"Lyscha, sabtu main kuy!!" Lyscha yang sedang menulis, meletakkan penanya.
"Sorry, dah ada janji. "
"Janji sama pacar lo, lagi? Gila, lo sama pacar lo gak bisa dipisah, ya?" heran Dinda.
"Tapi lo sampe sekarang gak pernah kenalin pacar lo ke kita. Kenalin, dong! " ujar Lisa diikuti anggukan Dinda.
"Ntar luat sikon. " Lisa dan Dinda terlihat kecewa.
"Lo pasti punya fotonya. Liat fotonya aja, deh! Gue penasaran bat." ucap Lisa tak hilang akal.
"Dia gak suka difoto, jadi gue gak punya. " Lyscha menjawab tetapi matanya ke arah lain. Tersenyum.
"Gaes, gue keluar dulu, ya? Tuh, Jessi nyariin. " pamitnya sambil menunjuk sahabatnya.
"Wooke" Dinda menjawab dengan jempol.
Lyscha pun pergi, tapi samar-samar dari belakang terdengar "Si Icha itu bohong. Gue gak percaya dia punya pacar. "
*****
"Gila, dua cabe itu berubah jadi detektif, Jes. " ucap Lyscha saat keduanya berada di atap.
"Lah?"
"Nanyanya gak pake koma, detik menit disa gue nambah terus."
"Yaiyalah... Lo jawabnya bohong mulu. "
"Gue juga gak mau jadi Pinocchio yang banyak bohong... Ntar kena karma hidungnya jadi nambah panjang."
"Terus lo kenapa tetep bohong?"
"Tapi di era zaman now, gak gaul kalo gak pacara. Setiap sekon bahas pacar mulu. Seakan hidup tergantung sapa pacar lo. "
"Kenapa lo gak nerima seseorang yang nembak lo, kan banyak tuh. Gak perlu pusing." saran Jessi
"Ntu, masalahnya saat gue ditembak gue lupa butuh namanya 'PACAR'." Lyscha teriak dikata terakhir.
"Ya nanti gue ingetin, Cha. BIAR GAK LUPA APA YANG LAGI LO PUSINGIN!!! " Lyscha hanya terkekeh pelan mendengar Jessi menekan kalimat terakhirnya.
"Btw, tadi lo ngobrolin apa sama dua cabe?" tanya Jessi.
"Biasa bahas tentang-" Lyscha tak melanjutkan perkataannya.
"Tentang apaan? " bukannya menjawab Lyscha menggenggam tangan Jessi.
"Foto" Lyscha tersenyum.
"Yang jelaas dong! Gak paham gue."
"Gue butuh foto cowok. Dan nanti kalo ditanya gue bilang ntu cowok gua." ucap Lyscha kepada Jessi dengan mata memelas.
"Lo mau foto pacar gur. Gue punya banyak. " tawar Jessi membuat Icha memayunkan bibir.
"Iiih, Essi sayang. Essi kira kucing di sekolah ini gak tau si Rendi?" Jessi tertawa melihat sahabatnya kesal.
*****
"Seperti bayangan gue, pacar lo perfect!!" Komentar Lisa saat ku perlihatkan foto kemarin.
"Murid sekolah A,ya? Pasti pinter." Ucap Dinda melihat seragam yang melekat pada cowok itu.
"Kok tau? Gue sm dia sering belajar bareng, tapi sebenarnya dia yang ngajarin gue"
"Gue moto ini tuh diem-diem. Jadi lo dua percaya gue punya pacar?" Aku tersenyum kemenangan melihat dua Cabe mengangguk.
"Btw, gue gak pernah denger nama pacar lo? Namanya sapa,cha? " selidik Lisa membuat ku membuang napas kasar.
"Iya juga ya, Lis. Baru nyadar gue, kalo bahas dia lo nyebut dia mulu gak pake nama"
"Lisa, Dinda!! Duduk dibangku masing masing." Perintah ketua kelas
Aku tersenyum tipis, Lisa dan Dinda mengikuti instruksi ketua kelas menuju bangkunya . Tapi..
"Murid-murid. Kita kedatangan murid baru" ucap Bu Gita yang kemudian keluar dan kembali bersama murid baru yang tinggi.
Lisa dan Dinda menoleh ke arahku. Isyarat 'itu pacar lo kan?'.
"Gimana ini, cowok depan sama di foto mirip malah kayaknya persis." Gerutuku, menutupi wajah dengan buku.
Tapi saat ku letakkan buku, sosok itu hilang. Aku menghela napas lega.
"Mimpi kayaknya lo, ca. Bangun ngapa!" Aku menepuk pipi.
Kubuka buku tulis, mencatat apa yang ada dipapah tulis. Echa, fokus belajar!!
