1. Weird Confession

200 11 2
                                        

"Kencan? Kencan yang bagaimana maksudmu?"

Bomi tidak salah dengar, bukan? mungkin yang diucapkan lelaki di depannya ini bukan kencan, entah apalah itu. Mungkin pun sekarang kata 'kencan' sudah memiliki makna lain, kata-kata trend anak muda zaman sekarang, bisa saja, bukan? atau telinganya sudah tidak berfungsi dengan benar karena terlalu sering berteriak seperti orang kesetanan.

Kencan? Maksudnya pacaran?

Lelaki itu mengangguk, masih dengan ekspresi datar sejak mereka duduk di kafe setengah jam yang lalu. Bibirnya tidak tersenyum, matanya memandang lurus, dan tangan yang terkait satu sama lain. "Berkencan. Pacaran. Date." Jelasnya lagi dengan menekan setiap kata-kata yang baru keluar dari bibirnya. Mengucapkannya dengan jelas.

Dan Bomi menghela nafas keras. Menyandarkan bahunya pada kursi yang ia duduki. Menatap sekitar kafe dengan curiga. Mungkin saja ada kamera tersembunyi yang sedang merekam mereka , jangan-jangan pria di depannya ini tengah mengerjainya, atau prank, ah..., mungkin saja ia dijadikan bahan taruhan seperti di drama-drama picisan? Ia tatap wajah di depannya lagi, mencari secuil dusta di mata yang selalu menatap dingin itu. Namun, nihil. tak terbaca.

"Kau bisa ulangin ucapanmu sebelumnya? Mungkin aku salah dengar." Ucap Bomi, kini mencondongkan tubuhnya dengan wajah yang masih tak percaya.

Lelaki itu akhirnya mendengus geli. "Sagwija, Bomi. Ayo berkencan denganku."

Bomi tertawa. Antara menertawai ekspresi pria di hadapannya ini, dan menertawainya yang kini merasa aneh. Aneh dengan pernyataan paling aneh yang pernah ia terima, dari lelaki paling aneh yang ia ketahui pula. Baiklah, Bomi mengakui dirinya juga perempuan yang aneh, tapi bisakah situasi yang harusnya romantis ini tidak ikutan berubah menjadi aneh sepertinya. Tawa palsunya pun menguap. Ini bukan mimpi 'kan?

"Kau mengenalku?"

"Tentu saja," jawab pria itu cepat. "Yoon Bomi dari fakultas seni dan budaya, jurusan tari. Aku tidak harus menyebutkan hari ulang tahun dan berapa umurmu, bukan?"

Bomi mengangkat tangannya, mengisyaratkan bahwa info itu sudah cukup. Ini akan menjadi lebih aneh lagi jika pria itu menyebutkan hari ulang tahunnya yang ia sendiri kadang lupa..

"Mungkin kau salah orang. Mungkin bukan Bomi, Yoon Bomi. Mungkin saja Yeon Bomi sunbaenim, Jang Bomi, oh ya, mungkin ada anak baru yang juga memiliki marga yang sama denganku. Anak tahun pertama di jurusan kami juga. Mungkin yang kau maksud adalah dia." Bomi berkilah lagi, dengan kata yang diucap cepat. Berlawanan dengan otaknya kini yang berjalan lambat.

"aku tidak salah orang, Yoon Bomi. tidak ada nama lain selain namamu di jurusan kalian, dan tidak ada anak tahun pertama yang bernama Yoon Bomi."

Ah.., benarkah? Bomi tidak tahu itu, dan tidak pernah peduli juga tentang itu.

Ia memijit pelipisnya, menekur meja dengan tatapan bingung. Memastikan realita ini benar-benar terjadi. "Min Yoongi-ssi, kau benar Min Yoongi 'kan?"

Untuk pertama kalinya pria itu tersenyum. Bukan melempar senyuman manis, lebih seperti menertawai ekspresi konyol Bomi. "Ya, tentu saja aku Min Yoongi. Kau kira aku ini siapa?"

Bukan itu maksud Bomi, ya, ia tahu di depannya ini adalah Min Yoongi. Min Yoongi yang terkenal dengan kata-kata tajam pada rap-nya, penggubah lagu yang membuat siapapun tergugah, pianis handal yang membuat siapapun akan meleleh dan lupa dengan dinginnya sang penekan tuts piano. Min Yoongi yang sering dibicarakan seantero kampus dan juga disegani, euh..., bolehkah Bomi mengatakannya ditakuti?

Dan Min Yoongi itu ingin menjadikan ia pacarnya? Siapa yang akan percaya?

"Kau sungguh mengenalku?" Bomi lagi-lagi memastikan, "aku Pabomi! Pa-Bo-Mi. Gadis yang selalu ceroboh, dianggap pelawak dari pada seorang seniman, aku juga tidak pandai dalam hal apapun. Bagaimana bisa kau ingin berkencan denganku?"

Weird Couple | •APINK•Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora