Prologue

259 17 0
                                        

Laki-laki itu berjalan terseok-seok. Ia tidak peduli tubuhnya sudah mulai mati rasa ditengah musim dingin itu. Tangan kirinya terasa membeku, mulutnya tidak berhenti bergetar. Pelipisnya berdarah dan surai putih itu sudah berwarna merah gelap.

Seharusnya dia bisa saja mati sekarang juga. Manusia manapun takkan bisa menghadapi badai salju sedahsyat ini tanpa menggunakan pakaian yang memadai.

Tapi, sebuah nama yang sedari tadi terngiang di kepalanyalah yang membuat dirinya tetap bisa bergerak.

Ia mempercepat langkahnya sembari meludahkan darah.

Kali ini ia bersumpah akan menyelamatkannya, walau harus mati sekalipun.

----

Kyrie menggerek kopernya keluar rumah dengan lesu. Tepat lima menit sebelumnya ia juga ditegur panjang lebar lantaran terlalu lama menatap kamarnya untuk yang terakhir kalinya.

Gadis itu menyapu poninya kebelakang. Ia melihat sang ibu telah berada di dalam mobil. Dagu ibunya terangkat mengisyaratkan Kyrie untuk segera masuk. Ia mengunci pintu rumah lalu menyerahkan kuncinya kepada ibunya. Kemudian ia memasuki mobil setelah meletakkan kopernya di bagasi.

Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang tidak begitu ramai di pusat kota. Mata lesu Kyrie tidak lepas dari pandangannya kearah luar jendela. Kadang-kadang, ia juga menghela napas lelah.

"Ayolah, anakku jangan bersedih." Sang Ibu menatap dari spion depan. "Kamu pasti akan mendapatkan pengalaman baru di sekolah barumu nanti."

Mata Kyrie beralih ke arah spion depan. "Tapi aku tidak bisa lagi bertemu ibu."

Farah terkekeh. "Tentu saja bisa, sayang. Kamu masuk asrama bukan masuk penjara."

Tubuh Kyrie melorot di sandaran jok. Raut wajah kecewanya tidak berubah dari tadi pagi sampai sekarang.

"Masih satu setengah jam lagi. Tidurlah." ujar Farah. "Biasakan dirimu selama sehari ini di asrama. Besok kamu mulai sekolah."

---

"Jadi.. Kyrie," Kepala Sekolah menaikkan kacamatanya. "Selamat datang, semoga kamu betah disini dan menjadi murid berprestasi serta mengharumkan nama sekolah dan membanggakan orang tua."

Pintu ruang Kepala Sekolah dibuka, menampilkan sosok pria bertubuh tinggi, bersurai perak. Ia mengenakan rompi berwarna maroon dan ia memakai arm sling di tangan kanannya yang juga tertutup perban.

"Dia adalah ketua OSIS di sekolah ini, biarkan dia mengantarmu menuju asrama."

Laki-laki itu tersenyum ramah lalu mengulurkan tangan kirinya kearah Farah lalu ke Kyrie. "Namaku Nero, senang bisa bertemu murid baru di awal semester ini."

---

Vote! :*

From That Day ForthWhere stories live. Discover now