Aku tak mengerti apa yang kurasa
Rindu yang tak pernah begitu hebatnya
Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu
Meski kau takkan pernah tahu
Aku persembahkan hidupku untukmu
Telah kurelakan hatiku padamu
Namun kau masih bisu diam seribu bahasa
Dan hati kecilku bicara
Baru kusadari
Cintaku bertepuk sebelah tangan
Kau buat remuk seluruh hatiku
Semoga waktu akan mengilhami
Sisi hatimu yang beku
Semoga akan datang keajaiban
Hingga akhirnya kau pun mau
Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu
Meski kau takkan pernah tahu
// 🥀
Langit mulai meluruhkan gelapnya, menggantinya dengan terang yang benderang.
Bulan dan bintang yang tadinya menjadi pemeran utama, bertukar posisi dengan sang mentari.
Malam berganti menjadi pagi.
Baiklah, seperti hidupku yang masih terus berlanjut pagi ini, perasaanku juga masih berlanjut untukmu, Arkatama.
Namaku Asta Amarilla. Aku adalah murid SMA Cakrawala yang sekarang menduduki kelas 12. Aku punya seorang sahabat laki-laki yang menurutku dia adalah orang yang memberi banyak kesan dalam hidupku.
Arkatama Calictus, itulah namanya. Aku sudah menaruh rasa padanya sejak 2 tahun yang lalu. Entah karena alasan apa rasa itu timbul.
Sepenuhnya, telah kurelakan hatiku padanya. Tapi dia selalu saja bisu, diam seribu bahasa. Andai saja Arka mengerti, bahwa aku mencintainya lebih dari apa yang dia tahu.
*****
Masih pagi begini, aku sudah dihadapkan oleh pasukan rumus. Kalau kalian berpikir aku membenci mereka, berarti kalian salah. Rumus adalah sahabatku selain Arka, itu sebabnya aku begitu menyukai pelajaran matematika. Berbeda dengan Arka, dia selalu saja bermusuhan dengan rumus. Entah apa sebabnya, Arka bilang dia sangat membenci rumus terlebih lagi pelajaran matematika. Lihat saja wajahnya pagi ini, murung. Seperti anak ayam kehilangan induknya, kasihan.
" Asta! sstt Asta! " Arka memanggilku.
Tak habis pikir, Arka mulai menjalankan aksinya. Apalagi kalau bukan mengusikku.
" Apaan si ka, ganggu tau gak! Gue lagi fokus mikir nih "
" Ta, gue nyontek tugas lo dong. Gak ngerti nih gue, susah " pinta Arka dengan wajah minta dikasihani.
" Heh! Enak aja lo nyontek-nyontek. Usaha sendiri dong. "
" Yaelah ta, susah banget nih susah. Makanya ajarin gue dong, AJARIN nih bukan NYONTEK. " ucap Arka penuh penekanan.
" Nanti aja pulang sekolah, kalau sekarang waktunya gak cukup. Sebentar lagi tugasnya harus dikumpulin " kataku.
Meskipun Arka begitu membenci pelajaran matematika, tapi dia selalu punya tekad untuk mempelajarinya. Aneh tapi ada baiknya.
" Oke, janji ya ta pulang sekolah lo harus ajarin gue matematika. Nah berhubung lo ngajarinnya nanti, sekarang gue nyontek dulu ya? Nanti kalau lo udah ajarin, gue gabakal nyontek lagi deh. " ucap Arka dengan penuh semangat.
Rasanya aku senang sekali. Dengan ini, aku punya kesempatan untuk dekat dengan Arka.
" iya bawel. Emang dasar lo ya, hidup kok gak ada usahanya banget "
" hehe.. Asta cantik deh. " puji Arka kepadaku.
Dasar Arka, memuji kalau ada maunya.
Bel yang menandakan usainya kegiatan belajar mengajar telah berbunyi. Itu berarti, para murid diperbolehkan pulang ke rumahnya masing-masing. Tapi, kepulanganku terhambat karena tadi aku sudah janji untuk mengajari Arka pelajaran matematika pulang sekolah ini. Akupun bergegas menemui Arka.
Tiap lorong kelas sudah aku telusuri, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Arka sedikitpun. Lalu aku melihat ke arah lapangan dan ternyata Arka sedang bermain basket disana.
YOU ARE READING
Bermula Lagu jadi Cerita
Short StoryAkan ada banyak lirik lagu yang disulap jadi sebuah cerita disini.
