01

18 1 0
                                        


Seorang gadis mengenakan seragam ber-bet ~logo kesehatan~ tengah berdiri di samping gerbang SMA ASTEROID menjadi pusat perhatian beberapa pasang mata yang tak sengaja menangkap sosoknya.

Dengan earphone yang terpasang sempurna dikedua telinganya,ia bersandar sambil membaca novel. Rambut yang sengaja ia gerai sedikit menutupi bagian name tag yang ia gunakan. Selagi sibuk dengan novelnya,gadis itu merasa seperti bahunya ditepuk,refleks,gadis itu melepas earphone yang ia kenakan,lalu menengok.

"Eh...ayah," ucapnya sambil tersenyum hingga kedua matanya terlihat seperti garis. Lalu mencium tangan sang ayah.

"Udah lama nunggu ya? Maaf nih ayah baru ada rapat." sang ayah memasang wajah lelah tapi diindahkan dengan senyum yang begitu menyejukan.
"Ih,ayah kok gitu,gapapa lah,lagian Lily juga baru nyampe. Mau langsung pulang atau gimana yah?"

"Mampir beli makanan dulu aja. Btw,mobilnya mana?" Khama celingukan mencari mobilnya yang tadi pagi dibawa oleh putrinya untuk berangkat sekolah. Lily memasukan kembli novelnya ke dalam tas asal.

"Itu,deket kedai kopi" jawab Lily sambil kembali memakai earphonenya. Mereka berdua berjalan bersama menuju mobil. Beberapa siswa jalan membungkuk di depan Lily dan ayahnya. Ayah Lily adalah seorang kepala sekolah di SMA Asteroid. Walau begitu,Lily tidak pernah mau sekolah di sini,ia lebih memilih sekolah di SMA Meteor. Saat ditanya kenapa,katanya biar bisa mandiri.

Saat akan membuka pintu mobil,Lily dikejutkan dengan seorang pria yang tiba-tiba saja menepuk tasnya dan memanggil dengan sebutan 'mbak' oh ayolah,,Lily sangat tidak nyaman dipanggil begitu. "Maaf mbak,ini tadi novelnya jatuh dari tas," perkataan lembut yang dikeluarkan dari bibir seorang lelaki yang tak Lily kenal,tapi kenapa wajah orang itu sangatlah tidak asing?

"Aldi? Kamu Aldi? Kok udah disini? Perasaan tadi masih nongkrong deh di Janji Jiwa" tanya Lily terheran-heran. Lily semakin dibuat bingung karena pria di hadapannya itu tetap berekspresi datar.
"Saya bukan Aldi mba,saya Aldo,saudara kembar Aldi," jelasnya terus terang,tak ada raut berbohong yang dipancarkan wajah itu.

Lily ber-oh ria. Belum juga melontarkan kata terimakasih,Aldo sudah pergi dari hadapannya. Ya sudahlah,lagian untuk apa juga berurusan dengan orang yang baru saja dikenal. Eh,tapi kan Aldo tidak mengetahui nama Lily. Ahh sabodo. Menyadari sang ayah telah menunggu,Lily langsung masuk ke dalam mobil.

Di dalam mobil,Lily masih setia mendengarkan musik dari earphone. Semua lagu yang ada didalam hp-nya itu tentu saja kesukaannya. Karena mungkin lelah,perlahan Lily menutup matanya,kemudian tertidur pulas. Khama melihat putrinya memejamkan mata,membentuk senyuman tipis dibibirnya.

Dirumah Lily.

"Nak,bangun sayang,dah sampe rumah nih..." ucap Khama lirih sambil sedikit menepuk pipi putrinya. Perlahan Lily membuka matanya,mencoba untuk menetralisir nafas karena bangun tidur. Ia mengucek matanya kemudian melihat sekeliling. Ini kan rumahnya,padahal tadi kata ayahnya mau mampir beli makan dulu. "Loh,,di rumah? Tadi kata ayah mau mampir dulu?" pertanyaan berturut-turut Lily membuat Khama tersenyum lalu mencubit pipi putri kecilnya itu. "Tadi kamu tidur,masa iya ayah makan sendiri terus tinggal kamu dimobil sendirian. Emang mau?" tanya Khama dengan sebelah alis yang dinaikan.
Dengan cepat,Lily menggeleng. "Hehe,,nggak" sahut Lily sambil nyengir. 

Mereka berdua akhirnya keluar dari mobil,dan langsung disambut oleh Fafa-ibu Lily. "Assalamu'alaikum bundaaa.." triak Lily kegirangan sambil berlari kecil ke arah sang ibu.

Ketua OSIS vs Dewan PMRStories to obsess over. Discover now