Happy reading
.
.
.
Serasa baru kemarin ia menjitak kepala kuning laki-laki itu. Rasanya belum lama ia menangis dan memohon pada si kuning agar laki-laki itu membawa kembali sahabat mereka. Rasanya.... ah, rasanya ia tidak percaya kalau Hinata mau menikah dengan si nakal itu.
Gadis cherry blossom itu tersenyum, netra giok nya sedari tadi ingin mengeluarkan air mata. Perasaan bahagia yang menyeruak di dalam hatinya tidak bisa ia tutupi. Ia bahagia... Tentu saja ia senang. Sahabat satu tim nya itu kini tidak lagi menyandang status single.
'Akhirnya kau mengerti maksudku, Naruto'
Mengingat Naruto sering sekali membuatnya jengkel, rasanya mustahil kalau kini ia menikah paling awal dari rekan-rekan shinobi seangkatan di desa konoha. Laki-laki bodoh yang selalu mengatakan mencintai dirinya itu kini akhirnya membuka mata dan paham apa yang Sakura katakan malam itu.
'Kau tidak mencintaiku sebagai wanita Naruto... Kau hanya iri pada Dia kan. Karena aku mencintai Dia. Dan kau... Kau tidak mau kalah dari Dia. '
Itulah yang Sakura katakan saat Naruto hendak menyatakan perasaan yang sama untuk kesekian kalinya. Bedanya... saat itu Naruto sudah mulai berpikir dewasa, dan Sakura tidak bisa lagi hanya sekedar menjitak kepala kuningnya. Laki-laki itu harus tahu perasaan cinta yang sesungguhnya. Dan Hinata Hyuga adalah gadis itu. Gadis yang selalu bermimpi dan berjuang untuk bisa sejajar dengan Naruto.
Sakura memutuskan menikmati pesta setelah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melamun. Ia tidak bermaksud mengeluarkan ekspresi lesu saat semua orang di pesta ini tampak sekali bahagia. Ia bahagia untuk Naruto dan Hinata, hanya saja.... Ada yang kurang disini. Laki-laki itu..
'Sudahlah Sakura! '
"Hei jelek, hari ini kau tampil cantik ya... " sapa Sai yang tampak cool dengan tuksedo hitamnya.
"Cih, jangan buat masalah Sai. Kau tidak ingin kan aku permalukan di pesta Naruto?"
"Ucapan mu memang terdengar seperti ancaman Sakura, tapi ekspresimu tidak seperti seharusnya, " ujar Sai yang tidak mengerti gejolak apa yang coba sedari tadi Sakura tepis.
"Kalau kau masih lesu seperti itu... Semua orang disini akan mengira kau tidak bahagia dengan pernikahan Naruto dan Hinata, " ujar Sai datar dengan maksud menghibur.
Tapi apa ada orang yang menghibur dengan nada seperti itu. Laki-laki pucat di depannya ini benar-benar ingin Sakura hajar sampai babak belur.
"Kau-"
"Sai,Sakura."
Sakura menatap gadis yang tadi memanggilnya. Ino tampaknya tidak mau kalah cantik dengan pengantin wanita hari ini, lihatlah betapa sempurna riasan yang ia pakai hari ini. Oh,gadis itu memang sudah pintar bersolek sejak kecil. Bahkan Ino lah yang mengajarinya menata tampilan rambut dan cara berpakaian.
"Ino Pig. Kenapa aku baru melihatmu?" tanya Sakura pada sahabat centil nya itu.
"Tadi aku sempat tersesat, kau tahu... Pesta ini lebih ramai daripada dugaanku," kesalnya sambil mengibaskan rambut blonde pucatnya.
"Kau... tampak cantik hari ini, Ino."
'Oh hentikan ini,' jerit batin Sakura merasa risih.
Sakura tahu sedari awal Sai hadir sebagai pelengkap tim-7, Ino terus-terusan menanyainya tentang Sai. Bahkan melihat bagaimana laki-laki itu memperlakukan Ino membuat Sakura jadi berang sendiri. Ia memanggil Sakura jelek, sedangkan Ino cantik. Astaga... Lama menjadi anggota NE membuat laki-laki itu tidak tahu caranya melihat dan mengatakan dengan jujur dan baik.
" Oh... Oh benarkah? Arigatto sai-kun. " balas Ino salah tingkah.
"Astaga... Kau terlalu banyak bohong,dasar Sai pucat." Lirih Sakura mengejek Sai.
"Apa maksudmu bohong? " gertak Ino tidak terima.
