Arda Ratu

17 1 0
                                        

Penilaian manusia seringkali membuat kita lupa akan penilaian dari-Nya. Dimana penilaian-Nya akan sangat kita butuhkan di hari akhir nanti. Lalu kenapa masih memilih mendengar penilaian mereka yang tak paham akan dirimu ? Hm, mungkin kamu perlu dirukyah!
.

.

.

~Arda Ratu~
.

.

.


🌸🌼

Mungkin banyak yang berpikir kehidupanku indah bagaikan putri dari Kerajaan ternama. Namun seringkali mereka tidak berpikir dari sudut pandang yang berbeda. Dari latar belakang mungkin? Penampilan ? gaya bicara ? sampai cara berjalan ?

Seringkali mereka menilai dari sudut pandang yang berbeda, seperti kepintaran ? Atau bisa kusebut kecerdasan ? Aku benci mengakuinya! Tapi sebagian besar dari mereka menilai diriku dari hal yang mereka kejar mati-matian. Hmm mati-matian ? Tentu saja aku sebut mati-matian  karena demi mendapatkan yang namanya nilai atau bisa kusebut angka ? Mereka mengeluarkan biaya berpuluh juta atau ratusan ? Demi mendapatkan cara berpikir cepat untuk menyelesaikan soal ?  Bukankah itu terlalu klise ? Penelitian juga sudah mengungkapkan bahwa hal itu akan berpengaruh pada cara berpikir pelajar ! Pemikiran pelajar seharusnya dibuat agar bisa berpikir sistematis bukannya praktis ! Cih, ironis !

Bagaimana bisa mereka tetap mau mengeluarkan budget untuk hal merugikan seperti itu ? Itu karena mereka tidak memiliki kelebihan yang diberikan oleh-Nya padaku. Iya ! Aku seorang siswi yang memiliki kecerdasan diatas  rata-rata. Oleh karena itu mereka memuji berlebihan. Padahal mereka bisa mendapatkan hal itu dengan meminta langsung pada-Nya. Pernah dengar "kerja keras tak menghianati hasil" ? Percayalah itu bukan sekedar kata-kata, kalian bisa buktikan sendiri.

Cobalah bekerja keras dan berdoa istilah kerennya IT ( Ikhtiar Tawakkal ) insyaAllah apa yang diinginkan akan terkabul. Karena akupun memegang prinsip itu. Sehingga kecerdasan ini tetap melekat. Dan mereka yang aku maksud adalah teman-teman SMA. SMA ? Iya ! Walapun aku tergolong spesies yang tumbuh kesamping tapi aku sudah berumur 16 tahun. Jadi aku berharap tidak ada lagi yang menebak umur seseorang dari tingginya, itu menyebalkan.                   

Walaupun begitu aku tetap bangga menjadi orang kurang tinggi. Karena aku sangat yakin pasti masih ada yang menginginkan tinggi tubuh seperti itu. Bukan begitu ? Yang tinggi ingin pendek dan sebaliknya. Begitulah manusia dengan kadar ketidakpuasan yang dimilikinya. Bahkan Baginda Nabi saja sudah memberitahu bahwa "manusia tidak akan pernah puas dengan apa yang dimilikinya, jika dia mempunyai harta sebanyak gunung niscaya dia akan meminta satu gunung lagi". Tapi banyak dari kita yang masih saja merasa tidak puas dengan pemberian-Nya. Contoh kecilnya aku. Iya.. aku kadang berpikir kenapa aku tidak tinggi ? Dasar aku ! Jadi  Salahkah aku jika merasa kesal ketika dinilai dari sudut pandang itu ? Tentu saja salah ! Tapi inilah aku , yang menginginkan penilaian dari sudut pandang yang lain, aku hanya ingin mereka menilai dari sudut pandang yang lain. Itu saja. Tentu. Karena dinilai dari apa yang sudah kamu usahakan lebih hebat kedengarannya, daripada dinilai dari Anugerah yang diberikan-Nya kepadaku.   
             

Tapi, dibalik itu semua Aku tetap bersyukur atas kelebihan yang telah dianugerahkan kepadaku. Karena dengan hal ini setidaknya aku mampu membuat Abah dan Umi bangga terhadapku. Aku bersyukur dengan bekal kecerdasan ini semoga aku dapat membahagiakan mereka dan bermanfaat bagi sesama.

Aamiin.

.

.

.

.

.

.

.

Arda Ratu, November 2019
                 

Arda RatuStories to obsess over. Discover now