Part 1

166 1 1
                                        

.....
Seorang gadis yang sedang sibuk memperhatikan penampilannya sendiri di pantulan cermin kamarnya.

Ceklek

"Mellan... Ayok turun buat sarapan, nanti kamu terlambat"

Siapa lagi kalau bukan Vena mama Mellan yang sangat menyayangi putri satu satunya ini.

"Iya nih Mellan mau turun Mama duluan aja nanti Mellan nyusul" ujar Mellan dengan membawa buku-buku kampusnya.

Mellan berjalan turun ke ruang makan yang sudah di sajikan roti kesukaannya.

"Mah... Pah... Mellan nanti berangkat sama Hani ya?" Ujar Mellan sambil menarik bangku yang ia ingin duduki.

"Hani anaknya Rudy itu? Yang pernah kamu ajak ke sini?" Mellan mengangguk dengan memakan roti selai coklat kesukaannya.

"Iya" jawab Mellan dengan mulut yang masih berisi roti coklat.

"Kalo makan jangan ngomong, abisin dulu yang di mulut baru ngomong" Barra mencubit pipi Mellan gemas.

"Au... Sakit! Abang....!" Teriak Mellan sambil mengelus pipinya yang mulai memerah karena cubitan Barra.

Barra adalah anak pertama dari keluarga Agastha. Sikap Barra dengan Mellan berbeda jauh, karena Mellan yang sangat menyukai hal hal yang berbau musik sedangkan Barra menyukai hal hal yang menantang seperti balapan motor.

Ting Tong

Mellan berlari kecil ke arah pintu dan bersiap membukakannya, ia sudah duga yang datang pagi pagi ini Hani dan ternyata benar yang datang adalah sahabat Mellan yaitu Hani.

"Hani..." Mellan memeluk Hani dan sebaliknya.

"Ayo masuk" lanjut Mellan dan menggiring Hani untuk masuk.

"Bunda... Ayah... Bang Barra" sapa Hani dengan senyum tercetak di bibirnya.

"Silahkan duduk Hani" Vena mempersilahkan Hani duduk di kursi sebelah Barra.

"Hani udah makan belum? Makan bareng Bunda sama yang lain ya?" Lanjut Vena.

Hani memanggil Vena dan Ferry, Ayah dan Bunda karena sudah biasa kata Hani. Hani sudah biasa memanggil orang tuanya dengan sebutan Ayah dan Bunda, jadi ia memanggil orang tua Mellan dengan sebutan tersebut.

"Gak usah Bun, Makasih... Hani udah makan tadi sama keluarga Hani" Hani tersenyum ramah ke arah Vena.

"Yaudah Mah! Mellan sama Hani berangkat dulu ya...." Mellan bergegas pamitan ke arah Mama sama Papa dengan diikuti Hani.

"Dadah Mah... Pah... Bang Barra jelek.. Wlee... "  Mellan meledek Barra dengan menjulurkan lidahnya nakal.

"Awas ya kamu nanti kena!" ancam Barra dengan tersenyum jahilnya.
.....
Mellan dan Hani berjalan di koridor dengan membawa bukunya di lengannya.

"Mel! Aku mau ke perpustakaan dulu ya, kamu duluan aja ke kelasnya"

"Gak mau, aku mau nunggu kamu aja. Aku tunggu situ ya" tunjuk Mellan di bangku panjang dekat dengan toilet.

Mellan memainkan ponselnya dengan mengetik sesuatu pesan ke Barra, seperti biasa meledek Barra dengan emoji lewetan lidah.

Mellan tersenyum senyum sendiri bak orang gila, tapi senyumnya pudar saat mendengar teriakan para gadis gadis kampus di sekitarnya.

Mellan mengalihkan pandangannya ke arah tiga pria yang sok ganteng dan sok keren berjalan dengan gaya arogannya.

Mellan membuang mukanya dan bersikap tidak peduli dengan para bintang pria di kampusnya.

Apaan banget! Sok nganteng! Jijik ihh -gumam Mellan.

"Maksudnya? Siapa yang sok ganteng...aku? Emang aku ganteng." tanya seorang salah satu dari tiga pria itu.

Mellan menatap ketiga pria itu dengan sinis "siapa yang bilang kamu ganteng!" ujar Mellan dengan melengos berjalan melewati ketiga pria itu.

"Menarik" tercetak senyum menyerigai dari salah satu pria tersebut.
.....
"Gak jelas banget! Siapa yang bilang dia ganteng dasar kegeeran" Mellan menggerutu kesal dengan mengucap semua kata kata yang tidak pantas di ucapkan.

"Mellan!" Mellan menoleh ke arah Hani "Katanya kamu mau nungguin aku di bangku panjang kok gak ada kamu tadi. Oh ya Mel tadi aku denger katanya kamu ngomong sama Zein ya?"

Mellan memutar bola matanya malas "aku gak ngomong sama dia!" jawab Mellan ngegas.

"Kan aku tanya Mel, masa kamu marah si?" Mellan mendengus pelan.

"Gakpapa deh"
.....
"ASSALAMUALAIKUM...Mah..... Bikkk..." Teriak Mellan.

"Berisik!" balas Barra.

Barra melempar kunci mobilnya di meja makan "Mama gak ada lagi pergi ke kantor sama Papa katanya ngurusin kerjaan".

"Terus Bik Sumi mana?" tanya Mellan sambil memainkan ponselnya.

"Gak tau,pergi kali ke pasar" ujar Barra sambil memakan Apel yang sudah di potong.

"Oh yaudah Mellan mau ganti baju dulu" Barra mengangguk pertanda mengiyakan perkataan Mellan.
.....
Mellan memasuki kamarnya dan bersiap membersihkan badannya dengan berendam air hangat.

Setelah selesai bersihkan badannya ia mengambil Gitar dan bersiap menyanyikan lagu kesukaannya yaitu Menepi.

🎶kau yang pernah singgah di sini, dan cerita yang dulu kau ingatkan kembali.

🎶Tak mampu aku tuk mengenang lagi, biarlah kenangan kita pupus di hati.

🎶Tak ada waktu kembali untuk mengulang lagi, mengenang dirimu di awal dulu...

🎶Ku tau dirimu dulu hanya meluangkan waktu, sekedar melepas kisah sedih mu...

Reff:

🎶Mencintai dalam sepi dan rasa sabar mana lagi, yang harus ku pendam dalam mengagumi dirimu...

🎶Melihatmu genggam tangannya nyaman di dalam pelukannya, yang mampu membuatku tersadar dan sedikit menepi...

Jrenggg...!

"Huaaa!" Mellan menguap dan kaget saat mendengar suara tepukan tangan.

Prokk! prok! Prok!

Mellan menoleh saat ada yang bertepuk tangan malam malam begini, ternyata itu adalah Barra si tengil bau terasi.

"Ngapain disitu?" tanya Mellan songgong.

"Nih martabak Mama sama Papa pulang malem nanti kamu mati deh gara gara kelaparan" ujar Barra meledek Mellan.

"Makasih!" Mellan menarik martabak di tangan Barra dengan kasar.

"Kiss nya mana?" tanya Barra polos.

Mellan mengambil nafasnya panjang "Tutup mata!" titah Mellan "Buruan!".

Barra menutup matanya dengan tersenyum dan memegang pundak Mellan.

Cup!

Dukk!

Mellan menutup pintu setelah mencium pipi Barra, Barra membuka matanya dengan senyum terbit di bibirnya dan kembali berjalan ke kamarnya sendiri.

"Resek banget si Bang Barra ishh!" Mellan ngedumel di dalam kamar karena Barra berhasil meledeknya secara tidak langsung.

"Gak jadi ngantuk deh kalo udah ada cemilan, aku nonton film aja deh di laptop" ujar Mellan pada dirinya sendiri.

Mellan menyiapkan laptop dan bersiap makan martabak sambil menonton film kesukannya.

Typo? Maaf;

MELLANStories to obsess over. Discover now