01-Dream🎐

634 35 9
                                        


Bulir demi bulir air mulai merembes di pipi Naya. Ia memandang sekeliling. Orang-orang berlalu lalang melewatinya. Naya menangis sendiri hingga beberapa langkah kaki menghampirinya lalu mendekapnya ke dalam pelukan yang hangat.

"Nay lo gapapa?" Tanya Linfa dengan nada suara yang di penuhi kekhawatiran.

Naya menggeleng lalu memeluk Linfa erat menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Linfa. Naya sungguh tidak kuasa menahan gejolak di hatinya. Kenapa terasa sangat perih?.

Disusul oleh Hanzel dan Eca. Dua cewek itu lantas memeluk Naya menyalurkan kehangatan.

Tangis Naya tak kunjung berhenti hingga sebuah pintu terbuka dan menampilkan seorang dokter dengan raut wajah yang kurang enak.

Sontak Naya berlari ke arah dokter itu dengan kesusahan pasalnya ia masih memakai kebaya dan heels yang patah.

"Apa kalian keluarga pasien?" Tanya Dokter itu.

Naya mengangguk antusias sambil menyeka air matanya. Hatinya sedikit merasa tegang karena melihat ekspreksi dokter itu.

Dokter itu menghela. Dan itu membuat Naya semakin tegang. Sebenarnya orang tuanya kenapa?.

"Dok orang tua saya bagaimana?" Tanya Naya karena Dokter itu tak kunjung berbicara.

Dokter itu memegang pundak Naya.

"Maaf..."

DEG..

"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tuhan lebih sayang orang tuamu" Ujar dokter itu lalu meninggalkan Naya.

Naya terdiam di tempat. Air matanya mulai menetes lagi. Pikirannya tiba-tiba blank dan kosong. Badannya terasa lemas. Sendi sendinya terasa tak berdaya. Tadi dia salah dengar kan? Iya mungkin Naya salah dengar.

Dengan langkah yang lunglai Naya membuka pintu itu memastikan kalau yang di katakan Dokter itu tidak benar.

Badan Naya kembali menegang tatkala ia melihat 2 orang suster tengah menutupi 2 orang menggunakan kain yang berlumur darah.

Naya langsung berlari ke arah 2 orang itu lalu membuka kain yang menutupi wajah mereka. Wajah pucat yang di penuhi oleh darah segar.

Naya mengguncang salah satu jasad yang terbujur kaku itu.

"Pah..."

Lalu beralih ke sebelahnya. Ia mengguncang jasad seorang wanita paruh baya yang sama kakunya.

"Mah.."

Naya mulai sesenggukan lalu memeluk jasad ibunya itu.

"Mamaaaah" teriak Naya histeris.

"Ini nggak mungkin kan?"

Naya menangis histeris sambil memeluk mayat kedua orang tuanya.

Ketiga sahabatnya yang tak kuasa ikut menangis. Bahakan Eca sudah memeluk Hanzel. Linfa dengan perasaan yang hancur pun berjalan menghampiri Naya lalu menarik Naya kepelukannya.

Naya menangis layaknya anak kecil. Sangat keras. Dan mungkin sampai terdengar keluar. Siapa yang tidak sedih dan hancur kalau melihat mayat orang tua yang terbujur kaku begini?.

Sekian lama Naya menunggu kepulangan mereka, malah jasad mereka yang Naya lihat seperti ini. Padahal ini adalah hari kelulusannya.

...

Air mata Naya terasa sudah mengering karena terus menerus menangis. Usai pemakaman dan tahlilan Naya masih terdiam dengan pandangan yang kosong. Jiwanya terasa sangat kosong dan hampa sekali.

IneffableWhere stories live. Discover now