Gibran Argantara?
Siapa yang gak kenal dengan Gibran Argantara? Gibran Argantara sesosok lelaki yang mempunyai wajah sangat tampan bahkan hampir mendekati kata sempurna. Bahkan hampir seluruh siswa SMA Cemara menyukai Gibran karena wajah tampannya itu. Tatapan matanya setajam elang, hidung mancung, lengan seragamnya selalu di gulung memamerkan otot lengannya, seragam yang keluar, dan rambut berantakan.
Gibran mempunyai geng motor yang dia sendiri ketuai namanya 'RAVENGER', berisi dari 200 lebih anggota yang berasal dari berbagai macam sekolah. Ravenger gak seperti geng motor lainnya yang sering membahayai masyarakat sekitar, mereka juga bukan gangster berbahaya. Gibran mempunyai lima sahabat yang sama nakalnya kayak dia, walaupun nakal mereka gak pernah yang namanya ngerusak cewek.
Ayah Gibran itu mendidik Gibran dengan keras makanya gak heran Gibran menjadi anak yang keras kepala dan pembangkang. Gibran sendiri juga gak suka di atur-atur sama siapa pun. Ayah Gibran adalah musuh terbesar pertama yang Gibran miliki, sifat keras ayahnya membuat nyawa sang ibu menghilang. Gibran yang masih menganggap kepergian sang ibu karena ulah sang ayah sangat membenci ayahnya.
Gibran itu gak suka sama orang yang suka cari gara-gara sama dia, belum lagi mereka so-sok an ngatain Gibran giliran di samperin + di buat kapok dia malah ngadu sama orang yang lebih tua. Kalo kata Gibran sih mereka itu belagu. ya belagu.
"Gak usah cari gara-gara sama gue kalo lo masih mau hidup lo damai" -Gibran Argantara
#####
"GIBRAN!!"
Gibran yang sedang berjalan di koridor sekolahnya menoleh ke arah sumber suara, Gibran yakin kalau teriakan itu berasal dari salah satu kelima temannya yang abstrak. Benar saja teriakan itu berasal dari Rio salah satu temannya yang mempunyai kulit jauh dari kata putih, Rio mulai berjalan ke arah Gibran dan merangkul pundak temannya itu.
"Yo wassap brother" sapaan santai keluar begitu saja dari mulut Rio.
"Kantin dulu kan bos?" pertanyaan dari Rio langsung dijawab dengan anggukan oleh Gibran.
Mereka berdua berjalan dengan santai ke arah kantin, bahkan sesekali Rio mengedipkan matanya ke arah kerumunan cewek-cewek SMA Cemara. Gibran yang ada di samping Rio hanya memasang wajah datar andalannya, dengan tangan kiri di masukan ke saku celananya. Sesampainya di kantin mereka sudah di sambut dengan keempat temannya yang sudah duduk manis di bangku kantin
"Yo guys wassap" lagi-lagi sapaan tersebut keluar dari mulut Rio, Putra yang ada di samping Rio langsung saja menoyor kepalanya.
"Masih pagi yo jangan mancing" perkataan Agam sontak membuat Rafa yang duduk di sebelahnya tertawa ngakak.
"Lo juga Raf, masih pagi dah ketawa kayak joker" lanjut Agam menambahi
"Masih mending gue daripada joker" sahut Rafa gak terima
"Bacot lo semua" Gibran berkata sambil menatap Rafa datar
"Pagi-pagi dah ngegas aja lo bran, lagi pmr yak?" tanya Rio
"Pmr? apa dah kok jadi pmr?" Agam menyerngitkan dahinya tanda bahwa dia sedang bingung.
"Itu loh gam anak cewek yang sering ngomel-ngomel kalo lagi pmr" Rio berusaha menjelaskan kepada teman-temannya.
"PMI BEGO!" Putra berseru dengan kesal
"PMI mah Palang Merah Indonesia, kok jadi mental ke situ?" kebingungan Gibran membuat Putra diam memproses.
"PMS yang bener" Davin yang sedari tadi terdiam mulai menimbrung.
"Yang bener itu PMS bukan PMR apalagi PMI" Davin mengulangi perkataannya.
"Sejak kapan di ubah?" tanya Rio bingung, seinget dia namanya itu PMR bukan PMS.
"Sejak bel masuk bunyi, dah yok masuk kelas gue belom ngerjain PR" Mereka semua langsung beranjak dari kantin.
"MANG NGUTANG DULU YAK BAKWANNYA!" tebak siapa yang teriak?
