We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Jodoh orang lain

58 0 0
                                        

Rania POV

Aku tak tahu perasaan apa ini, tapi kalimat itu terasa sejuk dan menyentuh.
" Sholat yuk "
Manik matanya bertemu dengan tatapanku,  lembut nan sejuk.
Sejak pertengkaran ku dengannya minggu lalu, aku hanya mendiamkannya, sama sekali tidak lucu,  aku denganya bertengkar karena berebut tempat print.  Ia adalah Tian, rekan kerjaku disebuah sekolah, dia orang yang mengesalkan sekali bagiku karena sikap ikut campurnya dan ke kepoan yang parah, terus terang aku tak suka senyum nakalnya dan entah mengapa saat ini senyum itu yang tiba-tiba ku rindukan. Ngomong apa sih aku ini,
Rania mengeleng-gelengkan kepala mencoba membuyarkan angan sesaat nya. Dia yang menjengkelkan itu Pak guru Bastian namanya, gak match banget nama dan gelar, kembali ketatapan bengong ku, dia tertawa pelan " Diajak sholat kok bengong"
Terlalu lembut batinku untuk ukuran Tian yang biasanya selengean.
Anggukanku mengartikan kami harus berdamai.
~
Aku dan Tian masuk kerja di tahun yang sama, saat itu kami sama-sama single, aku yang saat itu berumur 23 dan Tian berumur 28, karena kami dilingkup sekolah maka tak butuh waktu lama untuk acara perjodohan, jadi ada budaya, dikalangan guru sekolah kami mengajar, bagi yang single itu secepatnya dicarikan jodoh, tapi jangan berfikir kalau "Mereka" atau bisa dibilang "Para senior"itu akan menjodohkan kami berdua, tentu big NO, karena sejak awal kami memang tidak cocok. Setiap bertemu, entah apa ada saja yang membuatku semakin ilfeel, mungkin itu juga yang ia rasakan padaku.

_Siangitu_

Tentu saja tanpa basa-basi kucomot kue  bolu yang sudah menggoda didepan mata, dan terdengar riuh bersambut,
" Selamat ya Pak Tian, sebentar lagi lepas lajang"
Whaaaat....
Tenggorokanku gak bisa diajak kerjasama, bolu yang semula yummy banget, kenapa jadi nyereti begini sih.
Tian menyodorkan segelas air putih padaku dan air putih ternyata tidak membantu, batukku semakin menjadi, kudengar suara teman-teman yang sayup-sayup menghilang
" Loh loh mis Rania kenapa? "
Ran... Ran...ran

Kudapati aku sudah di bed pukesos (Pusat kesehatan sekolah)

Saat kesadaran ku mulai pulih, kulihat Tian, Bu Amel dan pak Dwi sudah terlelep disofa, oh ... so sweet mereka menungguiku, tapi jangan bayangin kalo mereka benar-benar menungguku, yang kulihat banyak bekas kacang berserakan yang aku tahu berarti mereka ngemil dan habis bersenang-senang, suudhon banget sih Rania, paling tidak aku sudah hafal betul dengan sifat sahabatku bertiga ini, tiba-tiba ditengah senyuman ku ini, aku merasa getir itu mulai merayap, ya...
Mereka sahabatku tanpa terkecuali Tian, mengapa ruangan ini jadi pengap ya.. dan air mataku sudah diujung, apa yang sebenarnya aku rasakan, apa juga ini.

Tian pov

Aku terbagun dari tidur singkat ini, kudapati Rania sudah sadar, aku melihat air di pelupuk matanya, apakah yang ia rasakan, apakah ia masih merasakan sakit karena alergi sialan itu, yang mungkin ia sendiri tidak tahu kalau ia sedang alergi abon seafood, tapi setelah kuamati, kurasa bukan itu ...
Entah mengapa aku jadi perduli, dan untuk apa aku harus perduli kalo itu bukan alergi melainkan kesedihan, tapi kenapa Rania sedih. Tatapan kami terkunci.

"Kamu gimana, sudah baikan?" Tanyaku mendekatinya, dia hanya mengangguk, kenapa mendadak jadi pendiam si ni anak, biasanya ratu bawel seplanet, kenapa dengan anggukan itu, yang sulit aku mengerti, hatiku jadi ikut kebas.

Sore itu

" Rania biar aku antar, kalian pulang dulu gak papa sudah sore " kataku pada bu Amel dan pak Dwi, mereka setuju saja mungkin karena capek dan mereka punya anak kecil kasihan juga kalau harus menunggu Rania pulih, kami bertiga dekat sejak kami diterima masuk kerja di tahun yang sama, kami masih sama-sama muda juga jadi membuat kami cocok untuk ngobrol.

Rania sudah berada di kursi penumpang sebelah ku, aku mulai menjalankan mobil tanpa tahu harus memulai dari mana percakapan kami. yang ada aku diam, dan diapun ikut diam.

Perjalanan yang harusnya singkat, jarak rumah Rania harusnya hanya 20 menit dari sekolah tapi jadi lamaaaa banget karena kecanggungan kami berdua.

Setelah sampai depan halaman rumah, aku pamit pada Rania, lagi-lagi mata kami beradu pandang, seketika waktu seakan berhenti, dan mungkin tak akan berjalan kembali sampai, drrrt drrrt terdengar getar poselku, entah Rania sempat melihat nya atau tidak tertera nama Mira tunangan ku.

Mira

Rania Pov

Drrrt drrrt, bukannya aku kepo tapi tanpa sengaja manik mata ini tertuju pada layar posel Tian, Mira oh Mira siapakah dia, apa dia nama tunangan Tian, dan Tian bergegas pamit. Baiklah ...
Aku terjebak dalam perasaan sedih yang kuciptakan sendiri, tanpa tahu bagaimana menghilangkannya. Apakah ini yang dinamakan layu sebelum berkembang, kalah sebelum berperang, atau belum nembak sudah ditolak, duh sedihnya novel cintaku.

Price of heartStories to obsess over. Discover now