1_migrasi

137 10 9
                                        

Leoni
_______

Siang itu mentari bersinar, cahayanya dengan angkuh menerobos masuk sela dedaunan. Angin pun tak kalah hebat menggoyang kan ranting pepohonan.

Dibalik Jendela berdebu ini, aku duduk dengan begitu santai. Sepenjang mata mengedar ke luar,hanya ada kendaraan memenuhi jalan. Suara klakson kanan kiri bagaikan alunan ramai membisingi gendang.

Kuselipkan earphone menutup lubang telinga, memutar musik favorit yang selalu ku dengar . Kupejamkan mata sembari berkomat-kamit mengikuti alunan lirik lagu .

Sudah sekitar 90 menit aku duduk di kursi bis yang pengap dan membosankan ini, kubuka handphone dan melihat apakah ada pesan yang masuk, namun hasilnya mengecewakan, ya tentu saja tidak ada, kulihat baterai ku yang merah menandakan sudah hampir habis.

Kemasukan lagi benda tipis itu ke dalam saku hoody maroon dan melanjutkan ritual komat-kamit ku. Hingga suara Abang supir bus membuyar ketenangan yang kuciptakan , ternyata sudah sampai di halte. tanpa mengulur waktu lama,aku pun keluar dan mengambil barang yang di simpan di bagasi bus.

Ku dorong koper yang lumayan berat berisikan jutaan kwintal rindu yang kupendam beberapa tahun ini, baik itu tidak benar. maksudku pakaian dan barang-barang yang kubawa dari Cianjur. ya, hari ini aku pindah kembali ke Jakarta,tempat kelahiran ku.
Aku pindah ke Cianjur 2 tahun yang lalu,itu karena ulah ayahku yang ditugaskan pindah kerja ke sana oleh perusahaan nya, sungguh menyebalkan .

Aku begitu merindukan rumah lamaku, seharusnya aku pulang bersama kedua orang tua ku, dikarenakan harus mengurus surat kepindahan di sekolah lama mengharuskan ku untuk pulang sendiri. Berbekal kan alamat lewat Google map. tentu saja, aku sangat lemah dalam mengingat jalan, apalagi sudah dua tahun tak kembali.

Jarak rumahku masih jauh dari halte, terbesit dalam benakku untuk memesan taksi online lewat handphone. Saat ku raih benda pipih itu dalam saku, ternyata benda itu tak mau hidup, menandakan dia sudah mati, tak berguna.

"Sial" batinku dalam hati menggerutu.
"Gimana dong ,mana jalanan sepi lagi kek hati, gak ada ojeg. ya tuhan bantulah hambamu yang imut ini".

Aku terus berceloteh panjang sembari menelungkup kan tangan menutupi seluruh bagian wajah, berharap ada pangeran berkuda pink yang dengan senang hati menawarkan diri untuk mengantarkan ku pulang.

"Leoni...."

Itu namaku, seperti ada yang memanggilku dari kejauhan. ah banyak yang namanya leoni,  mungkin orang itu memanggil orang lain yang  namanya persis dengan ku.

Suara itu tak lagi terdengar , hanya suara langkah kaki yang semakin mendekat. Auranya sangat mistis bagiku, bulu kuduk ku meremang. hingga sesuatu benda hangat menempel di bahuku.

"Leoni? Hey"

Suara cempreng itu?? Aku seperti mengenalnya, tapi siapa ??

Ku putar leher dengan tangan yang masih menempel pada wajahku, membuka nya sedikit demi sedikit hingga akhirnya ku lihat seseorang berdiri di hadapanku yang tengah duduk, namun tidak dengan wajahnya karena beberapa jariku masih menempel di sana.

Ia mengenakan sepatu putih polos dengan celana jeans, sepertinya dia perempuan, terlihat karena bentuk kakinya yg ramping.

Ku arahkan pandangan dari bawah hingga atas sampai akhirnya aku bisa melihat wajahnya, raut itu seperti familiar, namun aku tidak begitu mengingatnya.

"Kamu siapa?"

"Dih, dasar pikun. Baru 2 tahun gak ketemu aja udah lupa , dahlah males". ucap gadis tidak berselera dan begitu ketus.

"Diem, leoni mikir dulu. Kamu....kamu....kamu Mimin, iya mimin kan? Iya kan,kan kan kan "

"Cerewet!! Dahlah, yu pulang. Mamih lu nanyain tuh, telepon lu juga gak diangkat-angkat, kenapa?"

"Hp nya mati kek perasaan nya leoni. Yaudah yu, badeway Mimin gak bawa mobil atau motor gitu?"

"Bawa motor, ada di depan. Lu jangan manggil gue Mimin dong , jijik gue dengernya , nama gue itu Jasmin farreliyana, nama keren kok diganti jadi burik. Kelamaan di Cianjur sih lu"

"Oh"

"Dih anjir oh doang"

"Yaudah iya, Leo tau kok kalo Mimin rindu sama Leo, cuman sekarang Leo nya lagi capek, yuk berangakat!"

"Pede banget lu, gak ya, gue sih b aja. Eh gue laper nih ,makan dulu yu"

"Tapi mam.."

"Tenang aja,soal mamih lu nanti gue yang bilangin" potong mimim padaku.

"Yaudah deh terserah Mimin aja, leoni juga sebenarnya agak laper sih hehe" ucapku sembari memamerkan runtutan gigi putih,indah nan mempesona.

Tidak banyak mengulur banyak waktu lagi, kami pun langsung pergi  menaik motor Mimin dan menyimpan koper di depan tepatnya dekat kaki Mimin

Di jalan.

"Lu mau lanjut sekolah dimana?"

"Mimin nanya leoni?"

"Menurut lu?"

"Kalem mamang, hmmm leoni sih maunya sekolah di sekolah nya Mimin, kalo bisa mah sekalian satu kelas, pasti seru deh kalo kita sekelas, kayak waktu kita smp dulu " . jawabku Dengan begitu exited, pake banged.

"Bukannya lu di Cianjur ngambil jurusan ips ya? gue kan jurusan bahasa"

"Ya terus?"

"Dasar kudanil ogeb, mana nyambung Bambang, lu anak ips terus lanjut ke bahasa? Dahlah males"

Raut muka Mimin sudah tak bersahabat sekarang ini, "leoni harus ngomong dengan penuh rasa dan mengeluarkan aura ke imutan pada diri leoni biar dia luluh" batinku ber cicit.

"Kata siapa gak nyambung? Ips itu kan mencakup tentang sejarah Indonesia, nah terus ngomongnya kan juga pake bahasa Indonesia jadi bahasa sama sastra kan juga diperluin, nah selebihnya kan leoni bisa nyoba dulu, kan kan kan iya kan ,leoni cerdas kan"

Jelasku panjang padanya agar dia bisa luluh dan meng-iya kan ajuanku. Kulihat raut wajah Mimin seperti pasrah dan tak berselera.

"Serah"

"makasih Mimin,  jadi makin cintah"

Mimin tak bergeming, dia terus fokus pada jalanan dan menyetir dengan begitu hati-hati,hingga sampailah kita di tempat yang dituju.

"Bukannya ini tempat dulu kita suka Nongkrong ya min? Bener kan? Pas kita masih SMP,  Leo kangen deh kopi tarik, apalagi donatnya ituloh ,krimnya yang lumer, Ah udah gak sabar, yu "

"Pecicilan!"

Vote!

DOUNUTWhere stories live. Discover now