Ketika hati dipaksa untuk merasakan luka. Ketika ketulusan terus diremas dengan kebencian, sayatan perih ditaburi garam. Sekuat apa aku bisa bertahan ? sedang aku hanya wanita dengan cinta tanpa balasan.
***
"Pa,ma aku hanya merebut kekasih dari anak kalian . . !akupun anakmu pa . ." lanjutnya dengan melempar tatapan terluka kepada sepasang paruh baya yang menatapnya datar,tanpa perasaan. Padahal mereka adalah orang tua yang teramat dikasihinya
"kak, aku hanya merebut kekasis dari adikmu . . ! Dan akupun adikmu" dengan suara tercekat dia menambahkan.
Perempuan yang tengah duduk dikursi roda dengan kaki kanan yang dikanan kirinya terdapat besi penyangga dan beberapa terlihat besi tipis menancap pada kulit hingga menembus daging mencoba menguatkan diri dari rasa sakit dikaki dan hatinya. Fiksasi eksternal itu membuat keadaannya terlihat semakin miris,sayang orang orang yang ada dihadapanya tak seorangpun terlihat iba,hanya satu yang terlihat tengah menahan isak tangisnya.
Kini perempuan itu mengalihkan pandangannya pada seorang pria yang menatapnya dingin,tanpa perasaan,tidak sedikitpun terlihat rasa sesal.
"aku hanya merebutmu dari adikku Segara . . !" katanya teramat lirih ,pandangannya menatap nanar pada Pria yang tengah berdiri disisi wanita yang tangannya tengah di genggam begitu erat.
Genangan air dimatanya perlahan luluh,membanjiri wajahnya. Pandanganya mengabur,sekuat tenaga menahan gejolak duka yang tengah menggedor hatinya. Kepala yang sempat menunduk kini menengadah,menatap satu persatu orang yang termatat dia kasihi meskipun telah begitu melukai.
"hanya satu kesalahan,tapi kalian menghukumku teramat sangat . . ." lirihnya namun masih mampu terdengar oleh mereka yang tengah menatapnya.
Dengan sekuat tenaga,Sea Mutiara membawa kursi rodanya mendekat kearah mereka. Dengan perlahan, dia meletakkan dua benda yang sedari tadi ada dipangkuanya. Semua mata mengarah pada apa yang tergeletak di meja. Dua amplop berwarna coklat.
Sekali lagi Sea Mutiara menatap sendu kepada orang orang dihadapannya yang menatapnya tanpa perasaan. Hanya satu disana yang terlihat begitu sedih,Kakak iparnya Adara yang sedari tadi rela mengeluarkan air mata untuknya semakin terisak.
Sayang ,kedudukannya yang hanya sebagai menantu tak cukup memberinya wewenang untuk membela bahkan sekedar berdiri disamping Sea. Sea hanya melemparkan tatapan sendu pada kakak iparnya,dengan senyum segaris yang teramat tipis . Terlihat Adara menahan sesak didadanya melihat keadaan adik iparnya,dan menatap kecewa kepada orang orang disekelilingnya.
"Semoga dengan apa yang terjadi pada saya ,dengan apa yang telah menimpa saya. Itu cukup untuk kalian menghilangkan segala dendam dan kebencian kalian terhadap saya. . Semoga duka luka dan kehilangan yang tengah saya rasakan sepadan dengan luka kalian yang diakibatkan oleh keberadaan saya" katanya tergugu
"kelak jika kita bertemu dengan tidak sengaja,semoga kalian bisa mengabaikan saya dan saya sangat ikhlas jika kalian menanggap saya orang asing dan itu juga adalah harapan saya"
"Mulai hari ini,mungkin pepatah mantan anak akan berlaku disini... Terima kasih ,selama belasan tahun kalian sudi menghabiskan waktu,tenaga dan uang untuk merawat orang seperti saya" terisak, betapa berat Sea mengucapkan kata yang sesungguhnya membuat dunianya hancur.
Dengan hati remuk,dengan tubuh bergetar menahan isakannya agar tidak meraung sea Mutiara menggerakkan kursi roda dengan sekuat tenaga meninggalkan mereka. Keluarga,dan orang orang yang dikasihnya namun teramat membencinya.
***
"Selamat tinggal Sea Mutiara" batin hatinya pedih sembari mengelus nisan didepannya
CZYTASZ
ERASE : Ketika cinta itu luka
RomansKetika hati dipaksa untuk merasakan luka. Ketika ketulusan terus diremas dengan kebencian, sayatan perih ditaburi garam. Sekuat apa aku bisa bertahan ? sedang aku hanya wanita dengan cinta tanpa balasan. *** "Pa,ma aku hanya merebut kekasih dari an...
