Untuk kesekian kalinya malam ini perempuan itu berada di club malam, melakukan moshing di lantai dansa dan meminum minuman beralkohol, seharusnya perempuan itu sudah pensiun dari hal-hal seperti ini, dia sudah janji. Tapi tak ada pilihan malam ini yang ada dipikirannya adalah bagaimana caranya keluar dari pelipur sedunya tanpa harus melukai dirinya sendiri atau berpikir untuk melakukan aksi bunuh diri seperti beberapa waktu silam.
"Ayo balik!" Titah laki-laki itu berulang kali.
Redha - perempuan berambut coklat sebahu itu melirik Radis - sahabatnya sekilas dengan sorot mata yang tajam, menandakan bahwa dia tidak suka dengan perintah laki-laki itu barusan. Bukannya menuruti, dengan sengaja Redha malah meneguk gelas minuman beralkohol itu hingga kandas.
Melihat apa yang baru saja dilakukan Redha, buru-buru Radis merebut minuman yang Redha pegang dan menciumnya aromanya, "ini vodca, gila ya lo Red mau mati?!!" Dengan perasaan yang sudah lebur, tanpa asa Radis melempar gelas itu ke sembarang tempat sehingga menimbulkan bunyi berpelantingan.
Rahang Radis mengeras, "gue gak nyangka lo kaya gini Red," ujar laki-laki itu menahan kesal.
Dua belas tahun mereka berteman, tidak pernah dia merasa sekecewa ini pada Redha. Radis ingat terakhir kali Redha berjanji untuk tidak melakukan hal yang sudah seharusnya tidak dia lakukan dan memulai kehidupan baru yang lebih normal. Tapi semua kebohongan Redha terjawab malam ini.
"Lo udah janji bakal tinggalin hal kaya gini," kata Radis.
Radis tahu memang berat menerima ini sendirian, Redha pasti sangat terpukul karena masalah keluarga yang menimpanya, Radis selalu berusaha memahami perasaan Redha terlebih Radis juga merasakan rasa sakitnya seperti apa, karena itu alasan mereka berteman hingga saat ini, karena mereka memiliki rasa sakit dan paham yang sama mengenai latar belakang kehidupan termasuk keluarga mereka.
"Ayo balik!" Radis yang sudah jengah mengambil tindakan tercepat, dia langsung mencengkram tangan Redha dengan kuat hingga tubuh perempuan yang sudah lunglai itu tersungkur mengikuti arah Radis.
Redha berusaha melepaskan tangannya dari Radis, dia meronta sekuat mungkin meskipun minuman yang sudah dia minum membuat tubuhnya terasa lemas dan kepalanya pening. Dan.. Redha balik menarik lengan Radis hingga tangan perempuan itu spontan mendarat dengan keras di wajah Radis. Laki-laki itu cukup terkejut dengan tindakan Redha barusan, untuk pertama kalinya.
Cengkraman Radis perlahan melemah, tapi dia tetap menarik Redha keluar dari dalam club, Radis mencari tempat yang setidaknya tepat untuk mereka bicara berdua.
Ketika sudah menepi disebuah tempat, Redha melepaskan tangannya paksa dari cengkraman tangan Radis. Perempuan itu langsung terduduk lunglai ditepian.
"Gue tau lo marah tapi bukan ini satu-satunya pelarian," kata Radis membuka suara lebih dulu.
Napas Radis tertahan beberapa detik, kemudian kembali melanjutkan ucapannya, "lo udah janji bakal ninggalin kehidupan yang berantakan ini, lo janji gak akan ngelakuin hal kaya gini lagi, rokok minuman alkohol, datang ke club malam kaya gini, nyobain hal-hal yang gak pantes lo coba, dan-"
"Dan semuanya Red lo udah janji mau berubah!" Radis mengusap wajahnya gusar.
Laki-laki itu memejamkan matanya cukup lama,
mengetahui Redha menghancurkan dirinya dengan cara seperti ini bukan hanya membuatnya marah, tapi juga membuat hati Radis sangat nyeri sekaligus gagal, ya gagal memenuhi amanat dari almarhumah ibunya.
Mata mungil milik Redha menatap Radis dengan sorot mata nanar, "janji?"
"Kenapa gue harus memenuhi janji itu sementara lo aja belum bisa ngerubah diri lo?!" Tanya Redha setengah berteriak.
YOU ARE READING
INTUISI
RandomLatar belakang yang sama membuat dua orang anak kecil itu menjadi sahabat yang tumbuh berkembang hingga remaja. Radis dan Redha, lika-liku kehidupan mereka tidak berjalan normal layaknya seorang anak pada umumnya, alur kehidupan memaksa mereka kelu...
