Seperti biasa, kanda selalu memberikan senyuman termanisnya di pagi hari. Walau entah untuk siapa. Tapi... Mata kita bertemu dan saling menyapa.
Waktu terlipat begitu saja entah ini detik keberapa aku tidak melihat rasa manis bahkan batng hidungnya. Ketika aku sedang menulis, derap langkah yang semakin mendekat pun terlihat semakin jelas dan nyata. Sepatu hitam yang khas digunakannya sudah kuhatam ratusan kali bahkan kuhafal pemiliknya jua. Ya, kandalah pemiliknya.
Kanda? Ya kanda! Segera aku atur nafas dan mimik wajah untuk bersikap biasa saja, entah berhasil atau tidak. Kandalah yang melihatnya.
Senyuman kami saling menyapa, mungkin rasa kangenku yng tak bermuara, ah! Sialll pipiku merona dilihatnya. Seling beberapa detik,
"Raya, Kanda mau minta gula ada?. " (oh iya Raya adalah namaku, tepatnya Raya Lesma) tanya Kanda semanis yang dipintanya. Aku pun tersenyum dan memberikannya "nih..." tidak usah tanya bagaimana keadaan jantung dan pipiku, kalian terjemahkan saja kedalam bahasa kalian masing-masing.
Hanya itu pembicaraan kita. Tapi, seolah-olah waktu berhenti memberi waktu untuk kita, khususnya aku menatapnya. Tapi itu pun telah berlalu, Kanda melangkah jauh dan masih kutatp punggungnya yng semakin menjauh, namun sebelum punggung itu ditenggelamkan oleh sinar matahari di depan ruang, tiba-tiba Kanda berhenti, ternyata...
Tujuan kanda minta gula padaku adalah untuk terlihat manis di depan Putri, dihadapan pujaannya.
Lalu aku? K e c e w a.
Setelah menyaksikan semua itu, masih adakah ruang untuk aku menetap atau sesekali singgah atau hanya menyapa?
Dan patah hati pun, dimulai.
YOU ARE READING
K A N D A
General FictionAda seorang pemerhati hati yang sempat singgah di rumah Kanda, ingin pamit tapi hati berkata 'tidak'. Namun lambat laun kisah mulai tak berpihak pada si pemerhati. akankah si pemerhati tetap menjadi pemerhati hati di rumah Kanda dengan hati-hati at...
