Prolog.

19 5 0
                                        

    

▁︎▁︎▁︎▁︎▁︎▁︎▁︎▁︎▁︎★︎★︎★︎★︎★︎▁︎▁︎▁︎▁︎▁︎▁︎▁︎▁︎▁︎

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

▁︎▁︎▁︎▁︎▁︎▁︎▁︎▁︎▁︎★︎★︎★︎★︎★︎▁︎▁︎▁︎▁︎▁︎▁︎▁︎▁︎▁︎

     Siluet lelaki bersurai hitam kecoklatan itu, kini sedang duduk bersender dikursi taman belakang sekolah. Ia terlihat santai sembari mengangkat sebelah kaki kanannya ke atas paha dalam posisi silang. Ia memejamkan kedua matanya sejenak menikmati musik yang kini mengalun indah ditelinganya. Sambil menggunakan headset yang sudah terpasang di ponselnya.

     Banyak yang memandangnya dengan tatapan kagum dari kejauhan. Fegasus sadar bahwa kini ia sedang menjadi pusat perhatian bagi siswi-siswi yang berlalulalang melewatinya, namun Fegasus tidak menghiraukannya dan tetap fokus mendengarkan musik. Satu hal yang sangat ia inginkan sekarang yaitu tenang tanpa diganggu oleh siapapun.

     "FEGASUS!" teriak seseorang yang saat ini sedang berlari menuju kearah lelaki bersurai hitam kecoklatan itu. Derap langkah yang terdengar tergesa-gesa beserta teriakannya mampu membuat Fegasus membuka kelopak matanya.
   "Apa?" desis Fegasus saat menyadari kehadiran lelaki tampan yang ada di sampingnya ini. Reynaldi namanya.

     "Bisa ikut gue ke ruang Bu Sri sebentar, nggak?"
     "Nggak." ujar Fegasus dengan nada tak bersahabat, lalu ia mulai beranjak dari tempat favoritnya itu. Lalu dengan cepat Fegasus berjalan meninggallkan Rey sendirian disana.

     "FEGA! TUNGGU WOI!" Rey mengejar Fegasus yang tiba-tiba kabur begitu saja. Rey terlihat menghela napas kasar kali ini ia mendapatkan tugas yang sangat sulit, bagaimana tidak? Bu Sri menyuruhnya untuk membawa Fega ke ruangannya sekarang juga, jika tidak maka Rey yang akan dihukum saat itu juga.

     "FEGA!" akhirnya Rey menemukan Fega tepat di kantin sekolah, Fega terlihat sedang mengulum permen yang baru saja ia beli.
     Tak mendapat respon apa-apa dari Fega, Rey lantas mencabut permen yang kini sedang diemut oleh Fega. Dengan gerakan cepat Rey membuang permen itu ke tempat sampah yang terletak di sebelah kirinya.

     Rey tau, bahwa kini ia sudah membangunkan singa yang tertidur. Bisa dilihat sekarang, wajah Fega tertekuk masam dan sorot matanya berubah tajam.
     "M-maaf Fega! Gue tau tadi gue kasar sama lu! Tapi, tolongin gue ga! Gw dirusuh Bu Sri buat panggil lu untuk ke ruangannya sekarang." Fegasus terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, lalu dengan santainya Fega berlalu meninggalkan Rey menuju ruangan Bu Sri.
     Tentu saja Rey merasa lega, karena akhirnya ia bisa istirahat dengan puas nanti.



•••


     "Silahkan nak Fega" ucap lembut Bu Sri kepada Fega yang baru memunculkan batang hidungnya dihadapan Bu Sri.
     "Ada apa ya bu?" seirit-irit nya Fegasus berbicara, ia tetap ingat tata krama untuk berbicara sopan terhadap seseorang yang lebih tua darinya.
     "Ibu minta tolong sama kamu. Kebetulan ini ada siswi pindahan yang barusan telfon ke Ibu, kalau orang tuanya mau anaknya di ajak keliling-keliling sekitaran sekolah dulu, biar lebih memahami selah beluk sekolah ini. Nak Fega, bisa bantu jadi pendampingnya selama 1 minggu ini?" ditatapnya Fega dengan mata penuh dengan sorot permohonan. Tak tega menolak, Fega pun menganggukkan kepalanya.
     "Baik, siap bu" patuh Fega kepada guru yang berada dihadapannya kali ini. "Saya pamit, Bu." setelahnya Fega pamit, ia pun langsung membawa badan jangkungnya itu pergi menuju kantin, untuk membeli sebutir permen lagi, karena sudah sempat dibuang oleh Rey tadi.
     Kini Fega kembali larut dengan pikiran-pikiran buruknya mengenai 'pendamping selama 1 minggu' itu. ia mungkin tak akan betah dengan semua ini, namun ia akan berusaha memaksakan diri untuk terbiasa.


-tbc

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jan 31, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

FEGASUSStories to obsess over. Discover now