Siapa yang tidak mengenal Kim Taehyung?
Lelaki tampan bak Dewa Yunani yang terkenal seantero sekolah.
Tiga kata yang menggambarkannya; tampan, nakal, dan playboy.
Tapi siapa sangka, bertemu Bae Irene bisa membuatnya berubah.
Ya. Berubah dengan sang...
Aku Bae Irene. Gadis nerd dari sekolah ternama yang biasa bersembunyi di perpustakaan saat istirahat, dibandingkan harus pergi ke kantin bersama teman satu geng lalu tebar pesona dan membicarakan hal-hal yang tidak penting, atau makan siang bersama pacar tercinta sambil memadu kasih memamerkan kemesraan. Oh no! Itu sama sekali bukan diriku. Aku tidak punya yang namanya geng atau apalah, apalagi pacar. Lihat diriku...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Pria mana yang ingin memiliki pacar sepertiku. Gadis cupu yang tidak pernah bergaul dengan siapapun kecuali Jennie.
Ya, Kim Jennie. Dia satu-satunya yang mau berteman denganku, bahkan dia sudah menjadi sahabatku sejak pertama masuk sekolah ini. Aku juga tidak tahu kenapa dia bisa menjadi sahabatku. Padahal kami berdua memiliki sifat yang sangat bertolak belakang.
Aku lebih suka kesunyian, sedangkan Jennie suka keramaian. Seperti saat ini saja. Jennie sedari tadi sudah misuh-misuh memaksaku untuk keluar dari perpustakaan.
“Rene, ayolah. Cepat selesaikan bacaanmu dan kita segera pergi ke kantin. Aku sangat lapaarrr.” Rengek Jennie.
Aku mengalihkan pandanganku dari buku untuk menatap Jennie yang berada di depanku. Dia memperlihatkan puppy eyes dan wajah imut nya. Benar-benar bukan Jennie sekali. Dengan terpaksa aku segera menutup bukuku dan mengembalikannya ke rak buku.
“Ayo. Tadi kau bilang lapar.” Aku berdiri di samping Jennie yang masih terduduk di kursinya, dan Ia segera menegakkan tubuhnya lalu berdiri dan merangkul lenganku dengan bahagianya.
Aku menggeleng melihat kelakuannya. Lalu kami segera pergi menuju kantin. Seperti biasa, saat jam istirahat kantin pasti penuh. Aku dan Jennie segera mengikuti antrian untuk mendapatkan jatah makan siang. Jennie yang berada tepat di hadapanku terlihat begitu bahagia.
Ya, karena memang gadis bermarga Kim ini sangat-sangat menyukai makan. Setelah mendapatkan semua menu makan siang hari ini, aku dan Jennie segera mencari bangku yang kosong.
Tepat diujung, ada dua bangku tersisa. Tapi, haruskah bergabung bersama mereka?
Ya, mereka. Jeon Jungkook dan Park Jimin. Dua lelaki terpandang disekolah yang begitu dipuja-puja oleh para gadis dan kadang suka seenaknya pada orang lain.
“Woah, Kim Jennie bergabung di meja kami?” sahut Jimin, si pria yang katanya pendek namun memiliki sejuta pesona.
Jennie meletakkan makanannya di meja lalu menyahut, “Yak! Bukankah biasanya aku memang bergabung dengan kalian?!” Jimin hanya tertawa diikuti oleh Jungkook.
Lalu Jennie segera duduk. Aku sedikit ragu sebenarnya untuk mendekat, tapi Jennie sudah menatapku dengan galak, jadi mau tak mau aku menghampirinya dan duduk tepat dihadapan Jennie.
“Oo! Bae Irene ikut bergabung? Kombinasi yang sangat menarik sekali di meja ini.” Kali ini pria bergigi kelinci yang berbicara, Jeon Jungkook.