●●
Hidup ini sangat aneh, menyakitkan dan tidak adil. Terkadang seseorang menginginkan tak pernah tahu dan tidak ingin tahu bagaimana perjalanan hidup ini. Tak satupun manusia menginginkan terlahir berbeda dari orang normal biasanya. Menjalani hidup sehari-hari dengan canda tawa, bertegur sapa dan saling mengasihi meski tak punya hubungan keluarga. Hidup tanpa rasa takut, tanpa bullyan, dan kesepian yang menyakitkan.
Waktu itu dia, Chaeng Wardhana hanyalah seorang anak kecil yang masih asyik-asyiknya dan ingin-inginnya bermain bersama teman-teman disekolah dan sekitar apartement tempat tinggalnya. Dia hanya ingin berbicara dengan mereka, bermain seluncuran sambil menikmati es krim dan lolipop nikmat setelahnya. Tapi tak satupun yang mengajaknya, mereka selalu mengatakan Chaeng ini anak yang aneh entah datang dari mana, fisiknya juga sangat berbeda dengan anak-anak lainnya.
.
.
.
Pulang sekolah tak sah jika air mata Chaeng tak membasahi dasi yang ia pakai, ejekan teman-teman tentangnya sebagai mata hantu, rambut mak lampir sudah menjadi jamahannya setiap hari. Chaeng memang berbeda dengan mereka karena dia terlahir dari rahim seorang ibu keturunan Belanda dan ayahnya adalah orang Indonesia. Ia juga tidak mengetahui bagaimana mereka bisa bertemu dan menikah, yang ia tahu ayahnya adalah seorang tourguide dan ibunya seorang pengusaha yang menanamkan investasinya di Indonesia.
*
*
*
*
Tak hanya itu hal yang menyakitkan dan membuatnya sangat sedih, setiap selesai mata pelajaran sejarah teman-teman pasti akan mengejeknya, dasar penjajah, penjajah mata aneh……, keturunan Van Den Bosch…. penjajah tak tau diri, itulah ejekan anak-anak tentangnya. Mungkin itu hanya sekedar ejekan buat mereka tapi tidak dengannya. Chaeng mempunyai tingkat kecerdasan yang berbeda dengan anak-anak umumnya, apa yang mereka ucapkan dan apa yang mereka bicarakan menstimulasi otaknya bekerja. Chaeng mungkin anak yang cerdas dalam hal akademik tapi tidak soal hati dan perasaan apalagi itu berkaitan dengan psikologis dan hubungan sosialnya.
.
.
CHAENG POV
Saat itu aku hanya ingin bertanya, salahkah aku yang terlahir dari rahim seorang keturunan Belanda, bahkan aku lahir di tanah yang permai sebagai anak nusantara, salahkah dengan mataku yang berwarna biru dan bukan berwarna hitam. Mengapa rambutku menakutkan bagi teman-temanku yang lain. Mereka dan aku mungkin masih anak-anak tapi mengapa mereka selalu mengejekku.
.
.
Pulang sekolah kutahu tempat yang paling nyaman untukku meredakan kesedihan, aku berjalan menghampiri tepian sungai bersandar aku dibawah pohon beringin sambil menundukkan mukaku kebawah menatap rumput-rumput yang menghijau. Ku berharap kali ini saja tuhan dapat mendengar doa ku, aku hanya ingin berteman aku hanya ingin berbagi kisahku dengan mereka. Saat itu tiba-tiba ada seorang anak laki-laki menghampiriku dia menegurku dengan sopan sekali, tapi aku tak berani untuk memandangnya karena aku malu, akankah dia juga terkejut saat melihat mataku. “Tindakan tidak sopan jika seseorang menyapa disana tak mau menjawabnya apalagi memandang wajahnya, kata anak itu kepadaku dengan suara lembut. Aku hanya semakin sedih, dan terisak-isak menangis.
Dia kembali menegurku, "Apakah semua anak perempuan jagonya hanya menagis, kata guruku kalau ingin menangis jangan didepan orang lain, karena itu membuat mereka merasa bersalah." Katanya.
.
Mau tidak mau aku mengangkat wajahku yang masih berlinangan air mata dan menatap wajahnya. Aku sangat yakin setelah ia memandang wajahku dia pasti akan mengejekku seperti anak-anak lainnya. Tak disangka rupanya sebaliknya anak laki-laki yang mengenakan topi itu langsung mengatakan bahwa aku memiliki mata yang cantik dan unik bahkan rambutku sangat indah dan berbeda dari anak-anak yang pernah ia kenal. Ia sangat tertarik kepadaku bahkan ia bersedia untuk menjadi teman bermainku, saat itulah aku mulai menceritakan segala kesedihan yang tersimpan dibenakku.
Saat itu juga yang menjadi rasa senangku dengannya adalah kata-katanya dan tatapan mata ikhlasnya, masih ku ingat apa yang ia katakan, mengapa harus bersedih saat kita berbeda dengan orang lain, karena itulah menggambarkan kelebihan yang kita miliki, dia bahkan bahagia saat kepala pelontosnya tanpa sehelai rambutpun yang menghiasi, karena dia tidak mau dikatakan mirip dengan kembarannya. Mungkin dengan kepala pelontos ia akan diejek tapi dia senang orang-orang tahu bahwa ia berbeda dengan kembarannya itu. Saat itu juga anak laki-laki yang bernama Limario itu memberiku topi yang ia kenakan dikepalanya, serta meminjamkan kacamata minusnya kepadaku, "Pakailah dan ambilah topi ini saat kamu merasa malu dengan mereka, tapi jangan kacamata itu karna kau harus mengembalikannya padaku" ia tertawa kecil sambil membuat gerakan lucu dengan kepala pelontosnya.
