Pangeran berlari terseok di hutan pinus yang gelap.
Hanya diterangi oleh sinar bulan, dia harus fokus untuk berjalan lurus hingga menemukan pedesaan yang dimaksud Panglima Nar.
Sudah dua jam lebih dia seperti itu. Pangeran terus melarikan diri, berharap segera menemukan tempat persembunyian.
Namun, tidak ada yang dia temukan. Hanya pohon-pohon pinus dan binatang malam.
Tidak ada apa-apa di sini.
"AGHKK!" Dia berteriak saat sebuah anak panah mengenai lengan atas kirinya. Tubuhnya terjatuh dan bergulingan di dataran menurun.
DRAP! DRAP!
Orang-orang berpakaian serba hitam itu kembali.
Seakan paham apa yang sudah terjadi, pangeran memaksakan tubuhnya lagi untuk berdiri dan kembali berjalan. Langkahnya terasa berat karena anak panah itu masih menancap di lengannya.
Mereka datang mencarinya lagi, maka kemungkinan terburuk adalah Panglima Nar tidak selamat.
Rasa nyeri berkat anak panah itu mulai menjalar, membuatnya merasa bahwa pelarian ini akan sia-sia. Hanya soal waktu dia akan menyusul ayah, ibu, serta kakak-kakaknya yang mati terbantai di dalam istana.
"Tetaplah hidup... tetaplah hidup..."
Kalimat terakhir sang ratu sebelum dia mati karena kepalanya putus ditebas di depan mata terdengar bersahut-sahutan di sekitarnya.
Tangan kanan itu berusaha mencabut anak panah yang sejak tadi bersarang di sana. Menggigit bibir dilakukannya agar tidak berteriak, lidahnya bahkan berdarah karena ikut tergigit. Lubang dan daging yang terkoyak menjadi bonus setelah tercabutnya anak panah itu.
Dia merobek bajunya, lantas mengikatkannya asal pada luka di lengan kiri dengan tangan gemetar. Sekuat mungkin tidak mengeluarkan suara meski itu berbanding terbalik dengan sekujur tubuhnya yang amat kesakitan.
DRAP! DRAP! DRAP!
Mereka sampai di hutan!
Pangeran muda itu mengatur napas dan berdiri dengan susah payah. Tapi baru satu langkah, dia sudah kembali terperosok, menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Rasa sakit yang tak mampu lagi ia tahan hingga membuatnya berteriak kesakitan.
DRAP! DRAP! DRAP!
Tidak, dia ketahuan!
Suara langkah mereka terasa begitu dekat.
Tangan kanannya menekan luka itu untuk menahan rasa sakit. Mencoba kembali berdiri dengan sisa-sisa tenaga, pangeran terseok lagi mencari tempat persembunyian.
Entah ini hanya perasaannya saja atau tidak, suhu disekitarnya berubah turun drastis. Udara menjadi begitu dingin dan menusuk tulang.
Dan dari langit, sebuah petir tiba-tiba menyambar.
BLARR!
Suaranya terdengar mengerikan.
Dan dari petir itu, tepat di depannya, dua buah menara batu setinggi tiga meter terlihat keluar dari tanah. Menara-menara itu memunculkan sebuah cahaya putih dengan kabut tipis.
Sempat melupakan bahwa dirinya tengah dikejar, pangeran nampak terbius akan keindahan gerbang itu.
DRAP! DRAP! DRAP!
"ITU DIA!"
Tidak! mereka sampai!
"BUNUH HABIS KELUARGA KERAJAAN!"
Pangeran melangkah mundur dan tubuhnya tiba-tiba tertarik dengan kencang.
Bersamaan dengan tubuh pangeran yang masuk ke dalam cahaya putih berkabut itu, gerbang batu menutup sempurna.
Meninggalkan semua orang yang mengejarnya.
Apakah... apakah dia selamat?
****
Memories of The Ephemeral
---------------------
Revisi:
Kalianda, 12 Juli 2021
PARANA OH NANA
ESTÁS LEYENDO
Memories of The Ephemeral
Ciencia FicciónNicholas Defandra Hannes Jan Sullivan. Adalah seorang putra mahkota yang keluarganya mati terbantai dalam satu malam. Dan kini, bangsawan keturunan Sullivan yang terakhir itu berakhir dengan pengejaran. Dia berlari ke hutan dan tanpa sadar membuka g...
