Pagi ini aku duduk termenung di depan teras rumahku. Bersama kicauan burung-burung dan hangatnya mentari yang menyambut semesta.
Udara yang sejuk dan tenangnya suasana mengingatkanku akan sendu dan rapuhnya diriku dikala itu.
Penyesalan tanpa henti datang dalam kegelapan, kering tanpa kehidupan. Hingga akhirnya satu uluran tangan datang padaku dan aku kembali menemukan tenaga.
Kala itu...
Namaku Klara Amanda. Panggil saja aku Klara yang tercipta antara luka dan lara. Aku adalah siswi dari SMA Angkasa. Ya, salah satu sekolah swasta ternama didaerahku.
Pembulian, hujatan, diskriminasi telah aku dapatkan sejak kelas sepuluh semester satu.
Awal pertama kali tahun ajaran baru di sekolahku tidak ada yang berbeda. Semua masih baik-baik saja. Hingga entah karena rumor dari siapa yang membuatku diasingkan oleh teman-temanku sendiri.
Senin pagi kala itu untuk pertama kalinya aku merasakan hal yang aneh saat sekolah. Tatapan sinis dan desis berbisik mulai membuatku tak nyaman. Hingga akhirnya aku sampai pada madding sekolah dan membaca berita terhangat yang baru saja ditempel.
Aku lantas mengambil dan merobek secarik kertas berita terhangat tersebut. Ku dengar sorak tawa mengejek dari sekelilingku. Sambil tertawa mereka juga mengejek dan bersorak "Dasar anak haram".
Tau apa mereka tentangku dan menyebar sampah murahan yang entah darimana datangnya. Ku lanjutkan saja berjalan menuju ruang kelasku tanpa menghiraukan sorakan mereka yang masih terdengar.
Sesampainya di kelas, kutemukan kembali kata-kata yang mengejekku di papan tulis yang bertuliskan "KLARA ANAK HARAM". Kuambil penghapus dan kuhapus tulisan tak pantas tersebut. Ku lanjutkan langkahku menuju ke tempat dudukku sendiri.
"Ra, kamu itu dari keluarga broken home ya?" tanya Bella temanku sebangku.
"Iya, tapi aku bukan anak haram!" jawabku sambil menatap tajam matanya.
"Tapi, kata orangtuaku aku tidak boleh bergaul dengan anak yang orangtuanya cacat. Pasti nanti anaknya jadi nggak bener sering kena masalah" ucapnya sambil mulai menjauhi aku.
Aku berusaha tetap sabar dan masih mencoba mengontrol sesuatu yang bergejolak. Dengan tenang aku pun menjawab "Nggak semua anak broken home itu hidupnya ujung-ujungnya juga cacat. Semua tergantung kesadaran dan penanaman moral dasar dan dedikasi yang diberikan orangtua dan sekolah. Keluargaku memang cacat, tapi ibuku tidak pernah berhenti untuk selalu mengingatkanku pada hal yang baik dan benar"
"Jika keluargamu saja cacat pasti sebentar lagi kamu akan menjadi orang nggak bener! Apalagi kamu hanya hidup dengan ibumu. Mana mungkin ibumu bisa berjuang untukmu sendirian tanpa ada campuran uang haram didalamnya dan pasti kamu anak hafam kan!" kata salah satu teman kelasku yang sudah mendapat sorakan riuh seolah apa yang dia katakan itu benar.
Tak tahan lagi dengan apa yang aku dengar, aku berlari meninggalkan kelas dan menuju rooftop sekolah. Tempat yang jarang dikunjungi namun siapa tau kutemukan sesuatu yang memberikan ketenangan dan kedamaian sejenak disana.
Di keheningan dan hembusan angin, aku menangis dalam diam dengan sendu. Memangnya apa yang salah dengan keluargaku. Bukankah seharusnya yang salah itu keluarga mereka. Sebenarnya pelajaran moral apa dan dedikasi seperti apa yang diajarkan oleh keluarga sempurna? Bukankah seharusnya lebih baik namun, lihatlah apa yang diperoleh dari anak-anak mereka. Jadi yang perlu disalahkan anak-anak mereka atau orangtua yang mendidiknya?
