Berbenah

2.1K 59 2
                                        

Tertatih. Tanpa pernah berlatih. Saat memar ini membuatku merintih. Mungkin tak kan sebanding dengan hatimu yang menangguh perih.
Gadisku. Maafkan aku. Mungkin hatiku sekeras batu. Yang mampu melukaimu. Kuharap kau kan tahu semua alasanku. Aku terpaksa begini cara memperlakukanmu. Tanpa begini melupakanku kau tak kan mampu.
Jujur rasaku tak pernah hilang. Aku begini bukan karena tak cinta dan tak sayang. Ku harap kau sudi menungguku pulang.
“Faiq? Antum kenapa?” Kekhawatiran jelas tergaris di wajah sahabat asramaku, Ahmad. Namun aku tak menjawab. Terus saja meringis merasakan bekas pukulan Rava tadi. “Sebentar. Ana ambilkan kotak obat dulu.” Ujarnya lagi.
Tak mungkin aku melawan. Pada lelaki yang mencintaimu yang juga adalah seorang kawan. Dengan hukuman ini aku telah tertawan. Biar kuterima setiap pukulan. Karena telah berani melukai hati tulus si jelita yang menawan.
“Ini. Obatin.” Ujar Ahmad.
“Jazakallahu Khair.”
Hening sejenak. Ahmad menatapku prihatin. Hingga ia kembali membuka mulutnya.
“Antum ni habis berantem? Sama siapa? Kenapa sih?”
Aku hanya mengulum senyum.
Aku teringat dengan pepatah guruku itu,
“Yang dilakukan seorang mukmin saat terpikirkan tentang jatuh cinta adalah menyibukan dirinya dengan bersiap dan berbenah memperbaiki diri sebelum dia mampu untuk mmenikah.”
Ya Rahim, ku serahkan gadis yang paling ku cintai pada-Mu.

*****

Sudah tak pantaskah namaku dalam hatimu bersemayam?
“Kalau kamu mau nunggu, ya tunggu. Kalau kamu mau pergi, ya silahkan.”
Mengingat kekatamu buatku terus terdiam,
“Apa Fatimah minta kepastian sama Ali?”
Kedua mataku terpejam.
“Aku gak sayang sama kamu!”
Kalimat itu terus mendengung dan menyayat hati begitu tajam,
“Aku benci kamu, Diana!”
Air mataku memang kering sudah. Walau luka ini kian parah.
“Di, lu mau sampai kapan gini terus?” Tanya Rava yang nampak prihatin dengan keadaanku.
Aku diam tak bergeming. Emosi Rava seperti terpancing lagi.
“Bodoh! Lu bisa mati kalau terus-terusan gini!” Ujarnya lagi.
Aku tetap tak bergeming.
“Dan kalau lu mati, Faiq pun harus mati!”
Dengan lemah aku menatap Rava. Entah mengapa hatiku masih tak rela jika ada yang menyakiti Faiq.
“Apa sih, Va? Gua cuma butuh waktu. Lama-lama gua terbiasa kok.” Jawabku pada akhirnya. Dia terdiam sejenak.
“Ya udah. Asalkan pada akhirnya lu bisa bangkit lagi. Dan lupain si Faiq.”
“Satu hal lagi, Rava.”
“Apa?”
“Gua gak mau denger nama itu lagi.”
Rava hanya mengangguk, lantas menjawab, “Gua janji lu bakal lupa sama dia.”
Sejak itu lah, lembaran kehidupan yang baru ku mulai. Menutup lembaran lama. Buku tentang Faiq yang telah ku tulis betahun-tahun lamanya.
Entah apa yang akan terjadi esok hari. Hanya untuk saat ini, aku berharap tak ada Faiq dalam buku baruku.

*****

Bertahun lamanya dia ada saat siang dan malam. Tinggal dalam palung hati terdalam. Lama sekali dia bersemayam. Kini dia hanya menangis dalam diam. Dan aku tak lagi disinya untuk meredam. Aku pun di sini sendiri bersama luka yang ku pendam.
“Lalu gimana, Nak?” Tutur Abi di sebrang Nusantara.
“Ya udah, Bi. Sekarang Diana gak ada lagi. Faiq bisa fokus dengan kuliah Faiq. Dengan karir Faiq.” Sahutku.
“Syukurlah, Nak, kalau begitu. Abi harap kamu disibukkan dengan memperbaiki diri.”
Memperbaiki diri...
Bulan ke bulan terlah berlalu. Luka yang kian menjadi sembilu. Hanya tesisa senandung nada yang pilu.
Diana, aku rindu.

