The Beginning of everything

90 23 46
                                        

Kota Tangerang

Rintik hujan mulai terdengar beriringan di pagi yang harusnya menampakan sinar sang fajar. Orang-orang yang berlalu lalang di jalan tampak berlarian mencari tempat untuk berteduh. Semua aktivitas terhenti begitu saja hingga jalanan kembali melengang.

Seorang gadis yang sedang melihat keadaan di luar sana lewat jendela kamarnya itu kini hanya bisa mendesah pelan. Ia memang harus berangkat sekolah sekarang namun cuaca tak mendukung perjalanannya.

Dengan langkah yang tergontai ia berjalan ke luar kamarnya, mengambil tas disisi ranjangnya tanpa minat sedikitpun. Rambutnya yang tergerai sebahu itu ia biarkan acak-cakan tanpa ia sisir. Membuka knop pintu dengan sangat pelan.

Sejenak ia menatap ranjangnya sebelum ia kembali menutup pintu kamarnya. Sebenarnya keinginannya untuk kembali terlelap itu tampak sekilas saat menatap ranjangnya, apalagi cuaca hujan sangat mendukungnya untuk cepat terlelap.

Usai pintu kamar tertutup gadis itu berjalan menuju tempat makan, menduduki kursi yang telah tersedia disana. Dilihatnya pria yang duduk dihadapannya dengan mulutnya yang tengah mengunyah makanan begitu lahap.

" Ayah, Liza ke sekolah nggak ya? Hujannya gede banget,mana jauh lagi ke sananya " tanya gadis itu menatap manik hitam pria yang juga tengah menatapnya dan memberhentikan kegiatan makannya. Dipandanginya putrinya itu dengan tatapan datar kemudian tersenyum tipis.

" Berangkat aja Za.. Nanti ayah ada interview di kantor, kamu sekalian aja sama ayah ya? " tanya balik sang ayah dengan senyum tipis yang masih terpampang jelas di wajahnya. Gadis itu hanya mengerucutkan bibirnya dan mendengus kasar mendengar jawaban sang ayah.

" Liza katanya mau membanggakan ayah, jadi jangan mengeluh ya kalau ada halangan kayak gini.. Ini cuma masalah kecil kok, toh kamu biasa ayah antar pake mobil " ucap sang ayah kembali. Kali ini gadis yang dipanggil 'Liza' itu menghela napas kasar dan bibirnya yang mengerucut itu kembali ke bentuk normalnya. Memang ia pernah janji kepada ayahnya jika ia akan membuat ayahnya itu bangga jadi ucapan ayahnya tadi membuat kekesalannya runtuh seketika digantikan dengan rasa bersalah.

" Maaf deh Yah.. Liza cuma masih ngantuk, kemarin malam habis mimpi aneh " ujar Liza merespon ucapan ayahnya. Sang ayah hanya menampilkan senyumnya dan mengangguk sebagai balasannya. Putrinya memang terkadang menjadi seorang yang pelupa dan memberi alasan yang nyeleneh sebagai tamengnya agat tak dimarahi.

" Ya sudah.. Makan dulu, nanti Ayah tunggu diluar, ini rambutnya dirapiin.. Udah besar kok ngga rapian " balas sang ayah yang telah beranjak dari meja makan dan sudah berada dibelakang Liza dengan memegangi rambut putrinya itu yang masih acak adul.

" Iya iya Ayah....Liza makan dulu nanti baru sisiran kok, Ayah siap-siap dulu sana " titah Liza sembari mendengus pelan dan mendorong punggung ayahnya agar menjauh darinya membuat sang ayah terkekeh pelan.

" Iya sayang.. " balas sang ayah melenggang dari posisi Liza dengan kekehannya yang masih terdengar jelas.

Liza kembali melanjutkan acara makan paginya yang sempat tertunda karena ayahnya. Orek telor dadar adalah makanan favoritnya di campur dengan kecap manis. Tak lupa memakai cabai yang dipotong kecil sebagai penyedap rasanya. Bukan Liza yang masak, gadis itu tak mungkin bangun sepagi itu hanya untuk memasak sarapan paginya. Baginya, jika tak ada sarapan pagi lebih baik ia beli nasi rames di kantin sekolahannya.Buat apa ribet?

" Non Liza, Pak Gerald telah menunggu e-Non di luar, buruan ya Non.. " panggil seorang wanita dengan cepol rambutnya dan pakaian daster seadanya, perawakannya gemuk. Terlihat menetralkan napasnya yang tersengal-sengal mungkin berlarian saat menghampiri Liza.

3 SyndromStories to obsess over. Discover now