Lagipula aku juga melihat sendiri perjuangan ibuku dengan peluh keringat menetes tanpa ada campur tangan uang haram.
Kuputuskan untuk diam dan tetap membiarkan apa yang terjadi hari ini. Mungkin hari esok gosip hari ini akan sirna dan hari-hari akan berjalan semestinya seolah tak terjadi apa-apa.
___________________________
Hari berganti hari hingga tahun berganti tahun tidak ada berubah. Suasananya masih sama seperti aku meninggalkan kelas dikala itu.
Bukannya mereda dan sirna tetapi hal yang lebih buruk telah aku dapatkan seiring berjalannya waktu.
Teror dan pembulian semakin membuat hari-hariku terasa berat. Aku tidak pernah memberi tahu siapapun tentang hal ini termasuk kepada ibuku sendiri.
Aku hanya bisa terdiam dan tetap berusaha sabar saat batu-batu keras itu dilemparkan padaku.
Hingga lama kelamaan aku menderita Self injury. Entah kenapa setelah aku menyakiti diriku sendiri aku merasa lebih lega daripada harus terus menerus menangis dalam diam.
Aku semakin senang menyakiti diriku sendiri karena tidak ada yang bisa mengerti diriku kecuali aku sendiri.
Aku lebih senang melihat darah selalu keluar dari tubuhku daripada memikirkan pembulian yang sering aku terima.
Aku sadar bahwa batas kesabaranku sudah habis dan aku tidak bisa lagi menerima semua kata-kata tajam yang merusak mentalku. Mungkin sebentar lagi akan kuputuskan saja bagaimana akhir dari rintangan hidup yang terima.
Malam itu hujan sangat deras mengguyur kota ini. Derasnya hujan saja bahkan tahu betapa beratnya beban hidup yang sudah aku jalani.
Aku memutuskan untuk mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu untuk ibuku. Ku tuliskan permintaan maafku karena akan meninggalkannya sendirian. Kutinggalkan secarik kertas itu sebagai surat terakhir dariku untuk ibuku.
Ku putuskan untuk membanting vas bunga yang ada dikamarku hingga pecah. Lalu aku goreskan pecahan tersebut ke nadiku berharap agar aku cepat meninggalkan dunia ini. Hingga darah segar mulak mengalir lemas dan lama kelamaan aku membuatku lemas dan tak sadarkan diri.
Pagi harinya...
Aku menemukan diriku terbaring di ruangan serba putih dengan aroma obat yang menghampiri indra penciumanku.
Aku melihat ibuku disamping ranjang tidurku terbangun lalu mengecup keningku dengan tatapan sendunya.
Ia meminta maaf padaku atas semua kejadian buruk yang selama ini aku alami. Ia berpikir bahwa semua ini salahnya. Namun, bukankah seharusnya yang disalahkan adalah mulut dari orang-orang yang tam bermoral itu?
Ku raih tangan ibuku dan menangis seraya berkata bahwa ini bukanlah salahnya. Aku juga meminta maaf karena hanya mengambil keputusan tanpa memikirkan resikonya.
Aku usap air mata ibuku yang juga ikut menangis. Betapa bodohnya aku yang tega ingin meninggalkan ibuku sendirian.
Ku putuskan untuk bangkit dari semua keterpurukan bersama sebuah uluran tangan dari malaikat dan juga pahlawan yang tak lain adalah ibuku.
Aku mulai berusaha mencintai diriku sendiri. Niat dan tekad yang kuat harus kupegang untuk mengembalikan diriku semula.
Tidak perlu selalu terlihat cukup diriku sendiri yang tahu. Tak peduli sekeras apa mereka menggonggong, gak peduli seberapa sulitnya keadaan ini.
Aku ingin menciptakan sayap yang bisa menembus mesin waktu. Sepuluh tahun yang akan datang, mereka akan melihat sayapku menembus mesin waktu melampaui dunia. Saat sayapku telah jadi dan sempurna aku akan memberinha sebuah nama yaitu pembuktian.
Love Myself and Love Yourself!
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE YOURSELF
Short StoryKetika semesta masih berpihak dan berusaha untuk mencintai diri sendiri.
