Bab 1 Shimla

93 5 6
                                        

Shimla, India 2019
Gemerincing lonceng kecil di daun pintu disusul teriakan seorang anak terdengar dari luar rumah, Widari bergegas membukakan pintu, bertenggerlah sederet gigi berwarna putih kontras dengan warna kulitnya, berbaris rapih di sana di mulut bocah berusia 12 tahun dengan ikat kepala berwarna putih. Otomatis Widari langsung menyambar wadah yang disodorkan Chatu, sambil tersenyum Widari menukarnya dengan selembar uang kertas dan segera menutup pintu. Chatu masih mematung dan berseri-seri, pasalnya hampir setiap hari uang yang ia terima tidak pernah ditukar kembalian, itu artinya dia punya uang lebih untuk dibelikan makanan untuk keluarganya.

Bak penari balerina Widari meliuk-liuk di antara kursi, meja, sofa saat terhanyut lantunan lagu romansa ala Punjabi, gerakannya berakhir dengan sajian segelas chai dan roti di meja makan yang menghadap timur, terhampar bangunan-bangunan menempel di bebukitan di dataran tinggi the Queen Hill.

Seorang pria berjanggut lebat, rambut terikat, kelopak mata menutup berdiri dengan mountain pose di balkon yang menghadap timur tepat di mana Widari duduk. Pagi itu tak ada mentari, pun salju sudah lebih sedikit dibanding bulan sebelumnya. Widari menyaksikan gerakan-gerakan downward facing dog dengan tubuh membentuk garis imajiner segitiga, kemudian turun ke plank pose hingga triangle pose. Darahnya terasa menghangat di sekujur badannya, hasratnya berdesir, meski usia pernikahan mereka sudah 22 tahun tak mengurangi sedikitpun kekaguman terhadap orang terkasihnya. Setelah bridge pose pria itu bersila, mengatur napas, berdiri perlahan ke posisi awal setelah 30 detik ia membalik badan. Di sanalah hatinya selalu terpaut, tempat kembali rumah bagi jiwanya.
Dharma mengenakan kacamata tebalnya, berjalan menuju meja di mana Widari menikmati hidangan pagi, rambut putih berkilau mencuat berjejalan di antara rambut hitam yang hampir menjadi minoritas di kepalanya. Tumit yang bersentuhan dengan lantai yang terbuat dari maple wood itu menghasilkan irama, bersamaan dengan itu senyuman manis untuk istrinya selalu ia suguhkan. Dharma duduk setelah mengecup kening Widari.

"Hendra ngasih kabar, orang-orang di lab perusahaan Papah suka dengan formulaku", ucap Widari kegirangan. "Formula kita", sambungnya lagi setelah melihat suaminya tak bereaksi. "Dua bulan lagi launching produk baru, termasuk peruntungan produk dari formula kita di Jakarta. Papah berinvestasi besar untuk mencoba peruntungan baru di bidang ini".

"Semoga tidak mengecewakan", balas Dharma yang mulai menyesap chai dan memasukkan roti ke mulutnya.

"Kata Hendra, seluruh tim optimis pasar akan merespon dengan baik. semoga ya".

Keluarga Widari di Indonesia adalah salah satu konglomerat di bidang herba, dengan formula baru dari Dharma dan Widari mencoba peruntungan baru dengan menciptakan produk parfum lokal dengan bahan organik sebagai bahan dasarnya, untuk pasar menengah.

"Putri bagaimana?", tanya Dharma.

"Hendra bilang dia akhir-akhir ini sibuk kerja kelompok, ada kegiatan pengabdian masyarakat gitu, dan lagi deket sama seseorang....".

"Uhuk...", Dharma tersedak, "Maksudnya?, setahuku dia lebih tertutup".

"Katanya sih anak pindahan dari kota, ganteng sih kaya anak-anak cowok korea gitu".

Dharma hanya mengangguk-ngangguk menanggapi istrinya, kemudian jemarinya membuka lipatan koran pagi itu yang langsung dirampas Widari, sebagai gantinya ia menaruh jemari-jemari kasar suaminya di pinggangnya, kemudian ia duduk di pangkuan suaminya membuat Dharma tidak bisa mengelak.

"What?", ucap Dharma.
Wajah genit Widari membuatnya tertawa, kemudian Widari mendekatkan wajahnya ke wajah Dharma, kening mereka beradu.
Mereka saling merasakan hembusan napas mereka, keduanya menutup mata dan mulai saling menyentuh dengan sentuhan halus di pipi, leher serta tengkuk. Widari menempelkan bibirnya di bibir Dharma, mereka saling melumat perlahan dengan ritme napas dan denyut jantung setenang mungkin layaknya yoga tantra.

IngsunWhere stories live. Discover now