Tangisan masa kecilku

45 6 0
                                        

"Aku menulis isi hatiku"
"Karena tak ada yang mendukungku"
"Aku tidak mau takdir ini"
"Tapi aku tak bisa mengingkarinya"

-Ayu-

Hai, namaku Ayu

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Hai, namaku Ayu. Saat ini aku berusia 22 tahun. Sejak aku menginjak bangku SMP, nenekku suka menceritakan banyak hal tentang masa kecilku. Katanya, dulu gong tetabuhan sebuah pesta rakyat di Bali ikut mengiringi kelahiranku. Ya kata nenekku itu merupakan sebuah anugrah dari Sang Pencipta untukku. Makanya sekarang aku memiliki bakat kesenian yang luar biasa dalam diriku. Sejak umur 3 tahun Ayahku mendaftarkan aku pada sebuah sanggar kesenian yang letaknya tak jauh dari tempat tinggalku. Ayahku adalah pendukung sejati dalam hidupku, segala bakat yang tiba-tiba bisa aku lakukan akan langsung di asah olehnya dengan cara mendaftarkan aku di sanggar kesenian. Kata ayah "Kamu harus punya banyak skill untuk jadi bekal hidupmu, seni itu mahal nak". Memang pada dasarnya aku adalah anak yang penurut, jadi semua yang orang tuaku arahkan, pasti akan aku ikuti.

Sampai pada akhirnya keanehan itu muncul...

Memasuki usia 4 tahun, aku cenderung lebih suka main di kamar sendirian. "Apanya yang aneh sih?" Teriak Ibuku kepada Nenekku yang mulai menyadari perubahanku. "Justru baguskan Ayu mau diam di rumah, jadi kita semua tidak repot mengurusnya." Percaya atau tidak Ibukku itu kurang menyukai anak perempuan, dia lebih suka memanjakan adik laki-lakiku, itulah alasan kenapa aku sangat dekat dengan nenekku. Sejak kecil, nenekku yang mengurusi aku, memberikan seluruh kasih sayangnya padaku, bahkan sampai detik ini. Saat itu rasa penasaran nenekku menuntunnya menemukan jawaban. "Tu, ada yang aneh sama anakmu, masak anak umur 4 tahun bisa menciptakan dunianya sendiri, dengan berkhayal seolah-olah dia sedang bermain dengan manusia, pasti ada seseorang yang sering dia ajak bermain, tetapi, kita tidak bisa melihatnya". Kata nenek pada Ayahku. Pada saat itu Ayahku juga menganggap itu hal yang biasa terjadi pada anak seusiaku.

Kejadian aneh kembali terjadi, ketika hari pertama aku memasuki bangku taman kanak-kanak, aku tidak bisa mengikuti pelajaran dengan tenang. Aku selalu menangis dan berteriak ketakutan "Ada darah, ada darah". Teriakan ku membuat semua orang menjadi takut, sampai akhirnya Ibu Guru berbicara pada orang tuaku dan aku di sarankan untuk istirahat dan pulang ke rumah. Ayahku dengan segera memikirkan untuk membawaku ke tempat orang pintar agar ia bisa segera tau apa sebenarnya yang terjadi pada diriku.

Alangkah terkejutnya Ayah ketika mendengar mata batinku sudah terbuka dengan sendirinya. Tanda-tanda itu di mulai sejak aku berumur 4 tahun. Ayahku mulai cemas dan khawatir akan keadaanku. Aku tidak mau sekolah, aku tidak punya teman, dan aku suka berbicara dengan duniaku sendiri. Akhirnya Ayahku memutuskan untuk menutup mata batinku, dengan harapan aku bisa menjadi seperti anak-anak pada umumnya. Apakah itu berhasil? Ya berhasil, aku dibuatkan banten sesuai dengan yang di arahkan dan aku di upacarai agar bisa kembali menjadi anak yang normal. Seperti magic itu semua merubah hidupku. Aku bisa kembali sekolah, kembali bersikap layaknya anak-anak seusiaku. Semua berjalan begitu cepat dan benar- benar tidak terjadi keanehan apapun.

Sampai akhirnya, tamat dari bangku sekolah dasar aku mengalami kecelakaan.....

*******

Semoga berkesan!!
Jgn lupa baca kelanjutannya ya🥰
Bantu vote untuk support aku ngelanjutin cerita ini,

Salammmm mistis dari Aku
.
.
.
"T H E R A I N"

Sekala NiskalaStories to obsess over. Discover now