"Oke, saya berangkat sekarang." sambungan teleponpun terputus.
"Pergi lagi?"
"Iya, maafin kakak."
"Nggak papa, udah biasa." Seungmin melanjutkan kegiatannya membaca buku. Ia tak terkejut ketika kakaknya sering mendapat panggilan mendadak untuk pergi ke luar negeri. Wonpil sering merasa tak enak hati meninggalkan Seungmin sendiri di apartemen mereka. Padahal Seungmin tak terlalu memikirkan itu. Ia paham bahwa kakaknya yang mengambil peran sebagai ayah dan ibunya yang telah tiada itu bekerja keras demi dirinya. Tapi bisa dibilang Wonpil beruntung. Ia hanya perlu membuat perusahaan ayahnya berkembang saja, bukan memulainya dari nol. Wonpil yang berhasil mendirikan anak perusahaan di 9 negara adalah alasan mengapa ia sering mendapat panggilan mendadak ke luar negeri.
"Kamu besok udah mulai ujian?" tanya Wonpil sembari mempersiapkan kebutuhannya.
"Iya." Wonpil terdiam. Ia semakin merasa tidak enak karena di masa ujian akhir sekolah Seungmin, ia tidak bisa menemani. Tangannya meraih ponselnya di atas meja ruang tamu dan menuju ke dapur sambil menelepon seseorang. Seungmin tak memperhatikan kakaknya yang sibuk mondar-mandir.
"Min, dengerin kakak." Seungmin mendongak ketika Wonpil berdiri di hadapannya.
"Kamu pilih tetap di sini ditemani Chan, atau kamu yang menginap di apartemen Chan?" Seungmin mengerutkan keningnya.
"Kak Chan? ngapain?"
"Kakak mungkin pergi agak lama. Kamu harus ada yang menemani selama ujian ini." Seungmin memutar bola matanya malas.
"Biasanya aku juga sendiri di sini nggak papa. Lagian kenapa Kak Chan sih."
"Ya kan dia tahu kamu dari kamu kecil, Min. Udah nggak ada tapi tapi lagi, kakak nggak mau kamu sakit atau kenapa-kenapa waktu ujian." Seungmin mendecak kesal tapi hanya diam tak mengeluh. Jujur saja walau Chan, sahabat Wonpil itu tahu Seungmin sejak dulu, ia tetap merasa canggung. Seungmin tak pernah bicara padanya selama ini, selalu saja Chan yang mengajaknya mengobrol tapi Seungmin hanya menjawab seperlunya saja. Sebenanrya Seungmin tak hanya begitu ke Chan, tapi ke semua orang. Ia terlalu cuek dan malas membuka hubungan dengan orang baru. Itulah mengapa Seungmin hanya memiliki dua orang teman, Felix dan Jisung. Itupun Seungmin hanya sebagai pendegar ketika kedua temannya mengoceh. Dan sekarang malah ia akan ditinggal kakaknya bersama orang lain. Walaupun Chan sudah dianggap kakaknya sebagai saudara, tetap saja Seungmin merasa tak nyaman.
"Yaudah. Biar dia ke sini aja. Aku malas membereskan barang-barangku." Wonpil akhirnya tersenyum lega. Ia segera meminta Chan untuk menuju apartemennya sekarang. Wonpil ingin memastikan Chan benar-benar datang dan tidak diusir oleh adiknya.
Sekitar 15 menit berselang, Chan datang membawa dua box ayam. "Kok cepet banget?"
"Ya kan lo mau pergi. Makanya gue buru-buru." Chan meletakkan box berisi ayam di depan Seungmin.
"Hai." Chan mencoba menyapa. Ia tahu adik sahabatnya itu tak akan menjawabnya.
"Seungmin, kakak berangkat ya, kamu baik-baik sama Chan, jangan sampai sakit, biar lancar ujiannya. Chan titip adik gue ya, marahin aja kalau bandel."
"Siap bos." Chan menepuk bahu temannya. Seungmin tetap saja diam walau Wonpil pamit padanya. Chan membantu Wonpil mengangkat kopernya sampai di bawah. Saat kembali ke atas, iya tak menemukan Seungmin di tempatnya tadi.
"Min? lo di mana?"
"Apa?" Seungmin keluar dari dapur membawa piring dan jus jeruk. Ia menjawab Chan dingin lalu duduk di sofa depan tv.
"Makasih loh udah ambilin piring." Chan duduk di sampingnya sambil tersenyum sumringah.
"Nggak." Seungmin menepis tangan Chan yang hendak meraih piring Seungmin. Chan mengalah, ia beranjak menuju dapur untuk mengambil piringnya sendiri.
![stigma || chanmin [END]](https://img.wattpad.com/cover/206966397-64-k789337.jpg)