Si Manis part 1

115 5 0
                                        

Namaku Kevin dan aku salah satu mahasiswa dikotaku. Aku orangnya kutu buku banget, berkacamata ,selalu pegang buku ya bisa dibilang cupu dikalangan mahasiswa. Wajah tak terlalu jelek dan badan kekar karena aku sering ikut olahraga dan sampai sekarang aku menjomblo. Walaupun aku kutu buku tak seorang pun mau membullyku, segitu aja intronya. Suatu malam yg hujan , aku sempat berlari menuju halte yg kosong didekat jembatan. Rumor yg bilang jembatan yg ku singgahi adalah jembatan si manis jembatan Ancol. Aku tak memikirkan hal itu dan ku lanjut membaca hingga hujan reda walaupun masih jam 7 malam sih. Tak lama kemudian hujan pun deras dan tak lama kemudian datang lah seorang gadis ber dress merah ketat dan bersepatu merah dengan kondisi kebasahan akibat hujan. Pikiran pertamaku , dia hanya kupu kupu malam. Tak abis pikir aku memberikannya dan mengalungi jaketku ke badannya dan memberikan handuk kecil. Dia tersenyum dan berterima kasih, ku lihat dia mempunyai wajah yg cantik tapi aku gugup melihatnya. Saat itu jam menunjukkan pukul 8 malam dan hujan mulai sedikit reda. Aku pun berbincang dengannya hal simple.
Aku : maaf ya , aku memberimu handuk dan jaket
Dia : makasih , aku kira kau ingin menggodaku seperti pria mesum pada umumnya.
Aku : aku tak bermaksud begitu tapi jangan samakan semua pria seperti itu.
Dia : tapi asal aku duduk disini , aku selalu digoda bahkan aku hampir dilecehkan. Aku hanya bisa melawan.
Aku : sebaiknya kamu harus lebih berhati hati.
Dia : makasih atas sarannya. Oh ya namaku manis.
Aku : namaku Kevin , aku kuliah disekitar disini tapi sering jalan kaki nyusurin berbagai tempat.
Si manis : apa kamu tidak capek ??. Apa kamu tidak takut ditempat baru ??
Aku : tidak , ngapain takut. Selagi bisa jaga diri gak khawatir.
Si manis : kamu orangnya hebat ya.
Aku : aku tidak hebat, aku hanyalah si kutu buku biasa yg senang bertemu orang baru dan suka mendengar orang yg sedang sedih hatinya
Si manis : *tersenyum , kamu terlalu merendah diri.
Aku : aku tak merendah , itulah diriku.
Si manis : *tersenyum , aku yakin kamu pria yg baik , tentu saja terpancar dari senyumanmu. Dalam pikiran ku semua pria sama saja dalam bejat dan pandai bersilat lidah.
Aku : tak semua pria seperti itu , yg pasti kamu bisa lihat pancaran seperti kamu bilang.

Hujan mula reda dan si manis pun pamit.

Si manis : terima kasih sudah menemaniku di dinginnya gelap malam, selama ini tak ada yg menemaniku.
Aku : tak masalah selagi kamu bisa memahami kondisi manusia sekarang.
Si manis : ya , kamu benar. Aku pamit ya.
Aku : hati hati.

Aku dan si manis berbeda arah pulang, dan saat aku berbalik badan si manis pun sudah tidak ada. Aku hanya bingung dan melanjutkan langkah kaki ku untuk pulang, ya walau hujan sudah berhenti dan aku berhenti sejenak. Aku berhenti karena ada yg memegang tanganku, begitu dingin dan halus. Saat aku berbalik badan , aku tak melihat siapapun.

Saat aku tiba dirumah , perasaanku tidak was was dan takut. Melainkan aku penasaran dengan wanita itu, aku hanya memikirkan nya sejenak. Tapi kuharap bisa berjumpa dan mengobrol dengannya.

Continued.............

Si Manis Where stories live. Discover now