*****

Hanya saja, entah mengapa, kini aku lebih suka menyepi.
“Di, ini perasaan gua aja atau lu emang jadi pendiem?” Tutur Rava sore itu. Aku hanya diam. Tak bergeming. “Lu masih mikirin Faiq?” Aku menatap lurus matanya.
Monik dan Tamara hanya saling melempar pandangannya satu sama lain.
“Gua juga liat lu kehilangan fokus, Di.” Timpal Monik.
Entahlah. Tak pernah kusangka, kehilangan Faiq berarti kehilangan diriku sendiri juga. Ah. Jangankan kau, Rava. Diriku sendiri pun tak lagi mengenali siapa Diana.
“Gua mau ke toilet dulu, Va.”
Memang benar. Aku hanya butuh waktu. Meski aku sempat jatuh. Pada awalnya aku bangkit dengan tertatih. Kini aku telah berlari lagi.
Di dalam toilet, seperti biasa, siapa yang masuk pasti bercermin.
“Sini, sini, nak.” Ujar seorang ibu pengguna toilet di sampingku kepada putri kecilnya yang berlarian menuju pintu keluar. “Hei, sini, sayang. Tunggu bunda.” Lantas bocah itu kembali pada ibunya.
“Bunda kenapa lama?” Ujar anak itu begitu menja.
“Iya. Bunda mau rapiin kerudung bunda dulu.” Jawabnya, “Sini, kamu duduk dulu.” Ujarnya lagi sembari mendudukan putrinya dekat wastafel untuk cuci tangan itu.
Ada yang menarik perhatianku. Wanita ini mengulurkan jilbabnya. Dengan dibalut gamis. Kerudungnya pun panjang sekali. Menutupi dada, punggung hingga perutnya. Juga dilengkapi kaos tangan menutupi hingga pergelangan tangannya.
“Bunda, kenapa aku harus pakai kerudung?” Tanya anak yang mungkin berbilang empat tahun itu.
“Karena Allah yang suruh.” Jawab ibunya.
“Kenapa Allah suruh?” Gadis kecil itu mendongak manja. Sang ibu terus saja merapikan kerudung putrinya.
“Karena Allah sayang. Kamu ini cantik. Allah gak mau kecantikan kamu ini bikin kamu jadi diganggu orang.” Tutur sang ibu.
“Lalu memangnya kenapa aku harus menurut perintah Allah?” Si ibu tersenyum, lantas menjawab,
“Karena kamu Maryam. Kamu harus selalu ingat ini. Nama kamu Maryam. Yang artinya adalah pelayan. Kamu adalah pelayannya Allah. Dan sebagai seorang pelayan, kamu harus menurut apa yang dikatakan tuannya.”
“Kalau gitu, bunda bukan pelayan Allah? Nama bunda kan Asiyah?” Tanya sang gadis. Sekali lagi bundanya tersenyum.
“Sejatinya, semua hamba adalah pelayan. Ayah sama bunda kasih kamu nama Maryam, biar kamu selalu inget siapa diri kamu sebenarnya.”
Selesai dengan urusannya, ibu itu keluar bersama anaknya.
Lewat ibu dan anak itu tentu mengajariku dua hal.
Kulihat bayangan diriku pada cermin. Payah. Pakaianku masih menunjukkan lekuk tubuhku walau sudah rapi dan berkerudung. Ini belum cukup. Kerudungku masih belum menutupi dada. Aku perlu tahu seperti apa pakaian yang diperintahkan-Nya untuk aku kenakan.
Saat ini aku tengah kebingungan, seperti kehilangan jati diri. Lupa akan siapa sejatinya diri ini. Apa yang harus dilakukan. Saat Faiq pergi. Lalu siapa yang tak pernah meninggalkanku selama ini?
Allah.
Dan aku, adalah pelayan-Nya harus harus setia mengabdi pada-Nya.
Aku adalah seorang hamba. Aku adalah seorang pelayan.

______________________________________

Assalamual'alaykum temen-temen!
Kisah ini kembali. Ikuti terus yaa. Jangan lupa vomment. Makasiiih
😆😆

Fatimah di Akhir Zaman 2Stories to obsess over. Discover now