Reply

10 0 0
                                        

Rolling. Action

Musim Semi di Praha, Tahun 1998

Inilah hari pernikahan yang ditunggu-tunggu. Sebuah moment sakral yang sangat mendebarkan bagi para pelaku didalamnya. Saat dua janji terikat, saling melengkapi. Perayaan cinta diatas cinta yang sesungguhnya, dan diantara bunyi lonceng yang berkali-kali menggetarkan hati, aku kembali bertanya-tanya. Benarkah dia jodohku?

Keraguan itu ku hempas dengan berbagai ingatan baik tentangnya selama bersamaku. Penuh kesungguhan, berbulan-bulan aku mempersiapkan sendiri sepasang baju terbaik untuk kami kenakan di hari spesial ini. Gaun pernikahan yang ku rancang dengan memadukan kebaya, bergaya etnis melilit tubuh hingga menjuntai ke tanah, dan pakaian adat sunda untuk pria modern yang sangat pas dikenakan oleh pasangan pengantinku.

"Kalian pasangan pengantin paling cocok hari ini." Ucap Jasmine sembari memeluk erat dan melontarkan pujian pada kami, sanggulan yang dipasangkannya memperindah tampilan seorang Anggia di momen pertama dan terakhir kalinya sebagai pengantin. Adik sepupu Emile Prisse itu membantu langkahku menuju altar. Ia menenangkanku dengan genggamannya yang lembut. Senyumnya juga mirip Emile, ungkapan tulus yang berhasil meneguhkan kembali kepercayaan diriku.

Gugup. Ya aku gugup sekali hari ini, keringat dingin meleleh di pelipis dan tanganku bergetar. Selamat tinggal masa lajang, aku akan menjadi istri dan seorang ibu setelah ini. Semoga semua akan lebih baik setelahnya, seperti layaknya cahaya matahari pagi yang menghangatkan dan memberi secercah harapan bagi setiap hari-hari kelam yang telah terlewati. Doaku, Arunika. Secercah pancaran sinar matahari yang ku lihat dari sosok laki-laki dihadapanku. Suami terkasihku, Emille Prisse. Belahan jiwa yang ku temukan di Kota Praha ini, dan dengan sepenuh hatinya bersedia menikahiku.

Air mata perlahan menetes. Emile menungguku didepan pendeta, kami saling bertatapan. Ia mencium tanganku lembut, dan membantu jalanku melangkah berdiri disampingnya dengan hati-hati.

"Nona Anggia Kinanti, apakah anda bersedia menjadi kekasih hidup, cinta sejati dan istri yang mengabdi kepada kekasih dan belahan jiwa anda, Tuan Emile Prisse untuk selamanya?."

"Ya, aku ber..sedia." Kali ini suaraku bergetar, kami saling bertukar cincin sebagai pertanda ikatan ini telah di sahkan oleh pendeta. Sorak sorai teduh terdengar. Cericit burung di pohon Erk menjadi pertanda semesta memberikan restu.

Aku tak pernah menyangka akhirnya bisa menikah di usia secepat ini. Usia 20 tahun, dan aku telah dititipi janin di perutku. Lelaki di hadapanku ini, aku sepenuhnya mempercayainya, bahwa kelak ia mampu menjadi satu-satunya pelindung yang bisa menerjang badai ombak bersamaku. Dentingan piano yang dipetik oleh Jasmine mengiringi langkah kami yang berjalan bergandengan, di atas hamparan karpet merah yang terbentang hingga ujung Gereja, bunga warna-warni bertaburan merekahkan aroma semerbak. Itulah hari bahagia yang tak akan pernah ku lupakan seumur hidup. Aku memutarkan pandanganku ke arah deretan kursi yang berjejer memanjang, sayangnya momen sakral ini hanya dihadiri beberapa orang saja dari keluarga terdekat dan teman kelas. Kami sepakat melakukan resepsi secara diam-diam dan tentu saja tidak ada satupun dari keluargaku yang hadir. Karena kehamilan sebelum pernikahan ini, harus aku sembunyikan dari mereka, sesama diaspora Indonesia yang ada di Eropa dan keluarga di Indonesia. Ditambah lagi keputusanku untuk mengikuti agama Emile. Akan ada amarah besar, dan kemungkinan kami tidak mendapat izin akan sangat berresiko.

Aku benar-benar mencintai Emile sepenuh hati, sebagai gadis yatim piatu yang menghabiskan waktu di sebuah yayasan panti sejak lahir. Aku bahkan bertaruh untuk menghapus semua jejak masalaluku dan menjalani hidup yang baru bersamanya. Bertahun-tahun aku tumbuh menjadi wanita yang siap menanggung resiko apapun, dan bisa menentukan hidupku sendiri tanpa harus takut dengan kemungkinan terburuk, kecuali ketakutan untuk tidak bisa membahagiakan sepenuhnya mereka yang kini mengasihiku dan aku kasihi.

