Di kediaman keluarga Pratama
"Pah, aku ngga mau nikah sama dia. Pleas, ini udah bukan jamannya Siti Nurbaya. Masa aku harus di jodohin sih? Aku juga ngga kenal dia siapa,"
"Lauren, dengerin kata Papah! Kalo Papah bilang iya, kamu harus mau. Ini demi bisnis keluarga kita!!"
"Pah, emang Papah ngga mikirin gimana perasaan aku? Papah itu egois, cuma hanya mikirin harta,harta dan harta. Ngga pernah mikirin aku."
"DIAM LAUREN!! Papah lakukan ini juga demi masa depan kamu sama keluarga kita. Papah jamin, kamu bakalan bahagia nikah sama Dion. Dia itu anak sahabat Papah dari kecil, dari keluarga terpandang. Dan kamu juga pasti akan terjamin hidupnya sama dia."
"Terserah Papah, pokoknya aku ngga mau. Dan ngga Sudi, nikah sama orang yang ngga aku kenal sama sekali."
"Kalo kamu ngga mau turutin kata Papah, angkat kaki dari rumah ini. Dan jangan pernah kembali lagi ke sini, dan ingat, PAPAH NGGA AKAN NGAKUIN KAMU SEBAGAI ANAK PAPAH!!!"
"Oke fine."
Lauren berjalan menjauh dari Pratama menuju kamarnya.
Sementara Sussy, Ibu Lauren. Hanya bisa menangis mendengar pertengkaran antara suami dan anak tunggalnya.
"Pah, gimana kalo Lauren beneran pergi?" Sussy terisak.
"Tenang aja, dia ngga bakalan pergi. Toh, selama ini dia juga sudah terbiasa hidup enak, mewah. Pasti dia ngga akan bisa hidup tanpa kita, kamu tenang aja."
Sedangkan Lauren, dia sedang mempacking barang-barangnya. Dia akan benar-benar keluar dari rumah ini, dari pada harus menikah dengan orang yang sama sekali dia tidak kenal.
Serasa cukup, dia keluar dari kamar untuk segera pergi dari rumah ini. Sebelum keluar dari kamarnya, dia menatap pilu ke dalam kamar.
"Gue bakalan kangen banget sama kamar ini. Lauren pleas, lo harus bisa." Pikirnya.
Dia menghembuskan nafas sejenak dan turun kebawah dengan membawa kopernya.
Di bawah, Pratama dan Sussy masih menunggunya di ruang keluarga. Lauren berjalan lirih ke arah mereka.
"Sayang, kamu mau kemana?" Tanya Sussy.
"Maaf Mah, aku mau pergi di sini. Aku udah ngga betah tinggal disini lagi, aku juga ngga mau terus-terusan jadi bonekanya Papah." Jawabnya.
"LANCANG KAMU YA!!" Marah Pratama.
"Emang bener kan Pah? Selama ini, aku selalu ngikutin semua keinginan Papah, tapi untuk keinginan yang satu ini. Maaf Pah, aku ngga bisa. Mending aku keluar dari rumah ini."
"Kamu yakin, kamu bisa hidup di luar sana tanpa bantuan Papah? Paling juga 2 sampai 3 hari lagi, pulang." Sinis Pratama.
"Aku bisa buktiin sama Papah, kalo aku bisa hidup tanpa bantuan Papah. Dan ini, semua kartu kredit dan ATM aku, sekaligus kunci mobil. Aku balikin ke Papah, dan aku cuma minta satu sama Papah. Tolong jagain Mamah, jangan sampai dia sakit." Kata Lauren dengan menyerahkan beberapa kartu dan juga 3 kunci mobil ke Pratama.
"Sayang, kamu beneran mau pergi? Emang ngga bisa di bicarakan baik-baik, Mamah ngga bisa hidup kalo ngga ada kamu. Pleas, jangan pergi ya." Bujuk Sussy.
"Maaf Mah, aku ngga bisa. Aku harus pergi, Mamah jaga diri baik-baik ya. Aku janji sama Mamah, aku pasti pulang dengan membawa kabar baik buat Mamah, dan aku akan pulang kalo aku sudah menjadi orang sukses. Mamah doain aku ya." Ucap Lauren, dan memeluk Sussy.
"Jaga diri kamu baik-baik ya, pintu rumah ini akan selalu terbuka buat kamu. Dan ini, Mamah kasih kamu kartu ATM Mamah, terserah kamu, mau dihabiskan atau enggak." Kata Sussy dengan memberikan kartu ATM miliknya.
Lauren tersenyum dan menolak pemberian Sussy. "Ngga usah Mah, Mamah simpan aja. Kalo gitu, aku pergi dulu ya Mah. Jaga diri baik-baik, jangan sampai telat makan."
Lauren keluar dari rumah Pratama, Sussy hanya bisa menangis melihat kepergian Putri semata wayangnya itu.
"LAUREEENNNNN." Teriak Sussy. Namun tubuh Lauren, sudah menghilang di balik gang komplek.
#AuthorCurhat
Gimana sama ceritanya guys? Menarik kah? Atau malah sebaliknya?😞
Jangan lupa vote and coments ya😂😂
YOU ARE READING
Tak Kenal Maka Tak Sayang
RandomLAUREN, GADIS CANTIK YANG BARU SAJA LULUS SMA. DIA TERPAKSA DI JODOHKAN OLEH KEDUA ORANG TUANYA, KARNA BISNIS. NAMUN LAUREN SAMA SEKALI TIDAK MENGENAL SIAPA LELAKI TERSEBUT, AKHIRNYA LAUREN MENOLAK PERJODOHAN ITU. PERMINTAAN LAUREN DI BANTAH MENTAH...