"Tanya saja pada makhluk ini, " tuding Sakura pada Sai yang kini tampak terkejut dijadikan sasaran balas dendamnya.
"Sudahlah... Sakura hanya sedang merindukan seseorang. Sebaiknya kita pergi... Nona cantik. " Lerai Sai menghentikan aksi saling sengit kedua wanita itu. Ia memegang pundak Ino hingga membuat gadis itu luruh dan kembali merona seperti biasa.
"Awas kau jidat! " tuding Ino sambil berbalik mengikuti Sai yang menggandeng tangannya.
"Dasar Ino pig, " Sakura menggeleng tidak habis pikir. Kedua makhluk itu benar-benar membuat mood nya hancur.
'Akh... Aku tidak boleh terlihat menyedihkan! '
Sakura melanjutkan langkahnya yang tadi sempat terhenti oleh dua makhluk bodoh. Kerongkongannya terasa kering berdebat dengan pasangan tidak jelas itu. Melihat minuman beraneka warna yang dihidangkan melingkar di atas meja membuat Sakura tak sabar ingin segera menghilangkan dahaganya.
Sebenarnya ia heran karena sedari tadi tidak melihat teman-temannya yang lain. Pesta ini lebih meriah daripada perkiraannya. Oh... Tentu saja, Naruto kan pahlawan perang dunia shinobi ke empat. Tidak mengherankan kalau semua penduduk desa sangat antusias untuk datang ke acara pernikahan terbuka yang mereka adakan.
"Sakura-chan! "
Gadis berambut coklat cepol melambaikan tangan kearah nya. Di samping gadis itu laki-laki dengan gaya rambut aneh sedang mendorong kursi roda Guy Sensei.
"Guy Sensei, " sapa Sakura sembari membungkukkan badannya. Sekalipun guru aneh itu membuatnya selalu sebal dengan tingkah konyolnya, tapi tetap saja Guy Sensei adalah pahlawan yang harus ia hormati.
"Tidak perlu berlebihan Sakura. Masa mudamu tidak akan bersinar terang bila kau terlalu formal padaku. Yakan Lee! "
"Ha'i Guy Sensei! "
'Konyol' batin Sakura.
"Ten ten-chan, kau terlihat anggun ya.. " puji Sakura pada gadis tomboy itu.
"Kau juga Sakura-chan,cantik seperti biasanya," puji Ten ten balik disertai tawa nyaringnya.
"Kau bisa saja... " Sakura menyentuh jidatnya yang terdapat segel Byakugo No In, ia mendapatnya saat perang dunia shinobi melawan Madara.
"Oh ya... dimana teman-teman yang lain? " tanya Sakura.
"Entahlah Sakura-chan, kami sendiri baru datang. " ujar Lee sambil mengendikkan bahunya.
" Kalian. Ayo... Acara sudah dimulai!" Teriak Kiba diikuti suara Akamaru.
"Itu mereka, ayo Ten ten! "
Sakura mendudukan dirinya di ikuti Tenten dan Lee, sedangkan Guru Guy, ia tampak anteng dengan kursi rodanya.
Keramaian yang membuat setiap orang harus berteriak agar bisa di dengar lawan bicara seketika senyap. Di hadapan mereka Naruto tampak tegang, tapi tetap saja terlihat tampan dan gagah. Sedangkan Hinata menunduk malu-malu sambil terus berjalan anggun. Gadis itu didampingi ayahnya Hiashi, untuk melangkah bersama menuju pria kuning yang kini hanya menatap gadis itu seorang.
'Seindah itu ya... ' batin Sakura. Ia tersenyum saat Naruto meraih tangan Hinata dari ayah gadis itu. Tepuk tangan terdengar setelahnya, begitupun Sakura yang kini meneteskan air mata bahagianya.
"Jangan menangis jidat," bisik Ino yang kini juga meneteskan air matanya.
'Bodoh.'
Sakura menyaksikan keduanya mengucap janji suci. Dan yang bisa ia pikirkan hanya sebuah kata selamat dan panjatan doa. Sekalipun laki-laki yang selama ini ditunggunya tidak ada disini, tidak untuk sekarang, dan entah untuk esok hari. Tapi Sakura bahagia untuk mereka berdua.
'Selamat Naruto, Hinata. '
.
.
.
Next »»
YOU ARE READING
Maybe Next Time, Sakura
Fanfiction"Mungkin lain kali" dan terimakasih... Sakura" . . . Perjalanan cinta Sakura dan Sasuke yang rumit. Akankah Sakura sanggup menunggu lebih lama lagi?