"Gia, apa kamu bersedih?." Tanya suamiku itu, menyadari raut wajahku yang tiba-tiba berubah muram. Aku menundukkan pandangan, air mata meleleh tanpa meminta restuku lagi.

Laki-laki yang penuh cinta itu menyeka bulir sesak di batinku yang terus saja berguguran.

"Em.. apa kamu tidak menyesali keputusan ini?". Kata-kata itu begitu saja meluncur dari bibirku. Dengan tulus ia menggelengkan kepalanya.

"Never, Gia." Ucapnya singkat, sebuah ciuman hangat mendarat di bibirku. Dekapannya semakin erat dan aku melupakan semua kepedihan itu seketika.

Setelah melemparkan buket bunga, Emile memangku tubuh mungilku menuju Kereta Kuda, dan melangsungkan sesi perfotoan di sekitar gereja.

Tiba-tiba kepalaku terasa berat, rasanya sebulan ini aku terlalu memporsir diriku untuk mempersiapkan semua yang dibutuhkan dalam perayaan ini. Sekalipun Emile banyak membantuku dan meminta untuk tidak melakukan apapun, tapi kebiasaanku yang selalu ingin memastikan semuanya benar-benar berjalan dengan lancar, membuatku ikut turun tangan dalam hal apapun, terutama untuk membuat gaun yang ku kenakan ini, tanpa mengizinkan tangan siapapun menyentuhnya, sebagai designer aku sangat puas karena telah menuntaskan jahitan pertama gaun untuk pernikahan ini dengan hanya menggunakan sentuhan jemariku.

Rasa lelah itu luruh dengan sendirinya, bersama Emile diatas kereta kuda, aku sangat bahagia. Vlatra yang selalu eksotik dan menghipnotis setiap mata, biru langit yang terlukis sempurna, dam bangunan-bangunan kuno yang tampak gagah pada masanya. Setelah berkeliling disana, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak dengan duduk dipinggiran sungai yang membentang luas.

"Em.. aku ingin mengabarimu, tentang hasil USG kemarin." Bisikku padanya. Ia mendekatkan kursinya ke arahku dan menatap bola mataku dalam-dalam. "Sayang, apa kita benar-benar harus mempertahankan kedua bayi ini, bagaimana dengan kondisimu." Pertanyaan yang benar-benar menghujam perasaanku. Aku tak menyangka ia bisa dengan mudahnya mengucapkan kalimat itu, tanpa mempertimbangkan perasaanku yang baru saja dinobatkan sebagai calon ibu.

"Ada dua bayi kembar diperutku sekarang, dan kamu mau membunuh dua malaikat kecil tanpa dosa ini? apa kau gila Emile." Ujarku, sebuah tamparan hampir saja mendarat di pipinya. Emosiku meluap-luap, dan setiap melihat wajahnya, rasa kesal itu semakin menyeruak.

Ia mengelak dan menahan tanganku, "Dengarkan dulu Gia, aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja, Frans pernah bilang soal kehamilan ini...".

"Cukup, jangan dengarkan pendapat apapun dari si bodoh itu. Aku muak." Aku berdiri dari kursi dan bergegas meninggalkan Emile sendirian. Tanpa tahu kemana aku harus menuju, secepat mungkin aku memacu langkahku dan tak lagi memperdulikan panggilannya.

"Nona pengantin, awas didepanmu."

Suara seorang perempuan berteriak mengingatkanku yang tengah berjalan melesat dengan isak tangis.

Braak.

Suara sepeda jatuh terdengar keras dihadapanku, aku terdiam dan langsung membantunya berdiri, dan merapikan petikan bunga yang berserakan terjatuh di tanah. Hampir saja aku tertabrak. Aku merutuki Pria yang baru saja beberapa jam lalu ku pastikan sebagai suami, di tambah lagi aku kesal, karena harus melangkah dengan gaun yang merepotkan.

Aku selamat dari takdir buruk yang bisa menimpaku karena tabrakan keras yang siap menghantam. Namun tidak untuk selanjutnya, saat hendak melangkah ke sisi yang lain, sepatuku menginjak bagian bawah gaun, kakiku tergelincir, pertahananku ambruk, rasanya sakit sekali.

Tanpa ku sadari pelipisku mengucurkan darah, aku berusaha menopang tubuh agar menjaga janinku, tapi kepalaku mengenai tiang yang terpancang tak jauh dari tempatku.

Dari arah berlainan, ku lihat bayangan Emile berlari ke arahku, dan dengan cepat membawaku segera ke mobil. Nafasnya terengah-engah, ia berkali-kali mengucapkan maaf dan menahan darah yang terus saja mengucur menodai gaun. Di dalam mobil, kesadaranku mulai hilang, dunia pun menjadi sunyi dan nampak gelap.

***

ArunikaWhere stories live. Discover now