Tatapan.

82 4 0
                                        


"Tatapan adalah awal mula dari semua kisah cinta."

"Ya, memang kita minggu depan akan ada praktik berenang gaya kupu-kupu," ucap Pak Maman sang guru olahraga.

Ia adalah salah satu guru ter-killer yang terkenal akan ketegasan dan suara berat khasnya yang mampu membuat siapa pun akan menurunkan intonasi ketika berbicara di hadapannya.

Tiba-tiba sesosok makhluk kasat mata yang tak tahu rasa takut pun berkata dengan lantangnya.

"Pak! Kalo gabisa gimana pak?" suara itu memang terdengar seperti candaan dan bukan seperti bertanya.

Mau tak mau semua mata pun memandangnya tak terkecuali mata Pak Maman. Ya, dialah Risha. Salah satu anak perempuan ter 'bar-bar' di kelasnya sendiri. Risha memang tidak sedang kerasukan kok, dia sadar apa yang diucapakannya tadi dapat memancing amarah Pak Maman.

Tentu semua orang tau bagaimana ketika Pak Maman tersulut emosinya. Mungkin orang 'waras' lebih memilih untuk membersihkan toilet daripada harus menjadi penyebab kemarahannya. Tapi Risha? Ah! Sudahlah, tak perlu memusingkan anak itu. Risha memang terlahir dengan jiwa pemberani yang setingkat dengan Jackie Chan.

"Maksud kamu apa nanya kaya gitu? Ha?!" tanya Sang guru olahraga tak kalah lantang dari ucapan Risha tadi.

"Oh, cuma nanya aja masa ga boleh sih, Pak?" jawab Risha santai sambil menatap mata Pak Maman dengan sangat mantap.

"Kamu pasti tau kan kalo kamu gabisa harus kayak gimana!? Masa kamu udah SMA masih nanya pertanyaaan anak SD!" ucap Pak Maman.

"Ya maaf, Pak! Namanya juga nanya. Kan ada pepatah, malu bertanya sesat di jalan. Nah! Bapak mau saya tersesat di jalan gitu, Pak?" ucapan Risha terdengar sangat menjengkelkan. Tapi, sebenarnya ada benarnya juga.

Semua murid yang ada disitu terlihat ngeri dengan perdebatan antara murid dan gurunya tersebut. Dalam hati mereka pasti berkata, emang sengklek nih cewek berani banget sama guru killer di sekolah.

"Kamu bener-bener ya_" belum selesai ucapan Pak Maman, mulut ceplos Risha melontarkan 'bacotan' yang menggebu-gebu.

"Ya emang aku bener kan Pak? Kalo aku salah pasti aku dibawa ke kantor polisi gara-gara kasus." tawa lepas Risha terdengar sangat mengerikan. Orang-orang yang mendengar candaan garing tersebut hanya bisa geleng-geleng kepala dan_, sama sekali tak tertawa.

KRIIIIINNGG!!!!

Bel untuk berganti pelajaran pun akhirnya berbunyi. Bunyi bel juga mengahiri perdebatan antara Risha dan Pak Maman. Bukannya Pak Maman takut, oh! Ayolah! Untuk apa pula Pak Maman takut dengan muridnya sendiri. Ya, bukan karena Pak Maman takut dengan Risha, tapi ia pun harus mengajar murid kelas lain yang tentu saja jika ia tidak melakukannya maka akan mengancam gajinya sebagai guru di sekolah tersebut.

Keramaian yang tadinya tercipta oleh keributan akhirnya selesai juga. Beberapa murid yang tadi menonton pertunjukan 'senam lidah' tersebut kembali ke kelas masing-masing. Namun, dari sejak perdebatan tadi, ada seseorang yang tidak Risha kenal terus memperhatikan Risha dengan sangat lekat. Bahkan saat perdebatan itu berakhir, lelaki itu terus menatap Risha dengan tatapan tajam namun tidaklah terlihat seperti orang marah. Hal ini tentunya disadari oleh Risha dan membuat Risha melontarkan sebuah pertanyaan tanpa basa-basi. Ya, tanpa basa-basi.

"Heh! Lo ngapain ngeliatin gue kayak gitu? Gue cantik ya?" diiringi senyuman mengejek dari Risha.

Laki-laki berambut dan berwajah sangat indah itu hanya berkedip dan tidak berekspresi. Kemudian, ia melenggang pergi begitu saja dengan gaya cool nya tanpa menjawab pertanyaan 'kepedean' Risha.

"Ish! Napa si tuh orang? Minta gue sleding!" biasa, Risha mulai berbicara dengan dirinya sendiri.

"Eh, tapi ganteng juga, siapa sih namanya?" jiwa Risha yang memang menyukai cowok tampan pun kembali bergejolak.

"Gajadi deh mau sledingnya, mau bawa pulang aja kalo bisa, hehe,"ucap Risha sedikit tertawa.

~°~

Senja Tenggelam Di Wajahmu.Stories to obsess over. Discover now