KRRAK..KRRAKK..! Bunyi berderak-derak bergerak bergelombang. Hembusan angin mengikuti gelombang gerakan pepohonan. WHHUUZZ...WHUUZZ...! Ranting-ranting bergerak. Daun-daun ikut bergelombang. Beberapa binatang malam terkejut dan keluar dari sarang. Melarikan diri. Mencari tempat aman. Sesuatu bergerak-gerak di antara pepohonan. Cepat. Trengginas. Pada satu saat, gelombang bergerak sejajar dengan bumi. Pada saat lain, bergerak naik meninggalkan bumi.
Di antara cahaya bulan yang lemah, tiga sosok bayangan bergerak di antara puncak-puncak pohon. Mereka bergerak dengan cepat. Gesit. Laksana burung malam. Bukan orang biasa! Kemampuan mereka bergerak dengan cepat di antara pepohonan menunjukkan bahwa mereka punya kelebihan dibandingkan orang kebanyakan.
Yang dapat melakukan gerakan seperti itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu olah kanuragan. Salah satu sosok dari ketiga bayangan tersebut, yang berbadan paling besar, terlihat paling lamban bergerak. Ia memegang tombak panjang di tangan kanannya. Satu lagi, paling lincah, berbadan ramping dengan pedang disangkutkan di punggungnya. Jika dilihat dari perawakan tubuhnya, nyatalah bahwa ia adalah seorang wanita. Sedangkan satu orang lagi, tidak terlihat membawa senjata. Ketiga sosok bayangan itu bergerak ke arah barat.
Dari ranting ke ranting. Dari dahan ke dahan. Ketiga ahli ilmu olah kanuragan bergerak. Saling menyusul. Saling berlomba. Tujuan yang pasti membawa mereka bergerak. Melompati pohon. Menerjang udara. Setelah beberapa lemparan tombak gerakan ketiganya melambat. Pada pohon-pohon di tepi hutan, ketiga ahli ilmu olah kanuragan itu mengakhiri gerakan dan lompatan mereka.
Pada sebuah pohon besar mereka berhenti. Mereka bertiga berdiri pada ranting-ranting pohon. Ranting-ranting pohon itu bergerak-gerak dan terayun-ayun karena menahan berat beban. Sebuah pameran ilmu meringankan tubuh yang mumpuni. Ketiganya menatap ke arah titik yang sama.
"Engkau yakin dia ada di sana?" Sebuah pertanyaan dengan suara berat dan penuh kewibawaan keluar dari mulut salah seorang dari mereka. Ia, yang tidak membawa senjata, menunjuk ke sesuatu di kejauhan. Lelaki itu hanya menguji. Ia percaya dengan apa yang akan dikatakan dua orang yang menyertai dia.
***
Rumah besar dengan halaman luas itu terletak di pinggiran sebuah tanah perdikan. Rumah terdekat berjarak beberapa puluh tombak dan dipisahkan oleh kebun yang rimbun. Hutan kecil di lereng bukit bahkan lebih dekat rumah itu jika dibandingkan dengan rumah lainnya. Terpencil. Terpisah dari kumpulan rumah lainnya. Pemilik rumah itu adaah Arya Diwangkara.
Arya Diwangkara adalah seorang pedagang kain. Sering kali ia harus meninggalkan anak dan istrinya. Meskipun demikian, ia tidak suka bergaul dengan orang-orang, kecuali untuk urusan dagang. Letak rumahnya menunjukkan ketidakinginannya untuk sering bertegur sapa dengan orang-orang dari tanah perdikan.
Hening. Rumah Arya Diwangkara terperangkap sepi. Tidak ada tanda kehidupan selain lampu minyak kelapa yang menempel di dinding. Api kecilnya bergerak dengan genit. Angin yang bergerak lambat menabrak semua yang berada dalam lintasannya, termasuk api yang menyala pada lampu tempel. Tidak terlihat ada pergerakan manusia di bagian luar rumah Arya Diwangkara. Binatang piaraan juga tidak terlihat di pelatarannya. Sunyi.
***
"Arya Diwangkara dan istrinya tinggal di sana," si wanita berpedang memberikan jawaban. Pasti. Tanpa keraguan. Ada yang bergejolak dalam dadanya. Ia mengenal Arya Diwangkara. Keengganan berurusan dengan Arya Diwangkara muncul dan menggerogoti pikirannya.
Sinar rembulan merayap di tubuh si pria tak bersenjata. Tubuh yang kekar, liat karena terbiasa dengan latihan olah kanuragan. Lelaki itu mengenakan topeng Panji Asmara Bangun. Wajahnya tertutupi sebuah topeng kayu berwarna hijau. Dari balik rajah mata berbentuk bulir padi, sang pria menelisik kebenaran pernyataan wanita di sebelahnya. Ia menoleh ke arah lawan bicaranya. Menyelidik. Mencari kesungguhan. Panji Asmara Bangun tahu berberapa potong cerita antara wanita yang berdiri di sampingnya dengan Arya Diwangkara. Ia hanya ingin memupus sangsi dalam hatinya.
ESTÁS LEYENDO
ARYA DAHANA
Misterio / SuspensoNovel 'ARYA DAHANA' adalah novel yang bergenre Action Thriller dengan setting waktu pada jaman Kerajaan Demak sepeninggal Pangeran Sabrang Lor. Sebagai konsekwensi dari setting waktu tersebut, maka novel "ARYA DAHANA' juga merupakan sebuah novel sil...
