Berlatar waktu tahun 2030
Fyuhh, akhirnya selesai juga semua deadline. Yeah, It's time for holiday and I'll comeback really soon Indonesia!
Menyelesaikan semua deadline membuat ku bisa bernapas lega dan memutuskan untuk berbaring di atas ranjang sembari memandangi langit-langit ditemani backsound dari rintik hujan dan dentingan jam yang mampu menyeret ku masuk ke dalam kenangan 10 tahun silam.
Ah, sial! Aku kembali mengingatnya. Ujarku pelan.
Aku memejamkan kedua mata dan mengingat kejadian demi kejadian yang pernah ku lewati sejak duduk di bangku SMP, sebelum Nadin mengejutkan ku dengan teriakan histeris yang khas karena kecemprengannya yang hampir mencapai 4 oktaf.
"AAAAAAAAA" Teriak Nadin diikuti jingkrakan yang membuat ku beranjak dari ranjang dan terpaksa menghentikan memori yang terputar di otak mengenai orang masa lalu yang sedang ku rindukan.
"Ada apa sih Nad?" Tanyaku terheran-heran.
"MAY AKHIRNYA HERR BRAU KASIH KITA TICKET PESAWAT LENGKAP DENGAN KAMAR HOTEL GRATISSSSSSSS" Kata Nadin excited.
Aku yang awalnya sebal dengan Nadin karena mengganggu ku saat sedang bernostalgia, mulai melotot dan membuka mulut dengan sangat lebar a.k.a speechless.
"Lo gak lagi bercanda kan? Jangan-jangan lo salah baca email" Tanyaku meragukan pernyataan yang dilontarkan Nadin beberapa menit lalu.
"Astaga ngapain juga gue bercanda beginian sih May. Sini liat email dari Herr Brau dengan mata kepala lo sendiri!" Kata Nadin menarik tangan ku dan menunjukkan email Herr Brau yang tertera di layar Macbook miliknya.
Aku pun mulai membaca email dengan teliti dan melontarkan pertanyaan yang masih saja menunjukkan ketidakpercayaan dengan hadiah yang diberikan oleh Herr Brau "Ini kita gak lagi mimpi kan?"
Nadin yang gemas melihat reaksi ku langsung mencubit pipi dengan perona berwarna peach, milikku.
"Aduh, sakit tau Nad" Jeritku.
"You can know so well May, right? This is real not just a dream or hallucination!" Kata Nadin semangat dengan wajah ekspresif miliknya.
Aku sangat senang atas kesempatan yang ku dapat dari Herr Brau untuk melakukan trip perjalanan ke Jerman sebagai reward dari pekerjaan yang telah ku selesaikan bersama Nadin, meskipun disana aku tidak sepenuhnya liburan. Yups, aku juga akan tetap melakukan riset untuk pekerjaan ku. No hassel, at least aku bisa refreshing dari kejenuhan kota metropolitan Jakarta yang saat ini sudah tidak menjadi ibu kota Indonesia. Selain itu, aku berharap trip perjalanan ke Jerman ini mampu mengubah sudut pandang ku tentang sebuah hubungan termasuk dia.
Dia merupakan tokoh masa lalu favorit dalam hidupku dan akan selalu memiliki tempat dalam hatiku yang tidak akan bisa terganti oleh siapapun. Membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa berdamai dengan semua kenyataan pahit ini. Sudah saatnya bagiku untuk menjalani hari dengan situasi, kondisi, dan lokasi yang berbeda. Berlin, aku sangat berharap keajaiban kota mu mampu mengubah cara pandang ku terhadap seseorang di masa lalu dan mampu mempertemukan ku dengan seseorang yang bersedia menjadi healing person for myself dengan suka cita -batinku.
____________ SEMINGGU KEMUDIAN ___________
● MAY ●
Nad, lo beneran gak jadi berangkat? Tanyaku melalui telepon.
Iya May, hati-hati ya di Berlin. Tolong sampaikan maaf gue ke Herr Brau. Jawab Nadin.
Oke, pasti gue sampaikan ke beliau. Yakin nih, gak mau ikut? Berlin udah di depan mata nih Nad. Ujarku.
Bawel banget sih lo hahaha. Kalau ada cogan Berlin jangan lupa bungkusssssss buat gue. Goda Nadin
Enak aja, gak bisa. Buat gue sendiri aja hahahaha. Tolakku dengan tawa renyah.
Hm dasar fakgel lu ye. Udah sono lu siap-siap, 15 menit lagi kan udah boarding. Kata Nadin dengan logat Betawi nya yang aneh tapi kocak.
Yaude, gue matiin dulu yeee. Babayyy nenek sihir. Jawabku diiringi ledekan dan langsung mematikan saluran telepon.
Setelah menutup saluran telepon dan sudah menemukan seat number, aku juga mendapatkan welcome drink karena Herr Brau membelikan tiket pesawat kelas Eksekutif. Jangan ditanya lagi, aku pun sangat senang akan hal itu.
Tidak lama setelah aku duduk datang seorang pria bertubuh tinggi menggunakan kacamata hitam, kemeja putih dengan 3 kancing teratas dibiarkan sehingga terlihat dadanya yang bidang dan kekar, kemudian lengan kemeja dilipat menjadi 3/4 berpadu celana jeans coklat lengkap dengan belt hitam dari brand ternama membuat lelaki tersebut terlihat semakin keren dengan semi formal outfit yang dikenakannya.
Siapakah lelaki itu? Apa alasan Nadin tidak jadi ikut berangkat? Tunggu kelanjutannya ya dear, see you 🤗♥️
YOU ARE READING
HI(M)AY
Teen FictionHI(M)AY berasal dari HIM yang berarti dia lelaki dalam bahasa Inggris dan juga MAY nama panggilan tokoh perempuan dalam cerita. Menceritakan tentang suatu kisah pengalaman yang menjadi sebuah siklus dalam kehidupan, dimana setiap individu selalu men...
