Prolog

0 0 0
                                        

   “AAARRRGGHH” Hyla menjambak rambut pendek hitam bergelombangnya dengan sangat kencang hingga beberapa helaian rambutnya ikut tercabut.
   Akhir-akhir ini hyla sangat stress dan depresi karena pikirannya yang mulai menjadi beban bagi hyla.

   Hyla merangkak ke arah meja riasnya untuk mengambil cutter yang baru di belinya kemarin diam-diam.

   Seperti biasa untuk menenangkan pikirannya dia menyayat tangan mungilnya yang berwarna sawo matang itu. Saat melukai tangannya hyla tidak pernah merasakan sakit sedikit pun, bahkan saat melakukannya pun dia bengong seperti kemasukan sesuatu yang membuat dia tidak merasakan apapun.
   Terlihat ditangan hyla bekas 8 sayatan cutter yang masih banyak mengeluarkan darah segar, Hyla merangkak ke arah cermin dengan darah yang masih berceceran untuk melihat keadaannya yang kacau itu, matanya sembab seperti di cium tawon, hidung nya merah dan hidungnya mengeluarkan ingus sesekali, hyla menarik ingusnya ke dalam hidungnya dan menarik napas panjang.

   Waktu sudah menunjukkan pukul 04:30, terdengar dari luar ada yang mengetuk pintu kamar hyla yang tidak lain dan tidak bukan adalah neneknya
“La bangun la udah jam setengah 5 kamu gak lupa kan kalo sekarang studytour?” ujar sang nenek sambil mengetuk pinta hyla beberapa kali
“Iya nek ini hyla lg beres-beres” kata hyla berbohong
“okee nanti kebawah ya buat sarapan” suruh sang nenek sambil meninggalkan kamar hyla

   Hampir saja hyla lupa jika sekarang dirinya akan melakukan study tour selama seminggu, untung sang nenek mengingatkannya.
   Hyla langsung bergegas untuk membersihkan bercak darah yang ada di lantai yang berwarna merah itu, tisu yang menjadi lap nya pun terbuang lumayan banyak karena darahnya memang berada dimana-mana dan berceceran.

   Setelah bersih hyla langsung pergi mandi dan membersihkan darah yang berada di lengan mungilnya itu, saat terkena air baru terasa bagaimana perihnya lengannya itu, ia meringis kesakitan. Setelah mandi hyla langsung sholat subuh dan mengambil es batu dan es teh yang berada dikulkas dapurnya untuk mengompres matanya yang sangat bengkak dan merah, butuh waktu 30 menit untuk  mengompres matanya agar menjadi lebih mendingan dari pada sebelumnya. Jarum panjang sudah menunjuk ke angka 5, itu artinya hyla harus segera mendandani dirinya jika tidak mau ketinggalan bus.

  Bedak bayi dan liptint merah adalah salah satu kewajibannya agar wajahnya tidak terlihat kumal dan kusam, setelah berdandan lalu ia segera menguncir rambut pendek bergelombangnya itu dengan gaya kuncir kuda. Setelah menguncir rambutnya Hyla langsung menyeret koper yang berisi pakaiannya selama seminggu dan menenteng tas sedang berisi makanan ringan untuk berada diperjalanan di bus nanti.

   Hyla menuruni beberapa anak tangga dirumahnya, ia menghampiri neneknya yang sudah duduk manis di ruang tamu untuk berpamitan.
“sini la rambutnya nenek cepol ya” suruh sang nenek, hyla pun mengangguk dan duduk dilantai.
“eh teteh mau berangkat? Jangan pulang lagi ya teh” ujar vraka adik lelaki hyla yang baru saja bangun dari tidurnya
Karena greget kepada sang adik hyla pun menggetok kepala adiknya menggunakan bogeman tangan hyla yang mungil, adiknya meringis kesakitan karena hyla benar-benar menggetoknya dengan lumayan kencang
“Alah lebay lu” ledek hyla kepada vraka
“Udah udah hyla jangan ribut aja dong udah gede juga” ujar sang nenek
Hyla memajukan bibir pink nya bertanda ia sedikit kesal
“nanti disana kamu jangan sompral, jaga diri, jaga sholat, pokonya hati-hati aja kalo mau kemana-mana baca doa dulu kalo mau pulang atau pergi jangan lupa bilang gini ‘hayuuu urang balikk babadag na lelembutna’” ujar sang nenek, nenek hyla memang masih percaya kepada hal-hal seperti itu maklum lah namanya juga turunan.

   Setelah beres dicepol hyla langsung berpamitan kepada sang nenek dan adiknya vraka. Baru saja sampai diambang pintu hyla sudah dipanggil kembali oleh sang adik
“teh jangan lupa oleh-oleh” teriak sang adik
“iya bawel” jawab hyla sambil membuka gerbang rumahnya
Untuk pergi ke tempat bus nya ngumpul harus menaiki mobil angkot 2 kali, namun karena bawaannya sangat banyak hyla memutuskan untuk memakai go-car saja walaupun biaya lebih mahal tapi itu tidak membuat hyla malu diliatin orang lain.

Halu Where stories live. Discover now