Bukan hal baru lagi kalau mendengar siswa Slytherin bertengkar dengan siswa Gryffindor. Nyaris tiap hari, selalu santer berita terdengar entah si Slytherin yang masuk kelas detensi, atau si Gryffindor yang melakukan sesuatu hingga membuat poin asramanya berkurang.
Slytherin selalu berpikir bahwa ia yang terbaik, sementara Gryffindor memiliki asumsi bahwa Slytherin hanya sekumpulan orang menyebalkan yang senang melihat orang lain menderita. Ah, walau tidak sepenuhnya salah karena memang sebagian besar Slytherin memang begitu.
Hal seperti itu terjadi juga sebaliknya. Gryffindor menganggap apa yang ia lakukan adalah benar dan selalu maju menjadi yang pertama tiap terjadi sesuatu, sementara Slytherin menganggap mereka hanya sekumpulan bocah sok berani. Kalau ini ... tidak benar, sih.
Tapi tidak semua begitu, kok. Gadis Gryffindor bermata cantik ini tidak pernah berpikir sedikitpun seperti itu. Raina, si gadis tahun ke lima yang suka menyendiri, ia gadis Gryffindor yang dimaksud.
Raina berpikir, Gryffindor dan Slytherin tak jauh beda. Mereka sama-sama keras kepala, itu yang membuatnya sulit disatukan. Namun apa bila keduanya bersatu, hal itu dapat membuat mereka semakin kuat.
Saat ini, Raina sedang berada di perpustakaan, membaca buku sejarah Hogwarts. Bisa dibilang, Raina adalah Hermione ke dua. Namun dengan garis bawah, hanya dalam hal membaca buku saja. Selebihnya jelas tidak. Raina adalah Raina, Hermione adalah Hermione.
Entah sudah berapa jam Raina duduk di sini hingga ia merasa punggung dan lehernya pegal. Raina mengembalikan buku dan memutuskan kembali ke asramanya.
Satu hal yang Raina sadari begitu keluar dari perpustakaan adalah hujan turun dengan deras. Raina mendengus kesal. Raina benci hujan.
Tiba-tiba Raina dikejutkan dengan munculnya laki-laki tampan di sampingnya. Ia berjingkat kecil, tak peduli banyak, dan kembali melanjutkan langkahnya. Laki-laki itu mengikuti Raina, berusaha sejajar dengannya. Raina menoleh, menatap laki-laki yang wajahnya dingin itu. Rambutnya pirang, tatapan mata tajam, hidung mancung, dan errr ... bibirnya menggoda -sangat menggoda.
Oh, tidak-tidak. Raina lantas memejamkan mata sembari menggeleng pelan. Apa-apaan yang ia pikirkan tadi?
"Kenapa?" tanya laki-laki itu seraya menatap Raina dengan tatapan aneh.
"Bukan apa-apa, kenapa?" Raina balik bertanya. Mata Raina melirik seragam yang digunakan, ia lalu tersenyum kecil.
Kim Taehyung, Slytherin, batinnya.
"Gak, cuma heran aja sama orang yang benci hujan," jawabnya gambling. "Omong-omong," ia menjulurkan tangannya untuk berkenalan, "Kim Taehyung, panggil aja Kim."
Raina membalas uluran tangan Kim. "Raina."
"Cuma Raina?"
Raina menggeleng lalu berkata, "Jung."
Kim mengangguk paham. Tangannya bersedekap. Kalau boleh jujur, pemandangan ini luar biasa indahnya bagi Raina. Kim sangat tampan, tidak ada yang dapat membantah.
"Nama lo ada unsur hujannya tapi lo malah benci hujan, aneh," kata Kim cuek.
Alis Raina terangkat keduanya, ia melirik. "Dari mana lo tahu gue benci hujan?"
"Dari pertama lihat lo keluar perpustakaan sambil ngedumel kalau hari ini hujan," jawab Kim santai.
Anggukan kepala Raina lakukan sebagai jawaban atas pernyataan Kim barusan. Kim tampaknya siswa baik-baik. Yah, meski wajahnya dingin begitu, Kim adalah orang yang hangat. Setidaknya begitu yang Raina pikirkan atas pertemuan pertama ini.
"Omong-omong, Raina." Kim menahan pergelangan tangan Raina, membuat langkah gadis itu berhenti.
"Ya?"
"Gue bikin lo suka sama hujan, mau?"
∞
