[1] Confess

9 0 0
                                        

"Denger ya Caramel cantik, selepas hari ini lo pasti ga bakal ketemu Calum lagi dan pada akhirnya lo sendiri yang nyesel mending lo confess sama Calum sekarang gue tungguin," Jelas Anna waktu itu, waktu perpisahan smp gue, yang juga gue kira ga emang ga bakal ketemu Calum lagi.

Berkat dorongan dari Anna juga akhirnya gue melangkah mendekati Calum yang sedang berdiri tegap di sebelah tiang bendera lapangan upacara yang di dekorasi sedemikian cantiknya.

"Calum," panggil gue waktu itu dengan gaun biru muda dan rambut yang sengaja terurai.

Calum yang dipanggil namanya berbalik ke arah gue dengan senyumnya yang khas disertai kerutan disebelah matanya, "Eh Amel, kenapa mel?" Katanya.

"Mau ngajak gue foto ya lo, sini-sini," lanjut Calum sambil merangkul gue dan mengarahkan ponselnya kehadapan kami.

Bonus tersendiri bagi gue yang akan terlihat kaku di foto tadi, gue cukup akrab sama Calum karena kelas kita yang sebelahan dan Calum yang sering minjem gitar kelas gue.

Gue inget pertama kali Calum datang dengan didorong oleh teman-temannya untuk minjam gitar kelas gue dan saat itu juga kebetulan cuma ada gue di kelas yang ga ikut olahraga karena sakit maag.

"Permisi," katanya, nadanya sopan dan terdengar malu-malu.

Gue yang dalam posisi hendak tertidur menengadah melihat postur jangkung Calum Hood dengan rambutnya yang cepak serta seragam yang dikeluarkan.

"Lagi pada olahraga," jelas gue tanpa di tanya oleh Calum.

Calum terkekeh sejenak, kemudian menggeleng, "ga ko ngga, gue mau itu," katanya dengan mengangkat dagu menunjuk gitar di pojok kelas.

"Apa?" Tanya gue dengan suara yang dinaikan sebal karena harusnya gue udah tidur.

"Gitar, gitar," jawabnya sambil mempraktekkan caranya bermain gitar.

Gue mengangguk kemudian berjalan malas ke pojok kelas mengambil gitar yang gue pikir terbilang butut dan rapuh kemudian memberikannya pada Calum yang hampir memekik kegirangan.

"Yes, yes dapet," ucapnya pelan dan samar.

"Makasih ya, gue Calum Hood ngomong-ngomong," Calum menjulurkan tangannya mengajak gue berslaman hal yang menurut gue jarang dilakukan orang-orang masa kini.

"Caramel Jane Horan," gue berbalas menjabat tangannya.

Selepas hari itu pandangan mata gue selalu terkunci ketika melihat Calum, Calum yang berlari bebas memekik kegirangan di tengah lapangan, atau ketika Calum dalam mode waras memperhatikan penjelasan guru di dalam kelas.Dan masa SMP gue, terasa berlalu terlalu cepat karena Calum yang menghiasinya.

"Mel lo ngelamun ih kenapa?" Ujar Calum yang menyadarkan gue dari lamunan.

Gue menggeleng-geleng kecil, "Gapapa Cal, oh ya gue mau ngobrol sesuatu,"

"Tumben biasanya bacot lo, kenapa sih Mel bilang aja kali gue open ko,"

"Tapi Calum apa lo janji sehabis ini lo gabakal jauhin gue," mohon gue pada calum dengan mengepal kedua tangan gue di dada.

"Maksudnya," Calum menaikan alisnya seperti kebingungan arah tentang pembicaraan kami.

"Calum gue-"

"Kenapa Mel," potong Calum.

"Calum gue, gue suka sama lo," sepersekian detik berikutnya badan gue terasa melayang-layang kepala gue juga pusing.

"Sejak kapan?" Tanyanya dingin.

Gue menggeleng lagi, seharusnya tadi gue langsung pergi dan bukan malah mematung di depan Calum, "Sejak pertama lo minjem gitar dan sampe sekarang atau entah kapan gue suka sama lo,"

Calum mengganguk mengerti kemudian berjalan lebih mendekat kearah gue menepuk bahu gue dan yang gue pikir akan jadi kali terakhir gue mendengar suara Calum, "Sorry Caramel, gue gabisa," kemudian dia berlalu dari tempatnya berdiri.

Gue kembali pada Anna bilang kalo hati gue udah lega. Namun, sebaliknya yang gue rasakan adalah hal mengganjal dan rasa malu.

"Itu baru temen gue," Kata Anna dengan semangat.

Gue beranggapan beruntung dan sedih ketika gue meninggalkan rumah nenek dan kembali bersama kedua orangtua gue dan Niall, yang berarti gue harus meninggalkan Calum dan segala kenangannya di kota ini.

Tentang itu Gue memang tinggal terpisah bersama mereka selama smp dan tinggal bersama nenek, semacam telah menjadi teradisi di keluarga kami karena rumah nenek gue yang memiliki akses sangat dekat dengan SMP favorit itu.

Sayangnya semua itu buyar seketika di hari minggu pertengahan bulan juli, minggu pagi tepatnya informasi kalau rumah di depan rumah kami telah sukses terjual memang jadi topik hangat di keluarga gue pagi itu, sampai akhirnya di minggu malam.

Ketukan di pintu dan suara bel yang memecah gue dan Niall yang saat itu sedang memperebutkan remote TV yang akhirnya sama-sama mengalah dan sama-sama mendekat ke arah pintu.

"Lo yang buka," kata gue menunjuk Niall lebih dulu.

"Fine,"

Gue terkejut memang bukan main mendapati Calum berdiri diambang pintu rumah kami, diapit oleh dua orang perempuan dan seorang laki-laki berumur dibelakangnya.

Jika tidak ditahan mungkin mulut gue udah mengaga hebat waktu itu, beruntung Niall menyikut gue dan menyuruh untuk memanggil Ibu.

"Bu ada tamu," kata gue pada ibu yang masih berkutat dengan piring kotor sehabis makan malam.

Ibu dan gue kembali ke ruang tamu gue  yang telah mendapati Calum yang sedang duduk di sebelah perempuan yang menatap gue manis.

"Ehh tetangga baru yaaa, aduh bawa apa ini ngerepotin," ujar ibu menyalami seorang perempuan yang gue asumsikan sebagai ibunya calum, mirip Calum.

"Ngga ko, ini loh tadi saya buat khusus untuk tetangga," balas ibunya Calum.

"Eh iyah ini kenalin dulu, saya Emma, ini anak laki-laki saya Niall, yang ini adiknya Caramel, papanya kebetulan belum pulang," ujar ibu memperkenalkan kami.

Gue tersenyum kaku, apalagi ke arah Calum dan untuk yang kedua kalinya gue memperkenalkan diri dan menjabat tangannya lagi. "Caramel Jane Horan,"

Setelah dari hari itu keluarga kami semakin dekat, bahkan gue dan mali yang semakin dekat begitupun Niall. Yang disayangkan, tidak dengan Calum bahkan gue merasa Calum semakin menjauhi gue hari demi hari.

Bulan-bulan berikutnya bahkan keluarga gue dan Calum sering mengadakan makan malam bersama. Baik di rumah gue atau di rumah Calum ditambah kegemaran membuat bolu ibu dan tante joy yang sama.

Fakta berikutnya adalah gue harus satu sekolah kembali bersama Calum, yang gue pikir Calum akan kembali lagi malah semakin menjauh dan semakin samar.

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Dec 28, 2019 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

Confession ; CthDonde viven las historias. Descúbrelo ahora