0

366 42 4
                                        

ditulis oleh Riesling

Tresario bangun lewat tengah hari. Dua perempuan yang ia bawa pulang semalam masih terlelap di ranjangnya. Harusnya masih ada tiga orang lagi, tapi mungkin mereka sudah pulang duluan. Atau mungkin mereka masih ada entah di pojokan mana menikmati perabot mewah di penthouse-nya. Tres tidak keberatan. Toh mereka berhak memanjakan diri setelah bekerja semalaman.

Tres memungut kemeja dan boxer yang tergeletak di lantai dan memakainya sebelum keluar kamar. Ia bisa saja berkeliaran di rumahnya sendiri sambil telanjang bulat, tapi ia tidak mau dianggap setan tak beradab. Memang tidak ada yang melihat, tapi dirinya sendiri akan tahu.

Tres baru tinggal di apartemen itu seminggu, tapi ruang tengahnya sudah terlihat seperti kapal pecah. Dia tidak suka rumah yang berantakan, tapi dia lebih benci beberes. Sayangnya dia tidak bisa berharap rumahnya bisa rapi sendiri tanpa mengangkat jari pun, jadi dia hanya bisa pasrah.

Seorang wanita masuk dari arah dapur. Tubuhnya kurus tinggi hanya dibalut tanktop dan celana dalam hitam. Rambut hitam pendek membingkai wajahnya yang cantik luar biasa.

"Akhirnya kau bangun juga, Tres. Mau pasta? Tadi aku pinjam dapurmu," katanya dengan logat Prancis yang kental.

Wanita seperti ini memang berkah luar biasa, pikir Tres sambil tersenyum lebar.

"Nanti aku ambil sendiri. Thanks, Roxanne."

Tres mengambil smartphone-nya yang ia tinggalkan di sofa sebelum makan semalam, lalu duduk dan memasukkan perintah suara.

"Pena, cari berita terbaru tentang Tresario hari ini."

"Perintah diterima. Selamat datang, Tres. Menampilkan berita yang mengandung kata 'Tresario' dalam 24 jam terakhir..."

Smart TV raksasa di hadapan Tres menyala dan menampilkan semua berita yang mencantumkan namanya. Kebanyakan isinya hanya pujian kosong tentang konser perdananya di Jakarta kemarin. Membosankan. Ia meneruskan scrolling sampai menemukan konten yang ia cari, berita dengan headline bombastis bernada mencela yang ditulis oleh netizen dengan username "terraqueen".

Sebagai seorang singer-songwriter kelas dunia yang memiliki talent agency dan production house sendiri, Tres sudah terbiasa mendapat pemberitaan negatif. Tapi semua media dan orang berselera murahan yang mengkritiknya hanya pernah melakukannya sekali. Antara mereka takluk dengan pesona seorang Tres atau takluk dengan ancaman dari jutaan penggemar fanatiknya.

"Terraqueen" adalah satu-satunya pengecualian. Selama 3 bulan lamanya makhluk anonim itu tak henti-hentinya mengorek dan membesar-besarkan segala 'dosa' yang pernah Tres lakukan.

"Kau masih berusaha mencari dia?" bisik Roxanne sambil memeluk bahu Tres dari belakang sofa, "Satu orang sampah tidak akan membuat dunia berhenti memujamu, kan?"

"Bukan begitu, cheri," sangkal Tres sambil mengecup jari Roxanne yang bermain-main di lehernya, "Aku hanya merasa bersalah. Entah apa yang pernah kulakukan padanya sampai dia begitu membenciku. Aku tidak bisa tenang sampai aku bisa minta maaf dan menebus kesalahanku."

"Hanya demi satu hater yang tak kau kenal, kau sampai rela pindah negara begini. Kau memang setan paling manis di dunia."

Jari Roxanne pindah ke pipi Tres, tapi incubus itu menangkap tangan Roxanne dan menciumi telapaknya, "Kau juga gadis paling manis di dunia karena mau menemaniku pindah negara."

"Dasar gombal," Roxanne menarik tangannya dan mencubit pipi Tres.

"Ngomong-ngomong kita sudah seminggu di sini tapi kau masih belum membongkar kopermu juga?" omel Roxanne sambil melenggok ke arah koper besar yang terbuka berantakan di pojokan.

"Eh, iya... Nanti kubereskan."

"Sudahlah, aku saja yang urus. Kalau menunggumu bisa-bisa sampai tahun depan pun masih belum kau sentuh."

Roxanne berjongkok dan mulai mengeluarkan isi koper dan memisahkan pakaian yang masih terlipat rapi dan yang sudah amburadul, tapi tiba-tiba ia berhenti karena melihat ada sebuah amplop yang masih tersegel.

"Kau membawa surat ini dari L.A., Tres? Belum kau baca?" tanya Roxanne.

"Surat? Tinggalkan saja di meja. Nanti aku buka," gumam Tres. Perhatiannya sendiri sudah beralih ke layar smartphone-nya yang menampilkan foto kartu identitas seorang wanita. Wajahnya tidak terlalu jelas. Satu-satunya fitur yang mencolok hanya rambut keritingnya yang mengembang dan berwarna kecoklatan seperti bekas terbakar matahari.

Sekarang setelah konsernya usai, Tres bisa fokus mencari pemilik kartu itu.

I'm coming to you, terraqueen.

Scandals of Mr. TStories to obsess over. Discover now