#####
Sekarang mereka lagi jam kosong di kelas, para murid tentu saja senang apalagi Gibran dkk. Kelas Gibran sekarang udah rame banget kayak pasar malam, di meja guru udah ada Rio yang memegang sapu layaknya gitar di sampingnya sudah ada Putra yang sedang memimpin lagu yang mereka nyanyikan.
"CACI MAKI SAJA DIRIKU!"
"ANJING! BANGSAT! BEGO!"
"Woyy asu ngapain lu ngatain gue?" Putra berkata tidak terima
"Tadi lo nyuruh di caci maki" sahut Agam santai, Rafa yang duduk didepan Agam langsung melakukan high five.
"Kan gue lagi nyanyi, itu lagu gam lagu" protes dari Putra malah di abaikan oleh Agam, bahkan teman sekelas mereka pun meminta agar Agam aja yang menyanyi.
"Gam lu aja dah yang nyanyi, Putra mah rusuh" perempuan dengan bibir berwarna merah tebal itu berkata.
"Enak aja, bibir lo gue sumpel sini pake sapu" Rio sebagai teman sejati membela Putra
"Udah gausah pada bacot!" seruan yang berasal dari bangku pojok paling belakang membuat mereka semua terdiam, ya orang itu adalah Gibran. Gibran mulai beranjak dari bangkunya dan berjalan keluar dari kelasnya berada.
"Mau kemana bran?"
"Nyebat."
Sekarang Gibran lagi ada di bawah pohon besar yang ada di sekolah mereka, Gibran mulai mengeluarkan sebuah bungkus rokok yang ada di saku celananya. Setelah itu Gibran mulai menyalakan korek api miliknya dan membakar ujung rokoknya, dengan santai Gibran menghisap rokok miliknya itu segumpal asap keluar dari mulut Gibran. Sebenarnya Gibran bukan perokok aktif atau bias di bilang Gibran tidak begitu menyukai rokok, namun dia akan menyesap benda nikotin itu jika sedang stress seperti sekarang.
"Nyebat gak ngajak-ngajak" ucapan seseorang membuat Gibran menoleh
"Tinggal join aja sini gam" sahut Gibran sambil mulai menghisap kembali benda nikotin itu kembali.
Agam mulai mendudukan diri disebelah Gibran dan mulai menyesap benda yang dapat merusak paru-paru itu, Agam mengeluarkan asap dari mulutnya dengan santai.
"Stress bran?" tanya Agam
Gibran menoleh ke arah Agam lalu terkekeh gak jelas, dia mulai menghisap dalam-dalam rokoknya dan membuang puntung rokoknya gak lupa dia injek itu puntung rokok.
"Biasa lah gam" sahut Gibran lalu membaringkan tubuhnya di atas rumput-rumputan itu.
"Kalo mau tidur di uks sono, disini banyak tai kucing" Agam mengingatkan lalu membuang puntung rokoknya dan menginjaknya.
"Iya itu banyak kucing, tainya mah lo" selanjutnya Gibran ketawa gak jelas.
"Lo kalo lagi stress jadi aneh" sambar Agam, lelaki dengan bakat di bidang musik itu mulai ikut membaringkan tubuhnya di samping Gibran.
"Gue kangen nyokap gam"
Hening.
Itu yang mereka rasakan saat Gibran membuka mulutnya, Agam terdiam dia tau pasti Gibran kangen sama nyokapnya dia tau. Sama kayak Gibran sebenarnya Agam juga kangen sama kedua orang tuanya.
"Gue mau ketemu dia gam" lanjut Gibran
"Nanti balik sekolah lo ziarah sono, ntar gue sama anak-anak join dah" sahut Adam
"Iya niatnya juga mau begitu" Gibran membalas ucapan Agam sambil melihat langit yang tertutup oleh daun.
"Sekalian sama anak-anak aja ntar bran" Agam berdiri kemudian membenarkan celananya yang Kotor "Dah kuy kantin dikit lagi mau bel"
Gibran ikut berdiri kemudian menganggukan kepalanya tanda setuju. Kegelisahan hatinya sudah berkurang karena dia udah cerita tadi ke Agam, bahkan Agam memberi saran dan mau ikut ziarah ke makam sang ibunda.
TBC
BERSAMBUNG...
Maaf ya kalo ceritanya aneh dan banyak typo bertebaran
Ini cerita pertama author jadi tolong maklumin ya hehe
hope you guys enjoy the story..
YOU ARE READING
GIBRAN
RomanceGibran Argantara namanya,remaja yang akrab di panggil Gibran ini mempunyai sifat yang arogan,pembuat onar, gak suka di atur-atur, dan semaunya. Gibran juga sudah sering keluar masuk BK karena perbuatannya itu. Suatu hari Gibran mengetahui bahwa musu...
