Cowok bermata sembab dengan beberapa luka pukul diwajah, memandangi rumah besar berwarna putih tulang, dengan tatapan tak terbaca.
Cowok itu menarik kedua ujung bibir tipis "selamat tinggal" ucapnya tanpa mengeluarkan suara.
Sepinya dini hari, angin dingin yang masuk melalui jendela terbuka, semakin membuat hati cowok itu membatu layaknya bongkahan es.
Cowok itu mendesah pelan, menoleh kedepan "jalan, pak" katanya yang langsung dituruti supir taxi.
Mobil biru itu berhenti di sebuah taman dekat lapangan basket outdor Global. Disana banyak ruko-ruko yang belum buka. Pasalnya memang terlalu dini untuk membuka toko.
Cowok bermata sembab yang kini menggunakan kaca mata bening, melihat bangku putih ditengah taman dengan tatapan menerawang.
Ingatannya kembali ke beberapa bulan lalu. Tepatnya saat ada seorang cewek berambut panjang lebat sedang memakan es krim bersama anak-anak dengan tawa yang tak pernah luntur. "Gue bakalan kangen tempat ini" katanya pelan.
"Sorry, gue kira ketinggalan. Makannya gue simpen dulu"
"Lo buat grup chat tugas gue heboh tau enggak. But it's ok. Niat lo baik"
"Langsung ke bandara, pak"
***
Tetott !!
Ini tuh sequel Cotton Candy yang udah end di lapak sebelah (Aplikasi lain) tapi bisa dinikmati tanpa membaca CC lebih dulu.
Kenapa nulis dilapak lain juga ?.
Jujur sih, gue nyaman disana. Soalnya gak ada fans brutal atau fans gak tau diri yang chat gak penting atau ganggu gitu.
Padahal aslinya tuh enak disini. Solanya gue udah lumayan menguasai Wattpad. Kalo di lapak sebelah masih belum begitu menguasai.
Kalo enggak mager, aku bakal buat CC versi Wattpad.
Jadi selama ini aku ngilang tuh nulis di lapak sebelah. Heheh... padahal yg Baker belum selesai, tapi konsepnya udah end.
KAMU SEDANG MEMBACA
A minor
Fiksi RemajaPergi untuk menyendiri, keluar dari zona aman, memulai hidup baru, menenangkan fikiran adalah pilihan terbaik untuk melupakan masalalu, right ?. Tapi bagaimana kalau pelaku dimasalalu kembali disaat kamu sudah memulai yang baru ?. Apa kamu akan mel...
