Lies after Lies

7 1 0
                                        

Nawang telah menghitung dua nada tunggu sampai panggilannya berhasil diangkat. Wanita itu menghela napas pelan ketika Angkasa menyapa tenang dari seberang sambungan.

"Janu?"

"Iya?"

"Kamu di mana?"

"Di kafe dekat kantor. Kamu mau titip sesuatu?"

Segelintir perasaan lega melingkupi hati kecil Nawang. Suaminya tidak berbohong dan ia masih bisa menaruh kepercayaan penuh untuk Angkasa. "Hari ini pulang jam berapa?" Nawang bertanya seolah mengabaikan tawaran sang pasangan hidup.

Angkasa tidak segera menjawab. "Kenapa? Kamu mau aku belikan sesuatu dari kafe?"

"Bukan—" Apa Angkasa mencoba menghindar? "—aku ingin memastikan porsi makan malam yang harus kubuat. Kamu pulang jam berapa?" Nawang mengulang kembali pertanyaannya, menyampaikan secara implisit bahwa ia memerlukan jawaban pasti.

"Aku nggak akan pulang," Kalimat terjeda, "masih ada laporan dari cabang Lombok yang harus aku review."

Nawang berusaha percaya. "Laporannya penting banget, ya?" Napas menderu, hatinya gagal menguatkan diri ketika lagi-lagi ia hanya menjadi opsi yang tak pernah dipilih Angkasa.

Angkasa menggumam pelan, setelah membiarkan tiga detik dihuni senyap.

"Semua itu kamu kerjakan sendiri? Kamu, kan, pimpinan, Janu." Pikiran Nawang kontan memutar sejumlah kenangan makan malam tanpa keberadaan Angkasa di sampingnya. Entah mengapa hal itu justru menarik air mata keluar dari pelupuk, mengundang isak kecil tertahan di balik tenggorokan.

Dan terulang lagi, ujung sambungan tak menyahut apapun.

"Janu?" Nawang pikir suaminya akan segera menjawab atau setidaknya mengalihkan pembicaraan seperti awal percakapan. Namun kepasifan Angkasa malah membuka jalan baru untuk wanita itu. "Kamu di kafe dengan siapa?" Ia akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Nawang hanya menginginkan sebuah bukti kecil saja, jawaban suaminya yang menangguhkan semua keraguan.

Namun masih saja hening yang menutup tanya.

"Janu? Sayang?"

"Aku sendirian."

Retak, Nawang menyerah. "Okay, jangan lupa makan, ya, Sayang. Kalau lelah, istirahat. Aku nggak mau kamu sakit." Telepon diputus segera. Nawang menjatuhkan diri di atas rumput taman belakang, berjongkok seolah serpihan hatinya ada di sana. Angkasa berbohong, Angkasa—

Ponsel Nawang kembali bergetar. Nama Danika muncul sebagai ID caller.

Menggeser ikon berwarna hijau, Nawang tak harus menunggu Danika untuk mengucap sapa lebih dulu. "Dan, Janu bohong, Dan..."

_____

Bite the BulletTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang