Ibrahim Pranaja.
Hari ini tepat seminggu aku menyandang gelar sebagai istrinya. Kami menikah bukan karena sama-sama mau, sebenarnya. Mas Naja sudah berumur dan entah bagaimana ceritanya, yang jelas pernikahan ini benar-benar terjadi.
Ini ulah Mama juga. Mama tiba-tiba aja nyodorin anak perempuannya ini sebagai calon istri untuk pria patung itu. Hanya karena Mama sering belanja bulanan di toko milik orangtua Mas Naja, aku jadi umpan begini.
"Mas nggak mau sarapan dulu?" aku bertanya padanya.
Mas Naja masih diam, sembari sesekali membenarkan rambutnya yang masih setengah basah. Sumpah, dia ganteng banget. Sayang, muka sama sikapnya nggak selaras.
Meskipun belum ada perasaan yang jadi pondasi utama pernikahan, tapi aku berusaha menjalani peranku sebagai istri sebaik-baiknya. Aku berharap, Mas Naja pelan-pelan bisa nyaman denganku.
Aku sengaja bangun lebih pagi untuk memasak, biar Mas Naja bisa menyempatkan sarapan. Ini pertama kalinya aku memasak sesuatu untuknya. Lagi pula, aku sangat percaya diri kalau masakanku enak.
"Saya sarapan di toko aja."
Aku mengerjap bingung. Dia nggak buta, kan? Dia lihat nggak sih asap mengepul dari sup ayam yang baru saja aku hidangkan?
Aku yang nggak perlu repot?
Hei, harusnya dia yang nggak perlu repot minta makan ke rumah orangtuanya. Yang dipandang jelek itu aku, bukan dia.
Fyi, toko itu gabung dengan rumah mertuaku. Jadi bisa dipastikan Mas Naja sarapan di rumah orangtuanya, bukan sama aku.
"Aku udah masak lho, kenapa juga kamu harus sarapan di sana?" balasku dengan nada kesal.
Aku udah bersedia masak, astaga. Kalau memang tidak menghendaki pernikahan ini, paling tidak hargai usaha aku bangun pagi lah. Lagian ini baru seminggu setelah nikah, kenapa dia harus ngurusin kerjaan toko sih?
Bapak sama Ibu justru nggak nyuruh dia ke toko cepet-cepet.
Dari ekor mataku, Mas Naja masih diam memandangku yang tengah kesal setengah mati.
"Takut nggak keburu."
Aku memutar bola mata dengan kesal. Aku sekarang paham, kenapa pria itu belum juga nikah sampai umur 27 tahun. Udah kaku, ngomongnya irit, gila kerja lagi. Pengantin baru lho ini, bisa dong luangin waktu buat pendekatan?
"Yaudah aku ikut." ucapku kemudian.
Mas Naja tampaknya kaget aku tiba-tiba mau ikut pergi ke toko. "Nggak usah."
"Lho kenapa emang?" balasku sembari meletakkan makanan ke dalam tupperware.
"Kamu mau apa di toko?" Mas Naja balas bertanya padaku.
Aku diam sejenak, "Bantu-bantu mungkin. Toko pasti lagi rame banget."
Mas Naja pun mengalah dan membiarkanku bersiap diri untuk ikut bersamanya pergi ke toko.
-oOo-
"Sini helm-nya," ucap Mas Naja sesaat setelah kami sampai di toko.
Aku mencoba membuka pengait helm, tetapi benda itu justru tersangkut bersama dengan beberapa helai rambutku.
"Susah, Mas."
Mas Naja berjalan mendekat ke arahku, membantuku melepas helm dengan hati-hati.
Dengan jarak sedekat ini, aku bisa mencium aroma tubuhnya yang segar. Sesekali aku mencuri pandang ke arah suamiku. Tak sengaja, detik setelahnya, mata kami bertemu.
YOU ARE READING
My Support System
General FictionGila. Ini beneran gila. Hanya karena aku sering anterin Mama belanja bulanan di toko orangtuanya Mas Naja, bisa-bisanya aku dijodohin sama dia. Bukan, ini nggak sepenuhnya disebut perjodohan. Lebih tepatnya aku disodorin buat jadi istri Mas Naja. ...
