Prolog

45 6 1
                                        

Tinggal di tengah hutan dengan minimnya segala akses keluar masuk dan kebutuhan sandang pangan tak membuat Nenek Marni dengan cucuknya-Neela berkeluh kesah. Bagi tinggal di tengah hutan adalah pilihan terbaik dari pada harus tinggal di tengah perkampungan penduduk yang selalu menyalahkan mereka akan segala kesusahan yang para penduduk alami.

Kelahiran, kematian dan rezeki adalah mutlak Allah yang menentukan. Bukan karna nasib atau takdir seseorang, pilu bagai tersayat pedang apabila Nenek Marni mengingat kejadian 18 tahun lalu yang menimpa keluarga Nenek berusia 80 tahun itu. Anak perempuannya harus meregang nyawa pasca melahirkan. Pendarahan hebat yang tak bisa dihentikan membuat Nenek Marni harus ikhlash menerima keadaan yang menimpanya.

"Bu Marni, pendarahan nya begitu banyak nihil untuk bisa menyelamatkan anak ibu." Bidan paruh baya lengkap dengan pakaian putih bercampur percikan darah sebagai penambah motif di bagian perut sampai lutut keluar kamar dengan tergopoh menghampiri seseorang wanita di depan pintu.

"Bu Bidan tulung selamatkan anak saya." Pinta wanita tersebut sambil memegang tangan bidan yang masih terpasang lengkap sarung tangan putih berubah warna merah.

"Ibu!" Panggil pasien dari dalam ruangan dengan suara ringkih menahan rasa sakit.

Merasa dipanggil, wanita tersebut tergopoh masuk kedalam kamar pasien menemui sang anak yang terkulai lemas karna pendarahan yang dialaminya, dilihatnya bayi mungil berwarna merah terbaring di ranjang khusus bayi dengan tenang. Disentuhnya pelan pipi chubby sang bayi agar ia tak terusik. 1 tetes air mata kebahagiaan meluncur dari mata sang wanita melihat cucunya telah terlakhir dengan selamat ke dunia. Beberaapa detik kemudian netranya melihat sang putri terbaring lemas di atas dipan peasakitan dengan wajah pucat setelah melahirkan sang anak.

"Dalem ndo?" Tanya wanita yang di panggil 'Ibu' memfokuskan membantu sang putri untuk mencari posisi duduk yang nyaman. Tangannya terulur menggapai tangan wanita berwajah pucat tersebut sembari memberikan senyum indah untuk menguatkan sang putri.

"Lihat ndo, anak mu sudah lahir. Dia perempuan, cantik kayak kamu." Tunjuk sang wanita kepada ranjang bayi berwarna biru. Air mata kebahagiaan kembali meluncur indah di pipi sang ibu. 2 wanita yang bergelar 'Ibu' dengan usia yang berbeda itu merasakan kebahagiaan yang Allah berikan melalui kelahiran sang bayi.

"Bu, Ratmi sudah tidak kuat. Ratmi titip anak Ratmi, jangan biarkan anak bernasib sama dengan Ratmi. Ratmi ingin anak Ratmi bahagia." Suara desisan menahan rasa sakit membuat wanita bernama Ratmi menjeda kalimatnya. Sang ibu yang masih shook mendengarkan penuturan sang anak membeku seketika. Pikirannya bercabang sehingga tak dapat menangkap perkataan perpisahan dari sang putri.

"Neela Aqlaya Andyarani 'Safir biru yang bercahaya dalam kegelapan'. Ku harap kedepan ia akan menjadi anak yang bersinar terang bahkan dalam keadaan yang sulit sekalipun. Menjadi perempuan yang hebat dalam kedaan apapun. Safir di anggap batu biasa yang tak berguna bagi orang awam, namun ia akan begitu berharga bagi orang-orang yang tahu seberapa bernilainya Safir." Dipandangnya lekat bayi yang tertidur pulas di ranjang bayi. Perlahan ia bangkit menghampiri ranjang bayi, tangannya terulur menyentuh pipi chabby sang bayi. Kecupan hangat mendarat sempurna di wajah sang bayi yang baru dilahirkannya.

"Kamu kuat ndo, kamu harus bertahan demi anak mu iki. Kita bisa hidup bersama, jangan berpikir yang aneh-aneh. Kamu istirahat saja yah? kamu cuman kelelahan habis melahirkan ndo." Setelah menghapus kasar air mata yang lancing turun dari pipi, Marni-ibu dari Ratmi membantu sang putri untuk kembali beristirahat di dipan pesakitan.

"Bu, keluarga mas tidak akan bertanggung jawab pada Neela. Ratmi mohon, ibu rawat Neela supaya massa depan Neela terjamin. Ratmi pamit ya bu, maaf selama ini membuat ibu kesusahan." Senyum tersungging indah di wajah pucat Ratmi. Diangkatnya pelan tangan keriput sang ibu, kecupan hangat tercetak di punggung tangan dan telapak tangan sang ibu.

Tes...

Air mata mengalir tanpa izin di pipi Marni melihat anaknya yang memulai membaca syahadat dan memejamkan matanya dengan senyuman indah kembali menghiasi wajah pucat Ratmi. Perpisahan singkat seorang wanita dengan putrinya dan perpisahan singkat seorang wanita kepada ibu nya. siapapun yang melihat perpisahan singkat itu, akan berakhir tangis dan menggores luka di hati yang entah sampai kapan luka itu akan sembuh.

Berpisah antar kota, berpisah antar provinsi, berpisah antar negara, bahkan berpisah antar benua adalah sebuah perpisahan tempat dan waktu yang suatu saat akan kembali berjumpa dan memeluk sapa. Namun, perpisahan antar Alam? Siapapun akan merasa pedih bila seseorang yang kita sayangi pergi mendahului kita. Ketika 2 jasad dipisahkan dengan 2 alam yang berbeda, dan hanya doa penyatu kerinduan yang mengalir deras di dalam kalbu. Namun ini lah kenyataan takdir, bila ada perjumpaan maka kita harus siap untuk adanya perpisahan. Siap akan adanya kebahagiaan maka harus siap akan datang nya sebuah kepedihan.

🍁🍁🍁

NEELAWhere stories live. Discover now