Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
°
Enam kali. Batu yang Seokjin lemparkan berhasil memantul enam kali hingga akhirnya tenggelam, luruh menuju dasar. Berdecak puas, dia kembali membungkuk, berniat kembali memilah batu yang cocok untuk dipantulkan. Bibir dikerucutkan, sibuk mengukur. Seokjin sepenuhnya abai pada sekitar. Abai kalau udara dingin berhasil menyusup masuk, menyentuh kulitnya lewat sela-sela pakaian khas kerajaannya.
Dia bergumam, entah apa. Sebuah batu pipih di tangan, siap dipantulkan ke seberang. Kalau saja sebuah suara bernada rendah tidak menganggunya--
"Sesuatu menganggu pikiran anda, Pangeran Seokjin?"
Kala kepalanya tertoleh, seorang pemuda tegap tengah melompat turun dari kuda abu. Senyuman tipis muncul di bibirnya. Seokjin sontak mendengus. Sama sekali tidak menginginkan kehadiran pemuda ini sekarang.
"Kau selalu berhasil menemukanku, Namjoon." Batu yang sempat tertahan di tangan dilempar. Gagal memantul di permukaan, batu itu justru tenggelam menuju dasar. Membuat Seokjin mengerang kesal. Menyerah, dia merebahkan tubuhnya ke atas rumput. Tangan dilipat, menjadi bantal untuk kepalanya.
Selepas menambatkan kekang kudanya ke salah satu pohon, Namjoon melangkah lebih dekat, beranjak duduk di sebelah sang pangeran. Tertawa pelan, dia menjawab, "Anda selalu ke tempat ini saat suntuk, Yang Mulia."
Harusnya Seokjin tau jawaban itu akan meluncur dari mulut Namjoon. Ujung mata sang pangeran memperhatikan gerak-gerik pengawalnya. Merasa Namjoon ada dalam jangkauan tangan, ditariknya pemuda itu hingga rebah di sampingnya. Tidak sempat berkelit, Namjoon turut menatap langit. Menyamankan posisi.
"Sesuatu menganggu pikiran anda, Yang Mulia Pangeran?"
Dahi berkerut kesal. Masih enggan menanggapi kalimat Namjoon. Beragam hal berkeliaran di kepalanya. Niat hati ingin membuang pikiran-pikiran menyesakkan, menenangkan hati. Tapi gagal, tentu saja, sebab kehadiran Namjoon yang tanpa diundang justru menambah sesak di dada.
"Kau tau persis apa yang menjadi beban pikiranku akhir-akhir ini, Namjoon-ah," katanya lemah. Suara Seokjin nyaris tidak terdengar di akhir kalimatnya. Terlampau kecil, terlampau lirih. Desah nafas lelah yang sedari tadi ditahan-tahan akhirnya lepas juga.
"Yang Mulia--"
"Kita hanya berdua, Joon-ah," tukasnya, buru-buru memotong panggilan sopan seorang pengawal kepada pangerannya. Yang bersangkutan tersenyum tipis, sepasang lesung pipi menyembul tampan. Mengundang decak kagum yang diam-diam Seokjin dengungkan dalam hati.
"Kita berdua sama-sama tau kalau kau harus menikah dengan seorang wanita pilihan kerajaan, Jinseok," suara Namjoon memang selalu selembut itu. Membuat Seokjin otomatis enggan membantah. Justru terdiam dengan seribu bantahan di pikiran.
Angin berhembus lembut di antara keduanya. Sedikit banyak, Seokjin bisa merasakan aroma kesedihan yang dibawanya. Setiap detik yang berlalu jadi terlalu berharga. Rekaman kejadian dari masa lalu. Tentang dia. Tentang Namjoon. Tentang mereka dan cinta tabu di antara keduanya.
"Aku mencintaimu, Namjoon," cicitnya. Tercekat. Susah payah menahan air mata yang menggenang di pelupuk. Namjoon menarik kekasihnya dalam pelukan. Lengannya melingkari pundak Seokjin. Menawarkan kehangatan yang selalu Seokjin dambakan. Surai hitam sang pangeran di usap lembut.
"Aku pun mencintaimu, Jinseok. Jauh lebih besar dari yang dapat kau bayangkan," katanya. Terlalu tulus hingga Seokjin tidak lagi mampu menahan air mata di pelupuk. Pangeran itu terisak pelan. "Tapi kau, sebagai putra mahkota, punya setumpuk kewajiban dan menikah untuk melanjutkan keturunan adalah salah satunya."
Separuh akal sehat Seokjin tentu setuju kalau penyataan Namjoon sepenuhnya benar. Dia harus menikah dengan wanita pilihan keluarganya, melanjutkan keturunan kerajaan, dan mengemban tahta di masa depan. Tapi seluruh perasaannya jelas menolak. Tidak mampu membayangkan kehidupannya bersama seorang wanita asing. Bukan Namjoon.
"Tapi Namjoon--" suara Seokjin masih tersumpal di tenggorokan. Enggan keluar. Air mata mengaliri pipinya. Tidak juga berhenti. Namjoon memberikan kepadanya tatapan hangat. Sesak di relung hati lagi-lagi muncul. Seokjin kenal benar tatapan itu. Tidak pernah berubah sejak mereka kecil dulu.
Masih terisak pelan, Seokjin mengubah posisi. Dia yang semula berbaring di sisi Namjoon, bergerak menindih kekasihnya. Seluruh beratnya ditumpukan pada Namjoon. Telapak tangannya disusupkan ke leher. Sama sekali enggan melepaskan pelukan yang dengan senang hati diterima Namjoon. Wajah manisnya mengusak dada semakin dalam, dihirupnya aroma maskulin kesukaan. Dia bisa merasakan lengan kokoh Namjoon semakin erat melingkari pinggang. Jelas. Namjoon pun sebenarnya enggan melepaskan Seokjin. Tapi dia harus.
"Jinseok, hei," Namjoon menarik fokus Seokjin pada wajahnya, "aku masih di sini. Aku tidak akan pernah pergi. Meskipun kamu menikah, aku akan tetap bersamamu."
Kalimat itu diucapkan terlalu meyakinkan. Tidak dapat disangkal sama sekali. Seokjin menggigit bibir tebalnya. Nafasnya masih tersendat. Dengan sepasang mata yang masih berkaca-kaca, dia menatap balik Namjoon.
Pemuda ini, yang sudah menemaninya sejak lama sekali, Seokjin sungguh mencintainya. Namjoon terlalu sempurna. Bagaimana seseorang bisa tampan, cerdas, tegas, dan lembut di saat bersamaan. Rasanya sangat tidak adil kalau Seokjin harus melepaskan Namjoon hanya karena statusnya sebagai putra mahkota.
Tangan Seokjin bergerak tanpa sadar. Jemari lembutnya mengelus rahang tajam berlapis kulit eksotis kecoklatan. Tersihir bibir tebal menggoda, Seokjin menarik Namjoon dalam sebuah pagutan. Terkejut beberapa saat, Namjoon lekas membalas keagresifan sang pangeran. Bertukar liur, menubrukkan lidah satu sama lain. Suara kecapan memenuhi udara. Memabukkan, bercumbu seolah tidak ada hari esok.
Kehabisan oksigen, Seokjin lah yang menghentikan pagutan keduanya. Dadanya kembang kempis. Disekanya liur yang berantakan di sekitar mulutnya. Entah milik siapa.
"Baik," lirihnya, "akan kukatakan pada ayahanda kalau aku menerima perjodohan dengan wanita itu."
°°°
Hara's note: Helawww( ͡°❥ ͡°) Makasih buat kalian yang entah gimana bisa nemu work gue. Btw, gue sadar diri kalo tulisan gue masih abal-abal. Jadi, feel free buat kalian yang gregetan pengen kirim saran. Mau yang selembut permen kapas atau sepedes samyang (asalkan membangun) pasti gue terima. Dah, gitu doang. Papai(๑'ᴗ')ゞ