menang tapi" ando menggaruk ubunnya yang tak gatal.
"Lo fikir perut gue mesin giling??!!"
• • • •
"Mia!! Semangaaatt!!"
"Mia..!! Lo pasti menang..!"
"Mia! Inget! bakso urat lima bungkussh!!"
"Mia! Lo pasti bisa ngalahin masdep gue!"
Mia tak menghiraukan ocehan teman-temannya, ia tetap fokus pada basket yang tengah di dribble-nya.
"Abi..!! Kamu pasti bisaa!"
"Abiii! Umi disini mendo'akanmu!!"
"Abi!! Kamu pasti bisa ngalahin si perkedel wortel itu!!"
"Abi!! Inget! Masa depan kita!!"
Siapa lagi kalau bukan para ciwi-ciwi manjah yang amat histeris melihat style abi seperti itu. Berbaju basket, dengan air keringat yang terus menitik dari dahi hingga meleleh ke lehernya lalu jatuh ke bidang dadanya.
Baru saja mia ingin men-shut bolanya ke ring, sudah ditimpal panggilan oleh ando dari sudut lapangan, yang membuatnya tak fokus dan scara tak sengaja bola itu menusuk kepala abi.
"Abi??!!!"
KAMU SEDANG MEMBACA
DAS BLEIBT
Teen FictionBeberapa hal yang sebenarnya tak perlu kau tahu, tapi perlu untuk menghargai. Disaat yang sama, di waktu yang sama. Di detik yang sama pula. Se-alur perasaan, datang. Bersama sekucup luka yang tengah mengumpat. Aku tahu itu. Sebuah pertanda, bahwa k...
