Sara lakoni peran dalam semestanya yang lain, menohok fakta di balik wujud peranan gadis sempurna impian seantero manusia di bumi. Hiperbola memang, apabila ditilik lebih dalam tak seorang pun bersalah untuk mengutarakan. Tak ambil pusing meneliti hingga menyita waktu dengan ending murahan, ia pikir. Mengasingkan persona yang ter-rupa, mengundang muak torehan sorot menyedihkan orang lain kala menatap.
Kepergian pria paruh baya melepas tanggung jawab terhadapnya, gambaran tak mengharap ekspetasi penuh suka dengan fakta duka di luar akal sehat ia lakoni, selama satu dekade terakhir. Luka demi luka terlukis samar pada lekuk tubuh dalam bentuk tak lagi sempurna, kelewat ramping seakan daging enggan berada dalam tubuhnya. Menampakkan salah seorang pesakitan penuh luka tak tertampak dengan dalih gadis impian sebagian dari manusia. Jiwa memberontak tertahan, mengesampingkan hati mematuhi hasrat tubuh hingga menyekat akal sehat.
Asal muasal datang serupa bunga tidur sebagaimana orang lain ucap, hanya salah satu dari ratusan pesakitan ber-alibi baik – baik saja. Mengutus niat keji akan opsi terakhir yang ia genggam hingga berakhir tidak baik – baik saja. Harapan tak pula layak ia kemas dalam hati, seakan opsi terakhir kian tertanam pada sel – sel otaknya. Berniat amat mempraktikkan hingga bersinggah di tempat tak seharusnya. Neraka.
Hanya saja keberuntungan tak memihaknya kala itu atau sebaliknya, sekujur tubuh menegang dengan mata terpejam. Angin malam yang sangat dingin menerpa wajahnya, berdiri di tengah malam dengan iringan musik kendaraan yang saling bersautan. Tak merasakan hal apapun hingga suara berat terdengar, menusuk sunyi nya malam. "Kau- siapa namamu?" Lantas ia berbalik, memunculkan satu sosok tak dikenalnya. Mengerutkan dahi dengan tatapan penuh tanya.
"Sa-ra" ucapnya mengeja huruf pada papan nama milik Sara. "Sara, perkenalkan, aku Kei." Sejak itu, perasaan bergejolak tak biasa hinggap pada tubuhnya. Mengenyahkan seluruh rasa sakit kala datang, menemukan secercah harapan yang telah lama hilang. Rasanya kau akan memiliki semesta yang baru, maka nikmatilah. Begitu suara hati ikut andil. Juga, ekspresi iba itu, ditunjukkan dalam arti lain. Artian tulus dalam definisi sesungguhnya, take and give.
-
Dalam kurun waktu cukup lama, tak banyak perubahan yang ditunjukkan oleh Sara. Alam tak biarkan fakta abstak terungkap dalam semesta miliknya, sedikit menyulitkannya tetapi sejauh mereka tak mengusik lebih banyak mengenai catatan masa hidupnya, maka ia tak mempermasalahkannya. Jarang memperlihatkan bahkan seulas senyum pun, melengkapi perbincangan hangat yang tak kalah menyenangkan pada pagi hari ini. Sorotan pun tak sedikit tertoreh padanya.
Jelas tetapi samar merupakan hal kontras ketika membicarakan perihal senyum Sara, merasa jengah kala dirinya mendengar salah seorang menyebut namanya, tak lupa akan sorotan yang mereka berikan.
Langkah kaki terarah pada tempat yang cukup strategis, berjalan beriringan dengan teman prianya. Tawa terdengar dari seorang pria, tepat ketika mendaratkan bokongnya pada tubuh kursi. "Aku tahu kau cukup terkenal, jadi biasakanlah telingamu." Sara merotasikan bola matanya, merasa cukup teringat pelik kisahnya. Kini, ia mesti melazimkan hal lain.
Tak langsung menjawab, ia mengaduk pelan makanannya kemudian berujar, "Ingat detensi yang terarah padaku, aku sudah muak dengan itu tak lagi telingaku mendadak tuli mengindahkan ucapan mereka." Cukup dengan kalimat terucap pada mulut, teralih mengarahkan atensi pada seseorang tengah menahan gelak tawa nya. Tersamar jelas sepintas lekungan pada bibir gadis itu. Dalam satu waktu, Kei sempat melihatnya.
"Apa kau baru saja tersenyum?" tanya pria yang tengah menyesap minuman miliknya, Sara sendiri senantiasa menatap lurus dengan atensi yang sama. Hingga gadis itu tak lagi menaruh atensi pada pria tengah melepas tawanya, sejak dua pasang mata tersebut beralih melihat presensi dirinya. Cukup lama dengan itu hingga Sara berucap demikian.
YOU ARE READING
Hurtless
Short StoryShort Story ✓ . . . . . Kala aku temukan arti "take and give" yang sesungguhnya. . . . . . . . I made this for my school work, and I'm working on a long version of it. I wish i could!
