Bunyi sirene ambulans menembus sepinya jalan raya, meraung panjang menuju rumah sakit.
Lampu merah dan biru berkelip di balik kaca kendaraan, seakan berpacu dengan waktu yang tak pernah berpihak.
Sesampainya di rumah sakit, pintu ambulans terbuka lebar. Beberapa suster dan dokter segera datang, mendorong brankar dengan gerakan cepat dan sigap.
Tangisan pecah di koridor. Langkah-langkah tergesa dan doa-doa lirih mengikuti ke mana brankar itu dibawa menuju Unit Gawat Darurat.
Di atas brankar terbaring seorang gadis, tubuhnya dipenuhi luka. Wajahnya pucat, napasnya tersengal lemah, seolah hidupnya bergantung pada detik-detik terakhir yang tersisa.
Di belakangnya, dua lelaki kembar berlari dengan wajah penuh ketakutan.
Yang pertama menggenggam sisi brankar, air mata jatuh tanpa bisa ditahan.
“Ku mohon… bertahanlah, Kak. Demi kami…”
suara itu pecah, bergetar, nyaris tenggelam oleh isak tangisnya.namanya Arga.
Di sampingnya, kembarannya berjalan dengan rahang mengeras, tangannya mengepal kuat. Ia tak menangis, namun matanya merah dipenuhi sesuatu yang lebih menyakitkan daripada air mata: penyesalan.
Ia adalah Raka.
Tak ada yang tahu berapa banyak kata kasar yang pernah mereka ucapkan.
Tak ada yang menghitung berapa kali sang kakak memilih diam meski hatinya terluka.
Dan kini, di balik pintu ICU yang perlahan tertutup, mereka hanya bisa menunggu tak berdaya.
Malam itu menjadi saksi bisu.
Tentang seorang kakak yang terlalu lama menahan sakit.
Dan dua adik yang baru menyadari arti kehilangan… saat segalanya hampir terlambat.
YOU ARE READING
ONE MORE CHANGE
Teen FictionSeorang gadis dipaksa tumbuh lebih cepat dari usianya. Setelah kedua orang tuanya meninggal dunia saat menyelamatkannya, ia harus mengurus dua adiknya seorang diri. Seluruh beban hidup jatuh ke pundaknyabiaya sekolah adik-adiknya, kebutuhan sehari-h...
