I

92 8 0
                                        


🌫

"Jov, charger handphone aku dimana?!", tanya Orva sambil membongkar semua isi dalam tas nya.

Rumah Jovial selalu menjadi basecamp tempat mereka mengerjakan tugas atau hanya sekadar main. Yang Orva heran, manusia seperti Jovial Faeyza yang —ya bisa dibilang abstrud, tapi Jovial selalu memiliki kamar yang rapi pun wangi. Orva sebagai perempuan merasa kalah oleh Jovial.

Berbeda dengan Jovial, Aksa Bagaskara—si mulut setan. Manusia cuek, berkaca mata dan—— berbehel. Entah apa yang membuat Aksa masih memakainya, sebab dulu ia bilang hanya untuk merapikan gigi.

Menurut teman-temannya, Orva Yovanka adalah manusia paling beruntung. Katanya, Orva berteman dengan most wanted nya sekolah. Mereka tidak tahu saja dibalik 'ganteng nya' Jovial dan Aksa.

Orva terus mencari charger nya, berharap masih ada. Yang ditanya masih sangat santai duduk dan menyatakan bahwa ia tidak tahu. Padahal jelas-jelas Orva melihat Jovial mengambil dari tas nya.

Melihat itu, Aksa mengeluarkan chargernya dari hoodie yang ia pakai dan menyodorkannya pada Orva. Perempuan itu dengan cepat meraihnya "Makasih", ucapnya dengan tersenyum. Aksa tidak merespons sama sekali, ia fokus kembali dengan buku yang ia baca.

"Heh Jovial! Kalau charger aku hilang, kamu yang ganti", ucap Orva memukul tangan kiri Jovial.

"Tuh yang Aksa ada", jawab Jovial santai menunjuk charger Aksa yang dipakai oleh Orva. Aksa hanya melirik Jovial dengan tajam, "nggak bos, bohong", ucap Jovial.

Mendengar itu, Orva teringat pertama mereka kenal. Dulu, saat mereka baru memasuki SMP dan sedang dalam masa pengenalan lingkungan sekolah, Orva hanya mengenal Aksa— duduk satu meja dengan Aksa. Orva terus berbicara kepada Aksa, namun Aksa masih diam tanpa membalas Orva. Tapi Orva tidak pernah lelah dengan Aksa, hingga akhirnya datang satu laki-laki kedalam kelas Orva. Yang lebih lucu dari sikap nya adalah——Jovial ternyata sala masuk ruangan. Sumpah, saat itu pertama kali Orva melihat Aksa tersenyum.

Tidak ada tempat yang kosong, hingga akhirnya Orva memutuskan mengajak Jovial duduk di meja nya. Mereka banyak sekali bicara, Aksa yang duduk di apit oleh Orva dan Jovial hanya diam menatap ke depan.

Dengan santai, Jovial mengatakan "dia gak bisa bicara?", pada Orva, Aksa langsung menatapnya dengan tajam. Perempuan itu menahan tawanya agar tidak pecah dalam kelas. Dari situ, Jovial dan Orva terus mengganggu Aksa hingga Aksa terbiasa dengan semuanya.

Aksa selalu bersama mereka berdua meski ia tidak banyak bicara, mengekori mereka ke kantin atau bahkan menunggu mereka di halte sekolah.

Hingga sampai SMA sekarang, mereka tidak bisa dipisahkan. Mereka saling melengkapi satu sama lain, dan hingga orang tua mereka pun terbiasa melihat pemandangan mereka selalu bertiga.

Orangtua Aksa dan Jovial—terlebih Orva pada awalnya khawatir tentang pertemanan mereka, pasalnya—Orva satu-satu nya perempuan. Namun semua pikiran itu mereka pecahkan lewat lima tahun mereka berteman. 

"Jadi inget pertama kita kenal", ucap Orva tiba-tiba.

"Kenapa?", tanya Aksa.

"Waktu itu, pas Jov bilang kamu gak bisa ngomong", ucap Orva tertawa di ikuti oleh Jovial.

"Ya, abis nya lo gak mau ngomong", ucap Jovial. Aksa menutup bukunya, menatap mereka berdua. Ia juga ingat, manusia dua ini mulutnya tidak pernah berhenti.

"Pertama juga aku ngira nya gitu, tapi aku gak berani bilang ke kamu", ucap Orva.

"Sial!", jawab Aksa

"Untung gak gue bilang bisu lo, sa", ucap Jovial.

"Gue kira pita suara gue kalian ambil. Lo berdua juga gak bisa berhenti bicara", ucap Aksa yang langsung mendapatkan pukulan kecil ditangannya dari Orva dan Jovial.

"Sekate-kate lo!", jawab Jovial terus memukul Aksa.

  
🌫

Jovial Faeyza: Manusia gila tapi ganteng

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


Jovial Faeyza: Manusia gila tapi ganteng.

🌫

Hi!

CHARGERStories to obsess over. Discover now