satu.

236 11 2
                                        

24 September 2019,


"Awas!"


Seorang anak STM berlari ke hadapan seorang mahasiswa menggunakan almet kuning sedang terduduk di jalanan sebab kakinya yang cedera, tergesa-gesa dan panik serta khawatir bercampur menjadi satu di wajahnya. Sang mahasiswa tertegun, keheranan dengan perlakuan yang dia dapatkan dari bocah ingusan dengan seragam sekolah kumuh ini. Water canon terus ditembakkan ke arah mereka, namun bajunya hanya sedikit terciprat air karena anak STM itu yang menjadi tameng di depannya.


"Woi bang, mundur! Ngapain masih disini sih?! Itu aparat udah mulai parah nyerangnya!"


Si mahasiswa makin keheranan, lalu dia mendorong paksa si anak STM menjauh dari dirinya.

Mencoba mengajak tubuhnya bekerja sama untuk lari dari tempat itu, sang mahasiswa tergopoh-gopoh berlari menjauh dari aparat, matanya menelusuri tiap sudut jalanan, semua temannya sudah pergi meninggalkannya jauh ke belakang.

Sialan, gumamnya.

Pada akhirnya dia ditinggal sendiri, padahal sejak pertama mereka datang ke lokasi ini, dia sudah segenap raga melindungi kawan-kawannya yang lain. Makadari itu kakinya cedera, robek dan hampir patah, sepanjang jalan dia hanya bisa meringis kesakitan, mencoba untuk tegar, tidak ingin terlihat lemah di hadapan bajingan-bajingan pemerintah itu.

"Bang! Sini gue bantu-"

Belum lagi ada anak STM aneh yang tertinggal juga dari rombongannya, mengejar dia dari belakang.

Harga dirinya mau dikemanain kalau dia harus dikasihani oleh anak STM?


"Bang, denger gue gak sih! Itu kakinya infeksi kalau didiemin gitu!"

"Lo lari aja udah, selametin diri lo sendiri, gausah peduliin gue! Gue bisa sendiri kali."


Tanpa sadar si anak STM itu sudah berlari di sampingnya, tangannya mencoba meraih bahu sang mahasiswa, untuk merangkulnya dan membantunya mundur ke area aman. Namun untuk kesekian kalinya sang mahasiswa mendorong paksa anak STM tersebut hingga dia hampir kehilangan keseimbangan.

"Masih banyak orang yang butuh pertolongan di belakang, gue bisa balik sendiri."

"Yaudah sekalian ayo bang gue anterin ampe belakang, itu kaki lo gak sakit apa dipaksain lari gitu?!" Si anak STM tetap bersikeras ingin membopong sang mahasiswa yang keras kepala itu.

Padahal diliat dengan mata telanjang juga jelas bahwa sang mahasiswa sudah bercucuran keringat dengan kaki yang berselimut darah segar dan beberapa butir pasir yang melekat di kulitnya yang pucat.

"Urusan lo apa sih?!"

Tanpa memperdulikan amukan sang mahasiswa, si anak STM tetap tidak menyerah untuk menyentuh bahu laki-laki yang lebih tua darinya tersebut. Walau mendapat dorongan yang agresif dari pihak yang terkait, tapi anak STM itu tetap memaksa dirinya untuk bertahan dan mencoba membopong sang mahasiswa dengan satu tangannya, sementara tangannya yang satu lagi menahan tangan sang mahasiswa agar berhenti mengamuk dan memukulnya.

"Buset, DIMAS?! Lo daritadi kemana anjir?! Gue kira udah mati lo di depan sana!"

Salah satu anak STM lainnya langsung menghampiri dua manusia yang baru kembali dari medan perang dengan tergopoh-gopoh.

"Medis mana medis?! Ini ada yang luka-"


Sang mahasiswa kembali mendorong tubuh orang yang sedang membopongnya, dengan lagi-lagi, agresif. Belum sempat anak-anak STM lain melihat siapa sosok mahasiswa itu, dia langsung melengsat berlari dengan pincang ke arah rombongan mahasiswa beralmet kuningnya yang sedang berdiri tak jauh dari mereka.

yellow.Stories to obsess over. Discover now