"Setiap hembusan angin yang menerpa dedaunan sekalipun tak akan terjadi kecuali bila telah ditakdirkan oleh-Nya. Tak ada yang kebetulan."
~Riasdijalloh~
Indahnya mentari pagi menyapa setiap penikmat nya. Tetesan air embun di dedaunan berkilau seperti mutiara indah yang terhampar.
Ada wanita yang wajah nya sangat teduh yang dapat membuat nyaman siapapun yang melihatnya. Bahkan mentari pagipun terlihat tersenyum kepadanya.
Sangat indah😊
Namun keindahan dirinya tertutupi oleh balutan Khimar dan niqab serta baju gamis yang longgar dan ujung pakainya sedikit menyapu pijakan nya. Entahlah mungkin itu pula yang membuat dia sedikit diperhatikan dilingkungan nya karena dia agak berbeda dengan kebiasaan yang lain.
Dia adalah Aniyah Nur salsabila. Anak dari keluarga sederhana yang memahami agama.
Saat ini ia baru pulang dari pondok pesantren. Kembali pulang kepada keluarga yang sangat ia rindukan. Keluarga yang mampu meningkatkan semangat juangnya untuk menyelesaikan pendidikan nya.
Saat diterminal Aniyah sendirian untuk menunggu bus arah ke rumahnya. Karena memang setiap Aniyah pulang dari pondok ia jarang dijemput, karena ayahnya sedang mengajar disalah satu DTA dilingkungannya dan ibunya pasti sedang repot menjait pesanan dan mengurus kedua adiknya.
Namun, tiba-tiba ada seorang laki-laki tinggi menggunakan pakaian serba hitam datang menghampiri nya dan meminta barang berharga yang dimiliki Aniyah.
Laki-laki itu mengancam sambil menarik kerudung Aniyah.
Waktu itu Aniyah hanya bisa berteriak meminta tolong sambil tak berhenti berdzikir dalam hatinya
"Tolooonngg!! Tolooonggg!!".
Saat Aniyah memejamkan mata bruk Suara pukulan keras yang berhasil mendorong jauh penjahat itu.
Aniyah kaget dan langsung mundur.
"jangan macem-macem sama cewe ya. Kecuali Lo banci!!" sambil menarik kerah baju penjahat itu.
Lalu penjahat itu langsung berlari meninggalkan mereka berdua.
Aisyah sedikit mengangkat kepalanya menatap wajah yang menolong nya.
"emhh, terimakasih telah menolong saya " kata Aniyah sambil menunduk.
"Iya sama-sama tenang aja. Tapi kamu gak kenapa-kenapa kan??" kata laki² itu sambil menatap Aniyah penuh kekhawatiran.
"alhamdulillah saya baik-baik saja" kata Aniyah sambil menatap laki² yang menolongnya untuk meyakinkan dan menunduk kembali.
"okeh syukur kalo gituh. Mau saya anterin kamu pulang??"
"Emhh tidak usah terimakasih, saya tidak mau merepotkan kamu lagi" jawab Aniyah dengan nada bersalah.
" ya udah saya temenin kamu sekarang ya sampai bus yang kamu tunggu datang. Aku juga gak bisa ninggalin cewe sendirian kaya gini"
Selama itu hanya hening yang mengisi antara mereka, tak ada pembicaraan lain. Jujur Aniyah begitu merasa canggung, ia kurang merasa nyaman dengan situasi seperti ini. Apalagi laki" itu yang terus menatap nyam
Namun tak lama bus pun datang dan Aniyah pamit untuk pulang.
"Wanita itu..." Laki² itu menatap bus itu sampai menghilang dari pandangannya.
***
Saat sampai dirumah ummi nya membukakan pintu untuk Aniyah dan menyambut nya dengan senyuman hangat untuk anak nya tersayang.
"Assalamu'alaikum wr.wb ummi,"
"Wa'alaikumslam wr.wb anak ummi," jawab ummi-nya dengan penuh antusias.
Namun, ada yang berbeda dirasakan ummi-nya..
"Nak, ada apa?? Kenapa wajahmu seperti ketakutan sayang??" Tanya ummi-nya penuh khawatir.
"Emhh.. Aniyah.. gak kenapa² ko ummi." Jawab Aniyah sambil sedikit mengangkat wajahnya menatap ummi-nya dengan senyuman manisnya.
Sungguh Aniyah tak bermaksud berbohong pada ummi-nya namun Aniyah takut membuat ibunya khawatir.
"Hmm jujur ummi merasa ada yang aneh. Namun alhmdulilah sayang bila kamu memang tidak kenapa². Sekarang kamu masuk ya ganti dulu bajunya."
"Iya ummi makasih." Jawab Aniyah sambil melangkah masuk dan menyimpan sepatutnya dirak dekat pintu.
Sebenarnya bukan hanya karena penjahat itu yang membuat Aniyah sedikit resah. Namun, Aniyah ingat pada laki-laki yang menolong nya tadi. Ia seperti mengenalinya, namun siapa ya? Dimana ia pernah bertemu?
Belum mendapatkan jawabannya Aniyah malah ingat tadi Aniyah pulang laki-laki itu masih berada di halte itu bukan. Bila preman itu kembali bagaimana?
Astagfirullah, Aniyah mengusap wajah nya kasar.
Jujur Ia tak tenang.
Dan Aniyah memilih membersihkan dirinya dan mengambil air wudhu untuk segera mengadu kepada sang pencipta, yang hanya kepadanya lahh Aniyah memohon perlindungan dan kebaikan untuk nya dan orang-orang yang begitu baik padanya.
YOU ARE READING
Takdir yang menuntunku pada-Mu
Teen FictionSetiap perjalanan hidup memiliki pelajaran tersendiri untuk pemerannya. Selalu ada hikmah yang tersimpan untuk kita ambil. Masalahnya, apakah kita ingin mengambilnya untuk sebuah kata 'masa depan' atau membiarkannya hanya menjadi sebongkah kisah yan...
