Prolog

40.3K 2.2K 267
                                    

~selamat membaca~
Prolog

"Bagai seonggok daging tak bernyawa yang membawa penyesalan ke mana-mana

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Bagai seonggok daging tak bernyawa yang membawa penyesalan ke mana-mana. Dengan membiarkannya hidup adalah cara semesta menghukumnya."





Pendar lampu kemuning memantulkan binar mata dengan lengkung tawa yang indah. Terpantul pula kalimat syukur dan semua rasa bahagia di sana. Sungguh perayaan kecil-kecilan ini adalah bentuk bahagia yang paling sederhana. Dia tidak butuh tempat mewah yang didekor sedemikian rupa. Kue ulang tahun yang mahalnya tak terkira. Tidak perlu teman-teman yang diundang untuk menyaksikan tiup lilin dan menyumbangkan lagu selamat ulang tahun serta doa-doa. Dia hanya perlu merayakannya bersama orang-orang yang maknanya lebih dari mewah—keluarga.

"Untuk Adik, panjang umur, jiwa, cinta, dan kebahagiaan," katanya sambil menangkup pipi gembul lalu kecupan sarat akan sayang dilabuhkan di puncak kepala yang dia panggil Adik dengan mesra.

"Terima kasih Kak, aku suka hiasan kuenya."

"Anak Ayah yang cantik ini, akan menjadi gadis kuat yang tidak pernah menyerah pada apa pun."

"Iya dong, Adik adalah superhero yang akan menyelamatkan banyak orang."

"Anak Ibu sayang, tetaplah menjadi manusia baik. Karena yang baik akan mendatangkan yang baik-baik pula."

Percakapan hangat membaur. Lagu selamat ulang tahun panjang umur serta semua doa baik dirapalkan dengan suka-cita. Tepuk tangan, sorak gembira, potong kue seolah mengejek langit yang mengabu sebab akan ada badai yang berseteru. Meski begitu, keluarga kecil ini tak kehilangan momen untuk beradu dalam tawa serta peluk yang padu dengan mengabaikan petir dan hujan yang telah bersatu. Mereka tidak benar-benar kehilangan momen manis itu, tidak sebelum ketukan pintu membelah momen itu menjadi episode paling tragis sepanjang waktu.

Sang ayah berlari untuk mengintip jendela, ia mendapati jantungnya seperti dihantam bola besi ketika melihat siapa di luar sana. Lantas Ia segera berlari, di tengah pelariannya, segerombol pria berbadan bongsor dan perkasa berhasil menerobos masuk, membantai keluarganya hingga cipratan darah menempel di dinding yang tak bersalah.

Tragis.

Gadis kecil dengan topi kerucut di kepalanya bersembunyi. Di balik dinding, semua teriakan, ucapan sarkas, ringisan, bahkan tangisan memenuhi telinganya, semua itu berlomba menjadi palu yang menghantam dadanya. Tiba-tiba semua bunyi menjadi redam. Tak ada yang bisa dia lakukan di saat menyaksikan semua anggota keluarganya disakiti sampai berdarah-darah. Kepalanya penuh sampai sulit untuk berpikir jauh. Dia berlari. Iya, yang bisa dia lakukan adalah menyelamatkan dirinya, sendiri. Dia tidak boleh mati.

Dia terus berlari membelah hujan, berlari yang jauh, jauh sejauh-jauhnya sampai suatu ketika dia merasa tubuhnya dilempar hingga mendarat di tempat yang membuat sakit badannya, penuh luka sekujurnya. Dia merapal dalam hati, apa dosanya? Dia ketakutan kemudian seluruh tubuhnya menggigil. Takut, darah dan hujan membuatnya seperti sakaratul maut. Kepada siapa dia akan meminta bantuan, jika dunia saja sejahat ini padanya. Apa anak sekecil dirinya pantas dihadiahi peristiwa semenakutkan ini? Dia bersumpah saat peluk dan lagu selamat ulang tahun tadi adalah hari terindah sepanjang hidupnya. Tapi dengan sekejap mata semuanya sirna. Tepat di malam pergantian usia. Dalam semalam, hancur dunianya. Tak lagi hancur yang berwujud keping melainkan debu. Entah kapan debu itu menjadi keping lalu utuh? Satu yang pasti, hidupnya akan palsu karena kebahagiaannya sudah runtuh.

Ayah akan menyusul bersama ibu dan kakak adalah kebohongan yang tersaji dan harus gadis kecil itu nikmati sampai mati. Hujan yang paling dia sukai aromanya jadi pemantik untuk mengobarkan segala peristiwa berdarah yang merajang keluarga kecilnya hingga dadanya perih setengah mati. Sekali lagi, apa dosanya sehingga Tuhan menggantikan tiga kado dari ayah, ibu, dan kakak dengan kematian paling menyakitkan yang harus dia rayakan sendirian.

Tanda tanya mengambang di atas kepalanya, "Apakah dia pantas hidup?"

Teganya dia berlari menyelamatkan dirinya sendiri sementara semua anggota keluarganya terjebak dalam kubangan darah sampai mati. Tapi apa yang lebih sadis dari semua ini? Adalah daksa yang tetap ada namun atma rasanya tiada. Bagai seonggok daging tak bernyawa yang membawa penyesalan ke mana-mana. Dengan membiarkannya hidup adalah cara semesta menghukumnya.

Selamat dia ucapkan pada kejutan Tuhan, dia benar-benar terkejut sampai mengutuk, harusnya dia tidak berlari agar mati sehingga tidak perlu melanjutkan kisah hidupnya yang sudah pasti akan terasa pahit.

Petir makin jelas, hujan makin deras. Selamat datang di dunia yang keras. Selamat berjuang untuk tetap waras.

Gadis kecil yang malang.

⚠️ Karya ini dilindungi oleh Undang-Undang No

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

⚠️ Karya ini dilindungi oleh Undang-Undang No.28/2014 tentang Hak Cipta dan Kitab Undang-Undang Hukum Pindana (KUHP) serta hukum yang berlaku di Indonesia.

YuanfenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang