Elegi

1.8K 154 79
                                        

A Yeongyu Oneshoot

Genre : Drama, Hurt, Angst

•••

.

.

.

"Ketika kehilangan adalah perkara yang paling sulit diterima, dan Choi Beomgyu mengalami itu untuk pertama kalinya dalam hidupnya."

Recommended Song : Lewis Capaldi - Someone You Loved

atau

James Arthur - Empty Space

.

.

.

Sebuah peti jenazah berwarna putih dibuka. Aroma dupa menyeruak menyertakan kekosongan.

Awalnya semua itu terasa seperti ilusi yang membuat kepalanya ngilu bak ditimpa benda yang berat. Apa yang ia dapatkan hari ini terdengar bagai omong kosong memuakkan yang setengah mati ditolaknya. Semua ini hanyalah sandiwara dan kelakar saja, kan?

Choi Yeonjun meninggal karena kecelakaan motor, kata mereka di sebuah sore yang gerimis hari itu. Bajingan.

Pendarahan dalam katanya, halah.

Beomgyu itu orang paling realistis di dunia, tidak mudah terbodohi oleh ucapan-ucapan tak benar orang lain. Satu jam lalu dia masih bertengkar dengan lelaki itu. Mana mungkin tiba-tiba saja kabar duka datang padanya?

Bah, omong kosong.

"Semua ini omong kosong," Beomgyu bermonolog dengan bibir yang gemetar menahan sesuatu dalam dirinya. Tak ada yang menyahutnya atau bahkan menyangkalnya.

Beomgyu masih bersikukuh bahwa semua ini hanyalah omong kosong.

Namun ketika peti itu di buka, mata Beomgyu mengabur. Cairan hangat dari matanya merembes mengaliri pipinya tanpa komando.

Yeonjun di hadapannya terbujur kaku dengan kemeja putih kesayangannya yang melekat pas di tubuh. Beomgyu ingat, dia masih mencuci kemeja kesayangan Yeonjun ini minggu lalu. Bagaimana kini justru lelaki itu kenakan di pemakamannya sendiri? Itu konyol.

Beomgyu ingin meminta seseorang untuk menamparnya, barangkali ia tengah bermimpi di siang bolong atau apa. Namun semua ini kelamaan terasa nyata dan menyakitkan baginya. Kekasihnya tidur dengan tenang di hadapannya, meninggalkannya yang berderai air mata dengan rasa tercekat yang membuatnya sulit mengais napas. Sesak.

Choi Beomgyu seharusnya pergi bersama kekasihnya ini ke butik pakaian, mencoba jas mereka yang akan mereka pakai untuk pertunangan mereka dua minggu lagi, bukan justru melayat kekasihnya yang tadi pagi masih mengecup ranumnya.

Semua ini di luar nalar. Semua ini hanyalah kebohongan. Semua ini pastilah hanya skenario kekanakan Yeonjun seperti biasa.

Tapi semuanya terlalu nyata; tangannya yang begetar itu nyata, aroma dupa khas pemakaman juga nyata, pun dengan jantungnya yang diremas sakit itu juga nyata.

"Yeonjun," Beomgyu memanggil lirih sama seperti biasanya ia membangunkan lelaki itu di pagi hari untuk sarapan, "bangun, Jun."

Ia terisak, dadanya sakit sekali.

Wiwaha || Yeongyu • YeonbeomHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora