Pendakian Malam Jumat Di Gunung Lawu

98 3 0
                                        

          Pada saat itu saya dan teman saya yang bernama Rifai yang tinggal di daerah Ngawi. Ngawi adalah salah satu kecamatan yang berada di Jawa Timur yang lokasinya tidak jauh dari Gunung Lawu. Saya yang berasal dari Jakarta dan Rifai yang asli Ngawi memulai pendakian pada hari Kamis, tepatnya pada tanggal 4 April 2019. Rifai yang sudah terbiasa mendaki Gunung Lawu, karena memang lokasi rumahnya tidak jauh dari Gunung Lawu. Rifai memutuskan untuk memulai pendakian pada pukul 7 pagi Via Candi Ceto. Kami pun berangkat dari Rumah Rifai pukul 6 pagi. Setelah sampainya di basecamp, kami pun langsung mengurus simaksi. Setalah mengurus simaksi, kami berdoa terlebih dahulu sebelum memulai pendakian supaya yang tidak diinginkan tidak terjadi. Karena Gunung Lawu dikenal dengan mistisnya.  Pendakian pun dimulai, karena kami mendaki pada hari weekday, wajar saja jika gunung sepi, tidak seperti weekend Sabtu dan Minggu. Selama pendakian Rifai menceritakan sejarah Gunung Lawu dan termasuk mistisnya. Dari tidak boleh memakai baju hijau dan membuang uang logam di Pasar Dieng dan mengambil batu, menurut kepercayaan orang setempat itu memang berlaku. Bagi kita jika tidak percaya jangan mengganggu kepercayaan orang lain dan juga saling menghargai. Karena sepanjang jalur pendakian, dari basecamp sampai pos 4 saya tidak menemukan pendaki lain, alhasil kami memutuskan untuk mendirikan untuk mendirikan tenda didekat Warung Mbok Yem.

 Karena sepanjang jalur pendakian, dari basecamp sampai pos 4 saya tidak menemukan pendaki lain, alhasil kami memutuskan untuk mendirikan untuk mendirikan tenda didekat Warung Mbok Yem

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

        Akhirnya kami sampai di Warung Mbok Yem jam setengah 3 sore. Kamipun melihat pendaki lain di Warung Mbok Yem yang berjumlah 3 orang. Kamipun saling mengobrol dengan secangkir kopi hangat.

“Masnya hanya berdua?” tanya pendaki lain.

“iyaa,” ucap Rifai.

“Memang Mas start jam berapa dari Basecamp?” tanya Pendaki lain.

“Kami mulai start dari basecamp jam 7, Masnya mau turun atau naik?” ucap Saya.

“Kami ingin turun” ucap pendaki lain sambil menikmati kopinya.

“Selama pendakian, kami belum menemukan pendaki lain kecuali masnya ini,” ucap Saya.

“Ahk, masa iyaa tidak Mas start jam 7 pagi nyampe Warung Mbok Yem jam setengah 3 sore,” ujar pendaki lain saat menikmati Surya perlahan menghilang dan ditemani secangkir kopi hangat.

“Iyaa Mas, sengaja Saya percepat, soalnya summit nya gak terlalu sulit,” ucap Rifai.

Akhirnya malam pun datang, Kami mendirikan tenda yang lokasinya sedikit jauh dari keramaian di Mbok Yem. Rencana kami, pukul 5 pagi akan menuju puncak, karena sudah tidak terlalu jauh dari Mbok Yem untuk menuju puncak, kurang lebih sekitaran 20-30 menit estimasi waktunya. Okeee lah, berarti masih ada waktu banyak untuk Saya dan Rifai sharing. Ouh iyaa, Saya dan Rifai adalah teman yang bertemu di Gunung Merbabu. Kami berdua pun akhirnya berbincang mengenai dunia pekerjaan, pendakian, dan maraknya dunia politik yang saat itu sedang ramai dengan 01 dan 02. Pada pukul 11 malam, kami pun langsung tidur, agar besok tidak kesiangan untuk bangun.

Pada saat kami tidur, tak lama beberapa menit terdengar suara gamelan  yang indah dan syahdu

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Pada saat kami tidur, tak lama beberapa menit terdengar suara gamelan  yang indah dan syahdu. Jelas, suara itu membuat Saya terbangun, namun Rifai masih tertidur lelap. Ahk benar saja, apa yang saya baca-baca dicerita dan mitos Gunung Lawu biasanya pendaki disuguhkan dengan suara gamelan. Saya tetap berfikir positif, mungkin saya hanya halusinasi atau kelelahan saja, karena pendakian kami cukup menguras tenaga. Akhirnya saya pun melanjutkan untuk tidur, selang beberapa menit saya mendengar suara perang (mengadu pedang). Dalam hati Saya berbicara, “Aduhh, ini mah bukan halusinasi lagi.” Akhirnya Saya membangunkan Rifai, siapa tahu saja dia bisa membuat Saya tenang. Akhirnya Rifai pun bangun dan Saya bercerita kalau tadi ada suara gamelan dan ada suara orang yang sedang mengadu pedang. Rifai pun tersenyum dan berkata, “Gapapa, itu jamuan untuk kita, biasanya Saya dan teman Saya seperti ini.” Dalam hati saya, “Dihh, setenang itu menjawabnya.” Yasudahlah, Saya memutuskan untuk kembali tidur. Pada saat jam 3 pagi, Saya mendengar kuda berlari. Saya pun terus beristigfar supaya hati Saya bisa tenang. Perasaan, Saya mendaki dengan baik-baik saja dan sopan. Saya duduk sambil membuka Hp, sialnya si Rifai malah tidur dengan pulas sekali, seolah tidak mendengar apa-apa, yang padahal suara kuda berlari terdengar sangat kencang dan dekat. Saya sambil membuka galeri dan melihat foto-foto yang ada di Hp Saya, Rifai pun terbangun dan dia berkata, “tidur saja Jar gapapa, ga ganggu kok, kita kan sopan, insyaallah gak akan terjadi apa-apa, Cuma waktunya aja yang cocok buat mereka (tuan rumah) untuk berkumpul.” Setelah mengucapkan itu, Rifai langsung kembali tidur. Ouh iyaa, kalo tadi malem adalah malem Jumat, gapapa deh, dan akhirnya Saya kembali tidur. Yang rencana ingin menuju puncak jam 5 pagi, tetapi saya terbangun jam 6 pagi. Karena disuguhkan musik oleh tuan rumah akhirnya kesiangan. Saat keluar tenda ternyata si Rifai sendang masak untuk makan terlebih dahulu sebelum menuju puncak. Setelah makan Saya dan Rifai berangkat menuju puncak. Hanya memakan waktu sekitar 20menit, akhirnya kami sampai dipuncak.

Tidak lama diatas puncak, setelah berfoto dan menikmati pemandangan dari atas puncak kami pun turun

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Tidak lama diatas puncak, setelah berfoto dan menikmati pemandangan dari atas puncak kami pun turun. Alhamdulillah, saat kami turun tidak terjadi kendala sama sekali. Kami turun hanya memakan waktu 3jam untuk sampai ke Basecamp. Setelah sesampainya di Basecamp kami pun langsung pulang ke Rumahnya Rifai.

Ini adalah pengalaman mistis di gunung yang pertama kali saya rasakan.
Semoga kalian terhibur dengan membacanya. Jika ada kesalahan menulis, tolong dimaafkan :).

Misteri diatas GunungStories to obsess over. Discover now